Minggu, 14 Juli 2024
Hiburan

Nengokin Lagi Sejarah Pancasila Lewat Film ‘Pantja Sila: Cita-cita & Realita’ (dan Beberapa Hal yang Perlu Kamu Tahu Soal Filmnya)

Kru dan pendukung film 'Pantja Sila: Cita-cita & Realita' di acara penayangan dan konferensi pers di Epicentrum XXI, Rabu (3/8) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)

Genmuda – Engga kerasa, dalam hitungan hari kita bakal ngerayain Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-71. Bertepatan dengan peringatan tersebut, Jakarta Media Syndication dan Geppetto Productions pun bakal ngerilis ‘Pantja Sila: Cita-cita & Realita’ buat ngajak kita nelusurin kembali sejarah Pancasila.

‘Pantja Sila: Cita-cita & Realita’ merupakan sebuah film yang disutradarai oleh produser Tino Saroengallo dan aktor kawakan Tyo Pakusadewo. Film tersebut pada dasarnya nampilin pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, yang jadi cikal bakal lahirnya Pancasila. Oleh karena itu, jangan heran kalau film tersebut ngegunain format historical monolog, soalnya yang pengen ditonjolin emang isi pidatonya.

Lebih lanjut, Tyo ngungkapin bahwa ide buat ngebikin ‘Pantja Sila: Cita-cita & Realita’ berawal dari kegelisahannya terkait Pancasila. Menurutnya, meski Pancasila dianggap sakti dan sampai ada Hari Kesaktian Pancasila segala, belakangan ini Pancasila justru udah engga diajarin lagi secara spesifik di sekolah-sekolah dan udah engga benar-benar jadi bagian hidup masyarakat sekarang.

Saya melihat anak-anak saya tidak lagi mengenal dirinya secara luas, tidak lagi mengenal dirinya siapa, apalagi pancasila. Terus, saya bertemu seseorang yang memberikan saya buku yang judulnya ‘Pedoman untuk Melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat, Djilid 1,” kata Tyo di acara konferensi pers ‘Pantja Sila: Cita-cita & Realita’ di Epicentrum XXI, Rabu (3/8).

Tyo Pakusadewo di acara penayangan dan konferensi pers film 'Pantja Sila: Cita-cita & Realita' di Epicentrum XXI, Rabu (3/8) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)
Tyo Pakusadewo di acara penayangan dan konferensi pers film ‘Pantja Sila: Cita-cita & Realita’ di Epicentrum XXI, Rabu (3/8) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)

FYI, penggarapan ‘Pantja Sila: Cita-cita & Realita’ awalnya sempat terkendala dengan masalah biaya. Meski begitu, Tyo, Tino (yang kebetulan sekarang lagi berobat di Singapura), dan kru film lainnya tetap semangat buat ngelarin film tersebut biar bisa ditonton oleh masyarakat.

“Film ini dibuat tidak dengan biaya yang banyak. Film ini dibuat dengan janji karena ingin berbakti dan mengabdi demi bangsa indonesia,” ujar Tyo. “Kalau nanya budget-nya berapa, engga bisa dihitung karena kami menggunakan semangat. Sejujurnya, saya engga tau [berapa budget-nya]. Tapi, kami terus memperjuangkan supaya film ini bisa terus disaksikan tiap generasi.”

Bukan cuma itu, udah mah jadi sutradara, Tyo ternyata juga jadi pemeran Bung Karno di ‘Pantja Sila: Cita-cita & Realita’. Alasannya pun karena engga nemu pemain yang pas. “Saya juga sudah mencari dengan Mas Tino siapa yang bisa membawakan ini, cuma engga nemu. Kalaupun dicoba, kami dapat casing-nya doang. Jadi, aku kelihatan tua ya engga apa-apa, tapi diupayakan selebihnya,” jelas Tyo.

Yang lebih menariknya lagi, Tyo sampai semedi segala buat ngedalamin perannya sebagai Bung Karno loh, Kawan Muda. “Saya mempelajari pidato tersebut memakan waktu tiga bulan lamanya. Waktu itu saya bersemedi di Singapura saat istri saya sedang menjalani pengobatan,” akunya.

Penayangan dan konferensi pers film 'Pantja Sila: Cita-cita & Realita' di Epicentrum XXI, Rabu (3/8) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)
Penayangan dan konferensi pers film ‘Pantja Sila: Cita-cita & Realita’ di Epicentrum XXI, Rabu (3/8) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)

Sementara itu, buat lokasi syuting, awalnya proses syuting ‘Pantja Sila: Cita-cita & Realita’ pengen diadain di lokasi aslinya, yaitu Gedung Pancasila. Tapi, karena satu dan lain hal, proses syuting akhirnya berlangsung di sebuah studio yang berlokasi di kawasan Ciputat.

Proses syuting ‘Pantja Sila: Cita-cita & Realita’ sendiri engga kalah gokil. Gara-gara keterbatasan dana, proses syutingnya cuma berlangsung selama dua hari. “Kesalahan take di hari pertama kami ulang di hari kedua. Take-nya run through satu kamera, pada titik tertentu kami berhenti dan kami nyambung terus ke kalimat-kalimat berikutnya. Agak berat sebetulnya karena emosinya harus disambung jadi satu kesatuan,” jelas Tyo.

Engga ketinggalan, ngelengkapin film ‘Pantja Sila: Cita-cita & Realita’, bakal ada pula buku berjudul sama berisi teks pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 dan situs web pantja-sila.com yang bisa kamu akses. Bahkan, Djarum Foundation bakal nayangin film tersebut di sejumlah sekolah dan perguruan tinggi.

“Kami berharap film ini juga dapat kami bawa sebagaimana kami menjalankan road to campus. Semoga ini bisa diterima dengan baik dan pesannya tersampaikan. Kami harap ini bisa membantu Indonesia meraih cita-cita seperti yang diungkapkan Bung Karno,” kata Vivi, perwakilan dari Djarum Foundation.

Kru dan pendukung film 'Pantja Sila: Cita-cita & Realita' di acara penayangan dan konferensi pers di Epicentrum XXI, Rabu (3/8) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)
Kru dan pendukung film ‘Pantja Sila: Cita-cita & Realita’ di acara penayangan dan konferensi pers di Epicentrum XXI, Rabu (3/8) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)

Namun demikian, ketika ditanya Genmuda.com apakah penayangan ‘Pantja Sila: Cita-cita & Realita’ bakal diadain dalam bentuk roadshow, Tyo cuma bilang bahwa, “Roadshow mungkin. Tapi, tugas saya sudah selesai, yaitu membacakan pidato ini sebaik-baiknya. Saya akan berkonsentrasi untuk yang selanjutnya.”

Terlepas dari itu, Tyo nambahin bahwa bakal ada lomba esai antarpelajar tentang ‘Pantja Sila: Cita-cita & Realita’, sehingga “mereka mau engga mau harus mencari tahu atau riset mengenai isi pidato 1 Juni 1945.” Beliau ngebeberin pula bahwa film tersebut udah diikutsertain dalam festival film Palm Spring.

So, daripada tanggal 17 Agustus nanti kamu cuma diam di rumah doang gara-gara engga ikutan lomba apapun, mending kamu langsung ke bioskop aja, Kawan Muda. Awalnya kamu mungkin bakal ngerasa bosan. Tapi, kalau kamu udah paham maksud Bung Karno, dijamin kamu bakal bisa lebih ngehargain filmnya dan terutama Pancasila itu sendiri. Selamat nonton! (sds)

Comments

comments

Gabrielle Claresta
Eccentric daydreamer