Jum'at, 27 November 2020

Genmuda – Pengguna layanan Commuter Line atau KRL di lintas Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi dan Tangerang pasti udah tau kalo gerbong-gerbong kereta yang ditumpangi setiap hari adalah impor dari Jepang. Meskipun semua tulisannya ditutupi sama tulisan berbahasa Indonesia, tetep aja ada beberapa spot yang luput dan masih bertuliskan aksara Jepang.

Kenapa KRL diimpor dari Jepang?

via: Okezone
(Sumber: okezone.com)

Padahal, di Indonesia banyak anak teknik mesin dan industri perhubungan yang mungkin bisa memajukan transportasi Indonesia tanpa mesti impor kendaraannya langsung dari luar negeri. Kereta-kereta itu gak cuma diimpor aja, tapi semua gerbong yang diimpor itu adalah gerbong bekas, bukan baru.

Alasan utamanya adalah karena masalah harga. Dilansir dari marketeers.com, harga per gerbong bekasnya ini 600 juta – 1 miliar rupiah. Sedangkan untuk harga gerbong baru dijual seharga 12-15 miliar rupiah.

Kalo beli gerbong baru otomatis bakal berpengaruh sama harga perjalanan. Kalo KRL di Indonesia pake gerbong-gerbong yang baru, harga tiketnya bisa sampe sepuluh kali lipat. Wadaw!

Indonesia emang impor kereta dari Jepang, tapi kita juga ekspor kereta ke luar negeri loh!

via: Google
Ini dia kereta buatan PT INKA buat Bangladesh Railway (Sumber: Istimewa)

Industri perkeretaapian Indonesia gak melulu impor dari luar negeri loh. Ini dibuktiin sama PT INKA (Industri Kereta Api Persero) yang siap mengekspor 300 gerbong kereta api. Wah, keren banget kan?

Terdapat 300 gerbong kereta api yang siap dipasok ke Bangladesh dan juga Tanzania. Dilansir dari laman resminya PT INKA, BUMN pakai fasilitas pembiayaan dengan skema penugasan khusus ekspor atau disebut juga dengan istilah National Interest Account (NIA) dari pemerintah lewat Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).

“Minggu depan, kami dan Bangladesh akan tandatangan kontrak buat 50 kereta penumpang jenis BG.” jelas pak Cholik selaku Senior Manager Humas Protokoler PT INKA.

Rencananya, PT INKA dan Bangladesh bakal tanda tangan kontrak pengadaan 50 gerbong kereta penumpang jenis Broad Gauge (BG) untuk Bangladesh Railway Company di minggu depan. Gak cuma 50 gerbong aja, ternyata ini adalah bagian dari kontrak yang rencananya ditandatangani bersama yaitu pengadaan 250 gerbong.

Nilai proyek pengadaan 50 gerbong kereta ini senilai sekitar 700 – 800 miliar rupiah, tapi kalo total semua gerbong terpenuhi, maka nilai akan lebih dari 1,5 triliun rupiah.

Bangladesh sendiri puas sama produk kereta buatan PT INKA ini karena jarang ditemui kerusakan. Orang-orang teknisi pun ditempatkan di sana selama setahun buat mengontrol pengoperasian kereta disana.

Cuma Bangladesh aja negara penerima ekspor kereta ini?

via: Google
Penandatanganan kontrak pembuatan kereta untuk Tanzania (Sumber: Istimewa)

Gak dong. Ada negara lain juga yang udah pesan kereta di PT INKA ini. Negara tersebut adalah Tanzania yang udah pesen sebanyak 50 lokomotif. Karena Tanzania inilah PT INKA berniat buat mengembangkan pasar di daerah Afrika sana. Meskipun sebenernya potensi ekspansinya ada, tapi belum ada kejelasan juga apakah akhirnya bisa jadi kerja sama atau gak.

“Kalau bisa masuk ke pasar Tanzania, target kami Rp 2,6 triliun di tahun ini bisa terlampaui. Potensinya mencapai Rp 3 triliun. Di tahun lalu saja target Rp 1,6 triliun, realisasinya Rp 1,8 triliun,” tambah pak Cholik.

Kita doain aja ya semoga industri perkereta apian makin maju, dan negara kita tetep jadi pengekspor kereta api kedepannya. (sds)

Comments

comments

Fiany Intan Vandini
The youngest reporter on the 2nd floor of Gen Muda Office.