Sabtu, 22 September 2018

Genmuda – Pendaki Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) dihukum membersihkan sampah karena memetik bunga edelweis. Kelakuan melanggar undang-undang konservasi itu kegep oleh petugas patroli TNGMb, 3 Juli lalu.

Kepala TNGMb Edy Sutiyarto dikutip kompas.com bilang, kejadiannya berlangsung pagi ketika petugas patroli tiba di Pos Sabana II, ketinggian sekitar 2.700 mdpl. Setelah itu, petugas langsung memanggil pemetik bunga edelweis.

“Petugas kemudian meminta pendapat para pendaki akan hukuman yang pantas diberikan untuk pemuda itu. Setelah disepakati, pemuda harus memunguti sampah di kawasan,” terang Edy.

Sebagai tambahan, petugas basecamp pun memasukkan pendaki tersebut ke dalam daftar hitam. Dia dilarang mendaku Gunung Merbabu selama 1 tahun ke depan. “Kami catat identitasnya dan kami teruskan ke Taman Nasional Gunung Merapi,” papar Edy.

Sebagai netizen yang pintar dan baik hati, kamu jangan berkomentar, “YAELAH! CUMA METIK BUNGA DOANG!” Bunga Edelweis yang masih tertancap dengan baik di dahan, batang, dan daunnya segitu berharga karena alasan ini.

1. Dilindungi Undang-Undang

via phinemo.com
(Sumber: phinemo.com)

Secara spesifik, memetik bunga bernama latin Anaphalis javanica itu melanggar Undang-Undang No 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Hayati Ekosistem, Pasal 33 Ayat 1.

Secara umum, memetik edelweis sama dengan pelanggaran kode etik pendaki gunung dan komunitas pecinta alam.

2. Terancam punah

via kumparan.com
Edelweis. (Sumber: kumparan.com)

Data tahun 1998 menunjukkan, sebanyak 636 batang edelweis tercabut dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Di TNGMb, kondisinya mirip. Edy bilang, sebaran bunga edelweis makin lama makin langka.

3. Butuh waktu lama buat tumbuh

via kumparan.com
Padang Edelweis di Gunung Sindoro. (Sumber: kumparan.com)

Meski bunga edelweis bisa bertahan hingga 10 tahun, edelweis butuh 13 tahun untuk tumbuh mencapai 20 cm. Which means, butuh waktu lama banget gak kayak ilalang.

Kalo tanamannya dicabut sekali, butuh belasan tahun lagi untuk berbunga. Wajar aja tumbuhan itu makin lama makin dikit lantaran pendaki alay ingin bawa pulang bunga yang melambangkan cinta abadi itu.

4. Tumbuh di tempat tertentu

via kompas.com
Edelweis di Lereng Bromo. (Sumber: Kompas.com)

Gak kayak pohon toge yang bisa tumbuh di kapas dalam kamar atau lumut yang tumbuh di tembok, edelweis cuma bisa tumbuh di tanah vulkanik muda atau tanah bekas terbakar.

Udah gitu, lokasinya harus berada di zona ekosistem hutan tropika sub alpin pada ketinggian di atas 2.000 mdpl. Di peta, lokasi itu sama dengan Gunung Pangrango, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Bromo-Tengger-Semeru dan gunung vulkanik lain di Indonesia.

5. Ada budidaya

via missandinirobyanto.blogspot.com
Penjual edelweis budidaya di Dieng. (Sumber: missandinirobyanto.blogspot.com)

Misalnya kamu pergi ke Dataran Tinggi Dieng atau lokasi edelweis lain lalu melihat warga lokal memperjual-belikan bunga itu, jangan histeris. Itu bukan bunga liar yang dipetik di hutan, melainkan hasil budidaya.

Warga Suku Tengger menanam sendiri edelweis jenis A javanica, A viscida, dan A longifolia. Selain dijual, mereka pun membutuhkan bunga-bunga itu buat kegiatan ritual.

Warga Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TNBTS) pun menerima 1.000 bibit edelweis buat ditanam dan dibangun Desa Wisata Edelweis untuk kebutuhan pembudidayaan bunga.

Gitu deh, jadi udah tau kan kenapa bunga edelweis enggak boleh dipetik sembarangan. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.