Jum'at, 7 Agustus 2020

Genmuda – Masih lekat banget di ingatan kita sama serangan teror yang terjadi di jalan Thamrin di Januari tahun 2016 hingga bom di Kampung Melayu (24/5). Gak cuma menimbulkan kepanikan buat warga Jakarta, teror bom ini juga mengakibatkan banyak korban berjatuhan, bahkan ada beberapa polisi dan warga sipil yang tewas.

Tagar #KamiTidakTakut dan #Pray ForJakarta mulai ramai digunakan sama pengguna media sosial untuk menunjukkan kalo warga Jakarta gak takut sama teror ini. Satu yang paling diingat dari kasus ini adalah para polisi ganteng yang bikin Jakarta kembali aman.

Yang juga diingat dari bom di Kampung Melayu adalah 3 polisi yang gugur dalam tugasnya. Sebelum kamu memutuskan buat jadi polisi, coba pertimbangkan beberapa hal ini.

1. Kena ledakan bom

via: tumblr

Ipda Denny yang waktu itu lagi berjaga di sekitar Thamrin, gak luput dari ledakan bom yang diledakan di sekitar Sarinah. Gak sampe bikin beliau kehilangan nyawa, tapi beberapa luka akibat ledakan tersebut membekas sampe sekarang. Meski sempet gak percaya karena beliau masih hidup sampe sekarang, nyatanya luka di badannya gak bisa bikin beliau kerja sebaik dulu.

Bom di Kampung Melayu yang terjadi 2 hari yang lalu bahkan merenggut nyawa 3 polisi. Ketiganya yang waktu itu lagi berjaga dan mengamankan daerah tersebut terkena ledakan bom panci dan gugur dalam tugasnya. Gak main-main, ketika kamu berniat buat jadi polisi, kamu juga mesti paham kalo bukan lagi waktu yang jadi taruhannya, tapi nyawa.

2. Kena tembakan senapan

Kena tembakan senapan ini bisa terjadi dimana aja. Gak cuma di daerah pertempuran atau pas lagi melawan teroris aja tapi bisa terjadi ketika lagi melakukan penjagaan dan pengamanan. Udah banyak kejadian peluru nyasar dari polisi, yang juga menyasar polisi lain. Meskipun sebenernya kejadian ini bisa terjadi ke siapa aja dan kapan aja, tapi nyatanya banyak polisi yang kena tembakan senapan, secara sengaja atau gak.

3. Gak punya waktu libur

Gak kaya pegawai yang bisa libur sabtu minggu atau pas tanggal merah, polisi gak punya waktu libur yang bener-bener libur. Meskipun tanggal merah, mereka tetep mesti melakukan penjagaan. Orang-orang pada sibuk mudik, tapi mereka tetep mesti mengamankan dan memastikan kalo para pemudik bisa mudik dengan aman dan nyaman.

4. Disayang sekaligus dibenci

Meskipun polisi dijuluki sebagai pengayom masyarakat, nyatanya gak semua orang terima dan bahkan gak sedikit dari masyarakat yang gak suka sama polisi. Entah mungkin karena polisinya yang punya sikap arogan atau mungkin masyarakatnya aja yang gak bisa dibilangin.

Kalo kamu liat polisi-polisi yang mengamankan acara-acara yang banyak massanya kayak pertandingan sepakbola, pasti setelah itu banyak masyarakat yang langsung ngata-ngatain polisi. Meskipun pekerjaannya dilematis karena harus mengamankan warga yang rusuh, tapi sekaligus meski dengan perbuatan yang kadang melibatkan kontak fisik, polisi tetep mesti pasang badan dan hati karena gak jarang juga kena pukul dan cacian.

5. Suka disumpahin

Nah, kalo yang ini biasanya ditujukan buat polisi yang suka nilang. Meski gak semua polisi bisa “diajak damai”, tapi beberapa polisi selalu jadi sasaran empuk para pengumpat buat mengeluarkan unek-uneknya di jalan. Kadang ada pengendara yang kena tilang tapi gak mau ribet buat ikutan sidang, akhirnya ngajak polisinya damai, tapi ketika ngajak damai, malah marah-marah sendir karena tarif “damai”nya mahal. Akhirnya ngata-ngatain atau bahkan sampe nyumpahin para polisi yang udah nilang mereka.

6. Dikira galak

Bisa jadi karena dia beneran galak, atau karena para polisi ini jarang senyum atau ketawa, jadi keliatan sangar. Padahal kan katanya “tak kenal maka tak sayang”, nah coba kamu kenalan dulu biar sayang gak ngecap kalo polisi-polisi itu selalu sangar dan galak. (sds)

Comments

comments

Fiany Intan Vandini
The youngest reporter on the 2nd floor of Gen Muda Office.