Rabu, 27 Oktober 2021

Genmuda – Hayo ngaku, kamu tanpa sadar pasti langsung goyang kan pas seketika denger bagian reff lagu “Despacito” atau lagu “Shape Of You?” Terus abis itu lagunya gak ilang-ilang di otak kamu, dan seharian itu nyanyian lagu itu tanpa sadar. Lagu itu juga akan terus keputer di otak kamu, dan inilah yang disebut sama ‘Last Song Syndrome‘.

Ternyata emang ada penelitiannya kenapa beberapa lagu itu stuck dan mengendap di otak kita, lalu terus-terusan keputer tanpa henti sampe kita sendiri gak tau kenapa itu lalu bener-bener gak ilang dari pikiran kayak si dia. Menurut penelitian di Durham University, beberapa lagu yang stuck di otak kita itu bisa berdiam di sana karena berdasarkan konten melodi lagu masing-masing.

“Kebanyakan musik ini punya tempo yang cepat dan interval yang ga biasa atau pengulangan yang unik, kayak yang biasa kita denger di lagunya Bad Romance punya Lady Gaga. Sekitar 90 persen dari kita mengalami ‘earworm’ seenggaknya sekali dalam seminggu, dan mungkin beberapa dari kita mengalaminya lebih dari itu. Biasanya itu terjadi ketika otak kita gak lagi melakukan apa-apa, misalnya ketika lagi mandi atau berjalan.” kata Dr. Kelly Jakubowski, dari jurusan musik Durham University.

FYI, ‘earworm’ itu adalah istilah untuk fenomena ketika terperangkapnya potongan musik yang dimainkan secara berulang oleh otak kita, meskipun musik tersebut udah gak lagi dimainkan. Sebutan-sebutan lain buat mendeskripsikan earworm adalah ‘musical imagery repetition’, ‘involuntary musical imagery’, dan ‘stuck song syndrome’.

Terus apa aja karakteristik yang bikin lagu itu jadi ‘earworm’?

Ada 3 karakter yang bisa menentukan lagu itu jadi earworm apa enggak, yaitu kecepatan, bentuk melodinya dan keunikan intervalnya. Bingung? Kita langsung kasih contoh sama lagu ya.

Kebanyakan lagu yang ketanam diotak itu adalah lagu-lagu yang beat-nya cepet, meskipun kita gak bisa ngikutin. Contohnya kayak lagu “Despacito” tadi. Meskipun kita gak tau liriknya karena berbahasa Spanyol, tetep aja kita bakal ikutan nyanyi walaupun cuma bagian depannya aja. Itu terjadi karena otak kita menangkap temponya yang cepat.

Selain itu, lagu yang punya tempo bertahap juga gampang direkam sama otak. Balik lagi ke contoh lagu “Despacito”, yang diawal lagu nyantai, di bagian bridge udah mulai agak cepet, dan klimaks up beat-nya di bagian chorus atau reff.

Yang kedua adalah tentang bentuk iramanya yang beda. Sebenernya mungkin lirik lagunya sederhana, musiknya juga sederhana, tapi punya pola yang berirama. Misal, lagu yang sederhana banget adalah “Twinkle, Twinkle, Little Star.” Lagu ini iramanya naik terus, tapi setelah itu langsung selesai dan balik lagi ke irama dasar. Lagu yang punya irama kaya gini udah gak bisa dielakkan lagi pasti jadi lagu yang ‘earworm’. Kalo gak percaya, coba aja nyanyiin.

Karakteristik yang terakhir adalah diliat dari keunikan intervalnya. Biasanya ditandai sama not yang diulang-ulang, dan seringnya kita denger di lagu-lagu pop mainstream jaman sekarang. Contohnya, coba kamu dengerin lagu “Shape Of You.”

Meskipun liriknya susah dan rapet, kamu pasti tetep bisa ngikutin karena nadanya sama dari awal sampe akhir. Kamu liat aja waktu Ed Sheeran melakukan ‘One Man Show’-nya di beberapa penampilan. Doi bener-bener atur semuanya sendiri, karena emang nadanya simple, dan sama dari awal sampe akhir.

Terus gimana cara ngehilangin lagu supaya gak keputer terus di otak?

Sebuah penelitian di Quarterly Journal of Experimental Psychology tahun 2015 menjelaskan kalo mengunyah permen karet adalah salah satu solusinya. Di beberapa percobaan, orang yang mengunyah permen karet dilaporkan lebih sedikit mengalami ‘earworm’ dibanding yang gak ngunyah. Jadi sekarang udah tau kan kenapa kamu gak berhenti kepikiran lagu “Despacito” dan gimana cara berhenti dari lagu itu? (sds)

Comments

comments

Fiany Intan Vandini
The youngest reporter on the 2nd floor of Gen Muda Office.