Rabu, 23 Oktober 2019

Genmuda – “Joker” jadi film paling ditunggu bulan Oktober ini. Joaquin Phoenix dipercaya memerankan musuh ikonik dari komik Batman itu setelah mengecewakannya peran Jared Letto di film “Suicide Squad”.

Tapi lo perlu tau bahwa Joker yang satu ini gak ada hubungannya dengan film-film DCEU sebelumnya. Ia muncul sebagai film solo dengan latar belakangan Gotham sebelum kemunculan Batman.

Menyabet banyak penghargaan dan respon positif beberapa waktu lalu sekarang Genmuda.com akan bahas plus0minus dari film karya Todd Phillips ini buat referensi lo sebelum pergi ke bioskop. Kuy!

Ironi kehidupan badut kota Gotham

©WarnerBros./2019

Penonton langsung diajak kenalan dengan tokoh Arthur Fleck (Joaquin) yang bekerja mati-matian sebagai badut untuk merawat ibunya yang sakit. Mulai dari toko musik sampai menghibur anak-anak di rumah sakit harus ia jalani. Jauh dari itu semua ia adalah seorang pria yang punya impian menjadi seorang standup comedian demi menghibur banyak orang.

Di sisi lain Arthur mengalami cedera syaraf di kepala yang bikin ia sering tertawa sendiri saat dirinya tertekan. Inilah yang kemudian membuatnya dicap aneh oleh lingkungannya. Gak sedikit pula orang terdekatnya nge-bully kondisi Arthur.

Setelah dikerjai habis-habisan oleh remaja tanggung saat bekerja, Arthur kemudian dipinjamkan sebuah pistol oleh teman kerjanya sebagai alat perlindungan. Hingga suatu hari ia malah membunuh tiga pengusaha muda yang menindasnya di dalam kereta.

Pembunuhan itu lantas membuat heboh seisi kota karena dianggap sebagai simbol perlawanan atas kondisi kota kian parah jelang pencalonan walikota baru. Kini masyarakat Gotham pun pecah dalam dua kubu, si miskin dan si kaya.

Jahatnya benar-benar alami

©WarnerBros./2019

Aksi Joaquin Phoenix sebagai Joker emang layak diacungi jempol. Lewat gestur tubuh kurus kering serta caranya tertawa sukses bikin penonton ngeri dan terhibur secara bersamaan. Bohong ‘banget’ rasanya kalo lo gak kagum sama kualitas akting aktor 44 tahun tersebut yang TOTAL menjadi Joker.

Pengembangan karakter Joker di film ini juga berhasil dikemas lebih natural. Ia gak tiba-tiba langsung nongol sebagai tokoh antagonis. Ada motif lain yang menyebabkan tokoh ini merasa tertekan dan menuntut keadilan atas dirinya.

Hidupnya yang selalu apes dan dirundung masalah, menjadi awal dari perlawanan akan sistem sosial yang ternyata gak suci-suci banget. Hasilnya penonton bisa aja dibikin simpati meski tindakannya gak seratus persen dibenarkan.

Kehadiran Robert De Niro sebagai Murray Franklin, seorang pembawa acara program televisi, juga berdampak besar pada pribadi Joker. Tanpa perlu banyak gestur atau memaki-maki, ia sukses menjadikan Joker sebagai bahan olok-olokan atas kejadian tragis yang belakangan menimpanya dan sejumlah orang di Gotham.

Setali tiga uang, naskah film yang dikerjakan oleh Todd Phillips dan Scott Silver sekaligus memberikan perspektif baru akan sosok Thomas Wayne (Brett Cullen). Ya, jika selama ini kita cuma tau ayah kandung Bruce Wayne itu tewas bersama ibunya, maka film ini akan lebih banyak mengangkat cerita milyuner tersebut saat ia mencalonkan diri sebagai walikota.

Kendati demikian penulis menilai bahwa film ini gak murni bisa ditelan mentah-mentah sama penonton Indonesia. Isu kekerasan sosial serta plot cerita yang berjalan lambat bisa aja jadi masalah buat lo yang suka ‘skip’ di bioskop. Adapun fakta lain bahwa cerita Joker kali ini bakal lebih nge-feel lagi kalo lo punya sedikit wawasan mengenai Batman.

Kesimpulan

©WarnerBros./2019

Pada akhirnya Joker menawarkan cerita berani beda yang gak bisa lo temuin dalam film-film MCU hingga DCEU sekalipun. Buang deh image supervilian yang punya kekuatan super di kepala lo, karena Joker yang satu ini murni menanamkan kejahatan di banyak kepala orang.

Di Indonesia filmnya tayang mulai hari ini, Selasa (2/10). Penasaran sama review barusan? Buktiin aja sendiri di bioskop. Ciao!

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.