Selasa, 22 Oktober 2019

Genmuda – Apa jadinya jika musuh terberat lo adalah diri lo sendiri? Inilah premis utama dari film “Gemini Man” yang disutradarai oleh Ang Lee. Aktor senior Will Smith dipercayai buat memainkan dua tokoh sekaligus dalam film ini. Penasaran kayak gimana jalan ceritanya? Simak langsung dalam review tengah pekan Genmuda.com berikut ini!

Agen terbaik dengan masa lalu yang kelam

©Paramount Pictures/2019

Henry Borgan (Will Smith) adalah seorang pembunuh bayaran pemerintah yang tidak pernah gagal membunuh targetnya. Suatu hari ia mendapatkan tugas untuk membunuh seorang ilmuan di atas kereta cepat. Dengan sedikit drama munculnya kehadiran warga sipil, Henry dengan kemampuannya mampu melumpuhkan targetnya itu dari jarak jauh.

Tanpa disangka misi pembunuhan itu ternyata berbuntut panjang lantaran target yang dibunuh Henry ternyata bukan seorang teroris, melainkan seorang ilmuan yang harus diselamatkan. Ia pun menjadi buruan dari DIA (Defense Intelligence Agency) yang memiliki kaitan dengan ilmuan tersebut dalam mengembangkan proyek bio terorisme bernama ‘Gemini’.

Krisis film kembali berlanjut setelah satu per satu orang terdekat Henry mulai dihabisi oleh pasukan DIA. Ia kemudian berduet dengan agen Danny (Mary Elizabeth Winstead), yang awalnya memata-matai Henry, untuk menyelamatkan diri dari kejaran pasukan DIA. Di sisi lain, Henry yang sebentar lagi akan pensiun sebagai pembunuh bayaran ternyata selalu mengalami mimpi buruk karena merasa bersalah telah membunuh puluhan orang. Meski terlihat sadis, ia tetap memiliki sisi kemanusiaan dan perasaan belas kasih kepada lawannya.

Kesal karena selalu gagal untuk membunuh Henry, Clay (Clive Owen) pemimpin proyek Gemini, kemudian mengutus agen Junior yang gak lain adalah kloningan dari Henry Borgan versi lebih muda. Kok bisa ya? Jawabannya bisa lo temukan pada ending filmnya nanti.

Cerita standar dengan efek yang cukup ‘WOW’

©Paramount Pictures/2019

Sebagaimana yang digembar-gemborin oleh rumah produksi, “Gemini-Man” adalah film pertama yang mengadopsi teknologi 3D+ dan 120fps. Sayangnya lo belum bisa menikmati kecanggihan itu secara maksimal karena layar bioskop di Indonesia baru mendukung 60fps. Walau begitu bukan berarti filmnya flop ya. Lo masih bisa dimanjain oleh efek 3D+ yang bikin efek dalam film ini masih tetap nyaman buat ditonton.

Terlepas dari keunggulan teknologi yang ditawarkan, film ini sebetulnya punya cerita yang cukup standar dan mudah buat lo tebak. Karakter Henry muncul sebagai jagoan yang cenderung monoton dan gak se-istimewa seperti yang digambarkan. Penulis juga menilai jika akting Will Smith gak semaksimal yang diharapkan. Alhasil perpaduan drama, action, dan unsur sci-fi di dalam film ini kurang bisa ngena buat hati penonton.

Kesimpulan

©Paramount Pictures/2019

Sebagaimana review di atas maka ‘plus-minus’ tetap mewarnai cerita film “Gemini-Man”. Tayang beberapa hari setelah “Joker” mungkin jadi tantangan terberat film ini bersaing di bioskop. Namun penulis percaya film ini masih bisa menjadi ‘second option’ jika lo bertanya, “Ada film seru apa lagi nih?”.

Well, kalo lo penasaran dengan efek yang ditawarkan dan seberapa serunya seseorang menghadapi dirinya sendiri sebagai lawan terberat? “Gemini-Man” merangkum itu semua dengan porsi yang cukup pas. Happy watching!

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.