Rabu, 23 Oktober 2019
Kekinian

5 Hal yang Wajib Kamu Tau dari ‘Off the Wall’, Kolaborasi Seniman Grafiti Indonesia-Prancis

©Genmuda.com/2016 LikiAcara jumpa pers 'Off the Wall' Rabu (26/10) di IFI Jakarta ©Genmuda.com/2016 Liki

Genmuda – Street art seperti grafiti mungkin udah engga asing lagi di telinga Kawan Muda. Kesenian urban tersebut banyak banget kamu temui di ruang terbuka publik. Bahkan secara historis, coretan para seniman grafiti itu punya pesan dan makna khusus loh. (Tapi buka sekedar coret-coretan nama sekolah atau gebetan kamu supaya eksis ya. Bukan kayak gitu caranya)

Dalam perkembangan jaman seperti sekarang, seni grafiti turut menjadi bagian masyarakat urban. Engga cuma di Indonesia aja guys, negara-negara lain seperti Prancis pun punya fenomena serupa. Oleh sebab itu Institut Prancis di Indonesia (IFI) berkerjasama dengan Tauzia Hotel Management menggelar acara bertajuk ‘Off the Wall’.

Pada kesempatan ini IFI berkolaborasi bersama 10 seniman asal Indonesia-Prancis, dimana masing-masing negara diwakilin oleh 5 seniman. Mereka semua adalah Darbotz, Farhan Siki, Soni lrawan, Stereoflow, dan Tutu dari Indonesia, serta Colorz, Fenx, Kongo, Mist dan Tilt dari Perancis.

Lebih lanjut, kalo sebelumnya grafiti cuma bisa kamu nikmati di ruang publik kayak tembok fly over atau gedung-gedung tua, sekarang karya tersebut bakalan masuk ke lembaga pendidikan, sekolah, museum, galeri seni dan hotel. Gokil kan? Terus apa lagi sih hal menarik lainnya? Langsung simak baik-baik di bawah:

Persiapannya cukup lama

©Genmuda.com/2016 Liki
Kurator pameran, Claire Thibaud-Piton, dalam acara jumpa pers ‘Off the Wall’ Rabu (26/10) di IFI Jakarta ©Genmuda.com/2016 Liki

Diakui oleh kurator pameran, Claire Thibaud-Piton, butuh waktu yang cukup lama untuk menggelar acara ini di Indonesia. Ditambah proses perkenalan serta pengaturan jadwal setiap seniman berbeda-beda. Meski terbilang dadakan, namun dirinya optimis pesan pameran dapat tersampaikan.

“Saya berharap pameran ini dapat memberikan sudut pandang baru bagi masyarakat luas tentang kesenian urban,” terang Claire.

Cukup menantang dan dadakan bagi seniman (kayak tahu bulat)

©Genmuda.com/2016 Liki
Streoflow mengungkapkan perasaannya bisa terlibat dalam pameran ‘Off The Wall’ ©Genmuda.com/2016 Liki

JSYK, menggambar grafiti bukan sekedar langsung ‘tembak’ gambar dan coret gitu aja, diperlukan persiapan dan kesesuaian tema yang ingin dibawakan. Diakui oleh Adi Dharma alias Stereoflow, acara ini malah cukup menantang bagi dirinya sebagai seniman.

“Persiapan [pameran] sekitar satu bulan. Di event ini pun saya harus menyiapkan 4 karya kecil di atas kanvas, yang paling besar berukuran tiga setengah meter kali satu koma tujuh meter untuk di museum nasional. Bisa dibilang cukup mepet dan menantang banget.” jelas Stereoflow kepada Genmuda.com.

“Terlepas dari itu semua, saya justru senang bisa berkolaborasi dengan seniman lainnya. Buat saya mereka yang terlibat ibaratnya legend.” tambah seniman asal Bandung tersebut.

Pameran dilakukan di empat tempat yang berbeda

Surprise Girl

Pembukaan ‘Off the Wall’ baru resmi dibuka pada hari Kamis, 3 November 2016 di D’Gallerie. Selanjutnya mulai dari tanggal 4-6 November 2016, kesepuluh seniman tersebut akan memamerkan karya mereka di tiga tempat yang berbeda, yakni di Museum Nasional, Yello Hotel, dan IFI Jakarta. Dan yang wajib Kawan Muda ingat, semuanya itu gratis alias tanpa dipungut biaya.

Selain menggelar pameran, terdapat pula kompetisi street art yang berlangsung di Yello Hotels pada tanggal 5 November 2016. Dari 35 seniman grafiti muda Indonesia yang telah mendaftar, mereka akan melakukan grafiti jam dan akan langsung dinilai oleh 10 seniman yang terlibat dalam proyek ‘Off the Wall’.

Wadah baru bagi seni grafiti

©Genmuda.com/2016 Liki
Esti Nurjadi ketika menjawab pertanyaan media dalam jumpa pers ‘Off the Wall’ Rabu (26/10) di IFI Jakarta ©Genmuda.com/2016 Liki

Dalam jumpa pers pada hari Rabu (26/10), Esti Nurjadin dari D’Gallerie menjelaskan jika perkembangan dari seni grafiti memberikan wadah baru dan engga melulu harus di ruang publik. Dalam artian para seniman grafiti ini bisa menyampaikan karya mereka dengan media serta penikmat yang lebih beragam.

“Seiring perkembangannya, media yang digunakan mereka [seniman grafiti] bisa di atas kanvas, akrilik, hingga resin. Khusus di Museum Nasional, para seniman akan bekerja di atas media kanvas dan pvc board.” ungkap Esti.

Hasil pameran akan dilelang

Menurut Claire, sesuai dengan ide dari pameran ini, –untuk memberikan sudut pandang baru akan kesenian urban, nantinya hasil karya yang dipamerkan di Museum Nasional akan dilelang yang kemudian hasilnya akan disumbangkan kepada yayasan sosial. Ntap!

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.