Sabtu, 25 Juni 2022

Genmuda – Postingan Awkarin dan Anya Geraldine, dua cewek selebgram yang terbilang glamor dan jadi perbincangan sampai disoroti lembaga pemerintah Indonesia. Baru-baru ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melaporkan dua akun itu ke Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).

Waduh. Kenapa lagi nih? Jadi gini, gaes. Ada sejumlah orang tua yang ngaduin akun dua cewek itu ke KPAI. Karena pengaduannya udah banyak, KPAI pun perlu bertindak. Sebagai langkah awal, instansi tersebut berkordinasi dengan Kemenkominfo, kata Detik.com, Selasa (20/9).

Menkominfo Rudiantara di satu sisi masih ingin menganalisis dulu akun-akun yang dilaporin. Beliau juga bilang bakal ngajak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak buat mencari solusi dari masalah ini.

Fenomena ini pun akhirnya dikasih nama Awraldine (Awkarin-Geraldine). Meski udah ada omongan di kalangan pejabat, tapi mereka masih belum nentuin langkah nyata terkait laporan para orang tua tersebut. Artinya mereka belum dikenai tindak pidana. (Dan semoga aja engga)

Himbauan!

via bintang.com
Awkarin lagi bermesraan sama pacarnya. Waktu masih jadian dulu. ha. (Sumber: bintang.com)

Sejauh ini Kemenkominfo baru bisa menyarankan KPAI untuk memberikan himbauan langsung kepada dua selebgram itu kalo emang ada postingan yang dirasa kelewatan. Himbauan ini pun udah juga berlaku bagi selebgram lainnya.

Namun karena postingan Awraldine udah terlanjur viral dan kecil kemungkinan buat dihapus apa lagi diblokir pemerintah, KPAI minta netizen supaya lebih kritis. “Masyarakat juga perlu aktif mengkritisi,” jelas Ketua KPAI Asrorun Niam, Selasa (20/9).

Dari pantauan Genmuda.com, para netizen sih kayaknya udah cukup kritis sampai ada yang jadi hatersnya kedua selebgram tersebut. Dan selidik punya selidik, fenomena Awraldine ini juga sampai diperbincangkan peneliti sosial, loh.

Apa kata peneliti?

via newsth.com
Kalo ini, Geraldine dan cowoknya lagi berenang. Eh bukan deng. Lagi berendem sambil bermesraan. Tau deh lagi ngapain. (Sumber: newsth.com)

Guru besar Sosiologi Universitas Gadjah Mada, Heru Nugroho kepada bilang kalo kejadian ini terjadi karena krisis identitas masa remaja. “Masa pencarian jati diri ini tidak bisa diprediksi sampai usia berapa,” imbuh Prof Heru.

Beliau juga bilang kalo krisis identitas sebenarnya dialami remaja dan anak muda dari masa ke masa. “Kalau dulu perilakunya sembunyi-sembunyi, kalo sekarang cenderung dipertontonkan,” jelas Prof Heru.

Hal serupa juga dibilang sama psikolog anak dan remaja Ratih Zulhaqqi. Beliau bilang, Karin dan Geraldine engga jauh beda sama remaja jaman dulu. “Remaja dulu bukanlah digital native seperti Karin dan Geraldine. Berhubung remaja sekarang punya akses internet dan medianya, mereka bisa langsung posting demi eksistensi,” jelas Ratih.

Psikolog itu juga nambahin, “Ada kecenderungan mereka memang suka jadi center of attention.” Pada dasarnya, Awraldine merupakan dua remaja yang butuh perhatian. Makin postingannya di-like dan di-comment, mereka bakal makin semangat.

Masih wajar kah?

via okezone.com
Asrorun Niam, Ketua KPAI. (Sumber: okezone.com)

Kata Ratih postingan seperti dua cewek itu juga dilakukan remaja di belahan dunia lain. “Kalau di bandingkan dengan remaja di Barat, postingan Karin dan Geraldine masih engga ada apa-apanya,” ujar Ratih.

Meski begitu, Ratih mengakui kalo kedua akun itu emang engga sesuai sama norma yang masih berlaku di Indonesia. Dilihat dari laporan yang masuk KPAI, para orang tua lah yang kemudian gelisah. Dengan kata lain, fenomena Awraldine bisa dipandang sebagai konflik sosial antara generasi tua dan muda. Kawan Muda ada komentar? Tulis aja langsung di bawah ya. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.