Rabu, 18 September 2019

Genmuda – Final Piala Dunia 2018 berlangsung sesuai harapan para penggemar sepakbola. Pertandingan berlangsung dinamis, banyak drama, dan pastinya banyak gol tercipta. Suka atau enggak, juaranya sempat keteteran.

Prancis ditekan habis pada 20 menit pertama pertandingan. Beberapa kali, umpan lambung Kroasia membahayakan gawang Prancis. Namun, Prancis beruntung karena kesempatan itu gagal dimanfaatin akibat kesalahan penyerang Kroasia. Tendangannya melebar semua.

Giliran 10 menit berikutnya, gantian Prancis yang nyerang. Gak lewat samping kayak Kroasia, tapi lewat tengah mengandalkan umpan dan operan pendek. Berhubung lini pertahanan Kroasia jago, taktik itu jelas gak menjanjikan.

Sampai akhirnya, Prancis dianugerahi tendangan bebas beberapa meter dari kotak penalti Kroasia. Griezmann mencoba peruntungannya lewat tendangan itu.

Gol gak penting Prancis

via thesun.co.uk
Perayaan gol tendangan bebas Griezmann. (Sumber: thesun.co.uk)

Tendangannya gak bisa dibilang umpan karena trajektorinya ke arah gawang. Tapi, gak bisa dibilang sepakan langsung karena tendangan itu gak sekencang tipikal shoot on goal.

Apa yang akhirnya terjadi? Kiper Subasic jelas langsung memposisikan diri ke arah datangnya bola. Tapi arah bola mendadak berubah lantaran kesenggol kepala Mario Mandzukic. Subasic mati langkah dan gagal menghalau bola. 1-0 buat Prancis.

Meski ketinggalan angka, wajah anak-anak Kroasia masih santai dan berambisi. Apalagi Vida, Perisic, Modric, dan Mandzukic yang dingin dan “ada di mana-mana.”

Kroasia menekan lagi. Kali ini, Perisic jatuh. Kante yang cuma lari di belakangnya dituding melanggar dan diganjar kartu kuning. Tendangan bebas itu dieksekusi sang kapten Kroasia, Modric dengan umpan lambung.

Setelah utak-atik bola di kotak penalti Prancis, bola dioper ke Ivan Rakitic. Dengan telaten, dia memposisikan bola dari kaki kanan ke kaki kiri lalu menendang langsung melewati sela-sela semua pemain. Meski terbang, Lloris gagal menjangkau tendangan itu. Skor 1-1.

via mirror.co.uk
Ivan Perisic (kanan) rayakan golnya. (Sumber: mirror.co.uk)

Kini, balik Prancis yg nyerang masih juga dari tengah meski 30 menit sebelumnya membuktikan bahwa lini tengah Kroasia tuh ibarat parkir bus. Setelah bola bergulir bolak-balik, Prancis dapat sepak pojok.

Itu jadi momen kesialan lain buat Kroasia. Gini ceritanya. Prancis dikasih sepak pojok. Dan, siapa lagi orang Prancis yang pada pertandingan itu bikin pemain Kroasia berbuat kesalahan sendiri? Yep. Griezmann.

Dia mengumpan dan bola kena tangan Perisic. Awalnya, wasit gak ngeliat lalu tim Prancis minta kejadian itu diliat di VAR. Setelah tiga kali melihat rekaman ulang VAR, wasit memutuskan itu hands ball.

via express.co.uk
Handsball Perisic di kotak penalti. (Sumber: express.co.uk)

Gol gak penting kedua Prancis

Karena pelanggaran itu terjadi di dalam kotak penalti, maka Prancis dikasih hadiah tendangan penalti yang diambil dengan cakep banget oleh Griezmann. Pura-pura nendang ke kanan, doi nendang ke kiri. Bola masuk karena kiper Subasic udah salah terbang.

Lalu, Prancis melakukan keahlian mereka yang sesungguhnya. Yaitu, buang-buang waktu. Taktik itu toh terbukti berhasil karena skor tetap 2-1 buat Prancis hingga akhir babak pertama meski wasit ngasih injury time selama 3 menit.

Aliran deras serangan Kroasia

via express.co.uk
Wasit nonton VAR. (Sumber: express.co.uk)

Varane bikin Loris maju ke luar kotak penalti. Maksud hari pengen clearance salto, bola malah mengeluyur ke arah gawang Prancis. Perisic udah ngebut ngejar bola muntahan itu tapi doi dihalau kiper Prancis, Lloris yang maju sampai luar kotak penalti dan menerima bola pakai dadanya.

Seranganan Kroasia terus mengalir deras. Belum 10 menit, Kroasia udah dapat dua kali sepak pojok yang diambil oleh Modric. Untung buat Prancis, semua umpan itu dibuang.

Lagi asik Kroasia nyerang, mendadak ada penonton menerobos masuk lapangan. Pertandingan terpaksa dihentikan sebentar sampai mereka diseret keluar oleh para official.

via stuff.co.nz
Dejan Lovren (kanan) ngamuk ke penonton yang nerobos masuk lapangan. (Sumber: Stuff.co.nz)

Beberapa menit kemudian, aliran deras serangan Kroasia terganggu lagi. Dari tengah, Pogba mencukil bola. Kecepatan tendangan itu pas sehingga bola melaju melewati atas kepala Vida tapi pas diterima kaki Kylian Mbappe.

Gocak-gocek, Mbappe gagal mencetak angka. Lalu, bola muntahan itu diterima sama Paul Pogba yang coba menggetarkan jaring gawang Kroasia. Percobaan pertamanya berupa tendangan datar yang mentok ke kaki pemain Kroasia.

Percobaan keduanya dilakuin pakai kaki kiri. Bola melesat ke gawang seperti cita-cita Pogba karena kiper Subasic keburu mati langkah. Skor berubah jadi 3-1 buat Prancis dan seketika itu pula moral anak-anak asuh Didier Deschamps naik.

via Istimewa
Pogba rayain golnya. (Sumber: Istimewa)

Selang beberapa menit, giliran Kylian Mbappe mencetak angka dari luar kotak penalti. Skor 4-1 buat Prancis. Kini, mental anak-anak asuh Zlatko Dalic runtuh. Tapi, kelesuan itu gak berlangsung lama.

Gol gak penting Kroasia

Kiper Lloris menerima operan belakang. Doi berusaha menggocek Mario Mandzukic yang nguber bola. Tentu saja gocekan orang yang biasa main bola pakai tangan bakalan gampang dihalau oleh orang yang biasa main bola pakai kaki. Seketika itu, Mandzukic bikin skor jadi 4-2.

Gol itu sontak bikin moral Modric cs. naik lagi dan mereka kembali menderaskan serangan. Prancis terpaksa main setengah lapangan sementara Modric cs. belum puas coba-coba.

via iNews.co.uk
Luka Modric. (Sumber: iNews.co.uk)

Didier Deschamps akhirnya memutuskan buat masukin Nzonzi gantiin Kante. Gak lama setelah itu, Giroud ditarik keluar supaya Nabil Fekir masuk. Dengan masukin dua gelandang bertahan, Prancis main full defense dan cuma nyisain Mbappe sendirian di depan.

Pun demikian, Pogba masih juga dapat dua kesempata nemas yang doi sia-siain di depan gawang Kroasia. Maka, skor tetap 4-2 untuk Prancis sampai pluit panjang dibunyiin. Prancis juara dunia lagi, mengulang prestasinya 1998.

Buat warga Prancis, kemenangan Piala Dunia 2018 jadi hadiah perayaan Hari Bastille sehari sebelumnya, 14 Juli. “Félicitations Les Blues!”

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.