Jum'at, 24 September 2021

Genmuda – Kabar gembira buat kamu para pelajar atau pejuang skripsi yang suka kurang tidur nih, Kawan Muda. Kalo kamu selama ini cuma tidur sekali dalam sehari, mungkin abis ini kamu bakal pengen nambah jadi dua kali.

Kurang tidur emang udah terbukti bisa berdampak buruk bagi kinerja maupun kesehatan kita. Kini, para ahli pun percaya bahwa alasan di balik kenapa kita selalu ngeluh soal kurang tidur adalah karena kita seharusnya tidur dua kali sehari, bukan cuma sekali.

Lah, kenapa bisa gitu? Well, menurut para ahli, ide bahwa kita seharusnya nyoba buat tidur terus-terusan selama delapan jam di malam hari merupakan sebuah penemuan baru. Jam tubuh kita justru jauh lebih cocok dengan tidur yang dibagi jadi dua kali setiap harinya.

Yang lebih menariknya lagi, pola tidur segmented atau bimodal sleeping itu ternyata dulu cukup umum terjadi. Hal tersebut udah diungkapin oleh Dr Melinda Jackson, seorang psikolog spesialis gangguan tidur di RMIT University, dan Siobhan Banks, peneliti tidur di University of South Australia.

“Antropolog telah menemukan bukti bahwa selama masa pra-industri Eropa, bimodal sleeping dianggap sebagai hal yang umum,” jelas Dr Melinda dan Siobhan dalam sebuah artikel The Conversation. Keduanya pun ngasih contoh tulisan ‘Barnaby Rudge’ (1840) karya Charles Dickens, yang nyebut konsep segmented sleeping sebagai tidur pertama dan kedua.

Bukan cuma itu, waktu tidur kita sebenarnya juga engga ditentuin oleh waktu di hari itu, melainkan oleh apa yang harus kita lakuin dan kapan kita harus ngelakuin hal tersebut. Terkait segmented sleeping yang jauh lebih cocok dengan jam tubuh kita, Dr Melinda dan Siobhan nambahin pula contoh eksperimen dari psikiater Thomas Wehr di tahun 1990-an.

FYI, Thomas udah ngelakuin eksperimen selama empat bulan, di mana sekelompok orang dibiarin tinggal dalam kegelapan selama 14 jam sehari ketimbang delapan jam standar. Di minggu keempat, sebuah pola tidur dua fase baru yang berbeda akhirnya muncul.

Singkatnya, Thomas nemuin bahwa para peserta eksperimennya cenderung bakal tidur empat jam, bangun sekitar satu sampai tiga jam, lalu tidur lagi selama empat jam. Hal itulah yang kemudian bikin beliau nyimpulin bahwa orang-orang lebih sesuai sama pola tidur yang terbagi.

Engga ketinggalan, selain terbukti lebih cocok dengan jam tubuh kita, segmented sleeping juga terbukti bisa ningkatin kewaspadaan. Pola tidur tersebut ngasih dua periode peningkatan kewaspadaan, aktivitas, dan kreativitas di sepanjang hari, ketimbang waktu bangun yang panjang di mana ngantuk bisa terjadi dan produktivitas bisa berkurang. Kamu yang kerja dengan sistem shift pun bisa lebih fleksibel. (sds)

Comments

comments

Gabrielle Claresta
Eccentric daydreamer