Rabu, 23 Juni 2021
Hiburan

‘Pesta Merdeka di Puncak Jazz Raya’, Rayain Serunya Hari Kemerdekaan RI Bareng Jazz Gunung Bromo

(©Genmuda.com/2016 Gabby)Konferensi pers Jazz Gunung Bromo 2016 di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (11/8) (©Genmuda.com/2016 Gabby)

Genmuda – Sebuah festival jazz tahunan bertaraf internasional yang diselenggarain di alam terbuka siap digelar lagi nih, Kawan Muda. Yup, Jazz Gunung Bromo bakal kembali diadain pada tanggal 19 dan 20 Agustus mendatang.

Ini merupakan tahun ke-8 penyelenggaraan Jazz Gunung Bromo. Bertempat di panggung terbuka Jiwa Jawa Resort Bromo, Desa Wonotoro, Kabupaten Probolinggo, festival jazz unik tersebut bakal nawarin suasana magis yang berasal dari perpaduan keindahan alam, musik yang bergelora, serta kehangatan interaksi di antara para musisi dan penonton yang hadir.

Tahun ini, tema yang diusung adalah ‘Pesta Merdeka di Puncak Jazz Raya’. Tema tersebut merupakan ide dari seniman dan penggagas Jazz Gunung Bromo, Djaduk Ferianto. Menurut bankir, fotografer, pecinta Bromo dan jazz, sekaligus penggagas Jazz Gunung Bromo lainnya, Sigit Pramono, tema itu pun pada dasarnya ngegambarin keinginan buat “merayakan kemerdekaan di puncak gunung sambil ber-jazz ria.”

Sementara itu, sebagai pengisi acara pada dua hari rangkaian Jazz Gunung Bromo 2016, bakal ada penampilan spesial dari sejumlah musisi jazz terbaik dari dalam dan luar negeri. Sebut aja Dwiki Dharmawan Jazz Connection, Ermy Kulit, Ian Scionti Trio, Shaggydog, The Groove, Ring of Fire feat. Bonita & Ricad Hutapea, Penny Candarini, Samba Sunda, dan Nial Djuliarso Trio feat. Arief Setiadi.

Namun demikian, masih ada lagi loh beberapa hal penting yang bikin kamu harus banget datang ke Jazz Gunung Bromo 2016 di samping lokasinya yang unik dan para penampilnya yang oke abis. Berikut ini adalah 8 di antaranya, yang terungkap pada acara konferensi pers Jazz Gunung Bromo 2016 di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (11/8):

1. Berkarakter

Menurut Dwiki Darmawan, Jazz Gunung Bromo merupakan “festival jazz yang paling berkarakter”. Seakan jadi penegasan akan hal itu, seniman dan penggagas Jazz Gunung Bromo, Butet Kartaredjasa berkesimpulan bahwa di festival musik tersebut “semua bisa kita temukan dalam kedinginan udara, ibaratnya kita mendengarkan musik di dalam kulkas.”

Ngedukung pernyataan Dwiki dan Butet, Pak Sigit lantas ngungkapin bahwa Jazz Gunung Bromo merupakan sebuah kegiatan yang emang udah diakui secara internasional. Hal tersebut terbukti lewat dimuatnya acara tersebut dalam buku panduan wisata Lonely Planet sebagai salah satu festival yang ada di Bromo selain Festival Kasada.

Meski begitu, sebagian dari kamu mungkin bertanya-tanya kenapa tahun ini judul Jazz Gunung ditambahin lagi dengan kata ‘Bromo’. Terkait alasannya, kepada Genmuda.com Pak Sigit ngejelasin bahwa itu cuma semacam penegasan aja. “Jazz Gunung emang punya kami. Tapi, supaya orang tahu bahwa yang ini di Bromo, kami tambahkan jadi Jazz Gunung Bromo. Engga ada alasan lain,” bebernya.

2. Bromo aman

Beberapa waktu belakangan ini, kamu mungkin udah dengar kabar bahwa status Bromo lagi waspada. Terkait hal itu, Pak Sigit udah ngekonfirmasi bahwa lokasi penyelenggaran Jazz Gunung Bromo 2016 engga bakal terkena dampaknya karena jaraknya yang cukup jauh dari kawah Bromo.

Gunung bromo ini sekarang statusnya emang waspada, tapi setiap menit emang erupsi. Status waspada itu hanya kita tidak boleh mendekati 1 km dari kawah Bromo, sedangkan amfiteater kami 6 km dari kawah Bromo. Dari jazz gunung pertama sampai yang ke-8 status Bromo pun selalu waspada. Jadi, tidak ada masalah dengan statusnya itu,” jelas Pak Sigit.

Hal senada terkait kondisi dan status Bromo diungkapin pula oleh Kepala Disbudpar Probolinggo Anung Widiarto. Beliau negasin bahwa, “Untuk pariwisata, Bromo kapanpun buka, walaupun ada erupsi. Namun demikian, kita tetap harus patuh terhadap peraturan vulkanologi.”

(©Genmuda.com/2016 Gabby)
Sigit Pramono di acara konferensi pers Jazz Gunung Bromo 2016 di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (11/8) (©Genmuda.com/2016 Gabby)

3. Pemandangan berbeda, dekorasi berbeda

Berhubung judulnya aja udah di gunung alias di alam terbuka, otomatis kamu engga bakal bisa ngedapetin pemandangan yang sama persis di Jazz Gunung Bromo setiap tahunnya. “Yang jelas karena kami menyelenggarakan Jazz Gunung di alam terbuka, jelang senja komposisi pemandangannya akan berbeda tiap tahunnya,” ujar Pak Sigit.

Bahkan, yang bakal berbeda di Jazz Gunung Bromo 2016 ternyata engga cuma pemandangannya, tapi juga dekorasinya. “Tiap tahun kami membuat instalasi seni bambu yang berbeda. Yang selalu kami pertahankan adalah kami tidah akan menampilkan logo [sponsor] di panggung,” tambah Pak Sigit.

4. Kearifan lokal

Masih terkait dengan judul dan konsep acara, Jazz Gunung Bromo secara garis besar emang merupakan sebuah festival jazz. Meski begitu, para pelopor dan penyelenggaranya engga lupa buat nyelipin unsur kearifan lokal. Singkatnya, festival musik tersebut juga bisa jadi semacam ajang buat nambah kecintaan kamu terhadap kearifan alam pegunungan dan ningkatin apresiasi terhadap musik jazz etnik Tanah Air.

Salah satu yang membedakan jazz gunung ini adalah kami melibatkan partisipasi pemusik tradisional di Probolinggo,” kata Butet. “Harapannya ini menjadi kebutuhan bersama. Kalo saya melihat dari perspektif pendidikan, musik jazz dan seni adalah baguan dari ikhtiar untuk menjadi lebih baik.

Di samping itu, manfaat penyelenggaran Jazz Gunung Bromo bagi masyarakat, lingkungan, sekaligus budaya setempat pun turut diakui oleh Pak Anung. Menurut beliau, “Adanya Jazz Gunung sangat membantu sekali untuk pengembangan pariwisata.”

Yang lebih menariknya lagi, pengunjung Jazz Gunung Bromo 2016 juga bakal diajak buat ikut kegiatan bersih-bersih gunung bersama Sahabat Bromo. Diinisiasi oleh PHRI Probolinggo dan didukung oleh masyarakat pecinta lingkungan, masyarakat Bromo-Tengger-Semeru, Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, Paguyuban Jip, Paguyuban Kuda, Paguyuban Asongan, dan Masyarakat Pariwisata, kegiatan tersebut bertujuan buat ngenalin konsep pariwisata socio-ecotourism.

(©Genmuda.com/2016 Gabby)
Konferensi pers Jazz Gunung Bromo 2016 di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (11/8) (©Genmuda.com/2016 Gabby)

5. The Groove keluar dari zona nyaman

Minggu depan merupakan penampilan perdana The Groove (kecuali Rieka Roeslan) di Jazz Gunung Bromo. Terkait hal itu, Reza sang vokalis ngewakilin rekan-rekannya ngungkapin bahwa mereka sebenarnya jarang main di lokasi outdoor, apalagi di gunung kayak Bromo.

“The Groove jarang main di lapangan terbuka, selalu di tempat-tempat nyaman. Kita hampir engga pernah main di tempat seperti itu [Bromo], di ketinggian dan dengan suhu yang sangat dingin. Menurut saya ini sangat menarik,” ungkap Reza.

Bukan cuma itu, Reza nambahin pula bahwa masih ada sebuah tantangan lainnya yang engga kalah penting buat tampil di Jazz Gunung Bromo 2016. “Tantangannya selain dari suhu berarti orang-orang yang datang ke sana adalah yang sangat mengapresiasi musik dan budaya indonesia. Saya membayangkan bermain di sana adalah salah satu dari banyak kesempatan kami. Mudah-mudahan Jazz Gunung jadi cerita panjang sampai bertahun-tahun ke depan.”

6. Ulang tahun Dwiki Darmawan

Entah kebetulan atau gimana, yang jelas Jazz Gunung Bromo 2016 ternyata engga cuma jadi perayaan kemerdekaan Indonesia aja, tapi juga perayaan buat sebuah hal spesial lainnya. Hal tersebut secara khusus dirasain oleh Dwiki Darmawan. “Saya sekaligus menebus dosa saya buat bisa tampil. Waktu saya main 19 Agustus itu adalah hari ulang tahun saya yang ke-50. Jadi menyenangkan sekali,” ujarnya.

(©Genmuda.com/2016 Gabby)
Konferensi pers Jazz Gunung Bromo 2016 di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (11/8) (©Genmuda.com/2016 Gabby)

7. Fasilitas ditingkatin

Secara kapasitas, Jazz Gunung Bromo emang cuma bisa nampung maksimal 2 ribu orang. Meski begitu, bukan berarti pelopor, pihak penyelenggaran, maupun pemerintah setempat engga merhatiin fasilitas yang disediain. Mulai dari disediainnya tunggu-tunggu buat ngehangatin badan sampai perbaikan jalan, semua dilakuin ketiga pihak tersebut demi nyiptain suasana yang kondusif.

“Jazz ini kita emang kapasitasnya engga banyak. Tapi, dari tahun ke tahun kami menyempurnakan fasilitasnya. Kami melakukan banyak perbaikan supaya penonton dan penampil lebih nyaman,” beber Pak Sigit.

8. Semangat penampil yang luar biasa

Dari sekian banyak alasan buat nonton Jazz Gunung Bromo 2016, ini bisa dibilang merupakan alasan yang paling kuat di samping lokasi dan suasananya yang unik. Iya sih tema yang diusung tahun ini emang berkaitan dengan kemerdekaan. Tapi, bukan berarti bakal ada nanti upacara bendera atau kegiatan semacamnya. Justru, semangat kemerdekaan bisa kamu lihat dari penampilan para musisi itu sendiri.

Semangat nasionalisme ‘kan tidak hanya bisa ditunjukkan dengan mengerek bendera merah putih saja. Anda nanti akan lihat komposisi-komposisi [para musisi] yang menggelorakan semangat kemerdekaan,” tandas Pak Sigit.

Comments

comments

Gabrielle Claresta
Eccentric daydreamer