Jum'at, 21 Januari 2022

Genmuda – Nama Elon Musk dan Tesla Motors buatannya sungguh terkenal di luar negeri tapi cukup asing di Indonesia. Mungkin, malah masih ada yang mengira Elon Musk adalah nama seorang seleb yang pada akhirnya mempunyai brand sepeda motor.

Bukan ya, genks. Elon Musk emang digosipin lagi deket sama Amber Heard, seleb sekaligus model dan aktris cantik yang fotonya sering dipandang-pandangi penulis artikel ini. Tapi, cowok kelahiran Afrika Selatan yang berbisnis di Kanada dan AS itu sama sekali bukan seleb.

Doi merupakan pakar teknologi sekaligus pemilik brand mobil listrik (bukan motor) Tesla Motors. Ketidakpopulerannya di Indonesia–yang dikonfirmasi data Google Trends itu–cuma bisa nyimpulin satu hal. Mobil listrik gak populer apalagi berkembang pesat di Indonesia.

Padahal, Malaysia yang usianya belum sebanyak Indonesia aja udah berkomitmen ngembangin mobil listrik dari tahun 2016. Indonesia kapan? Ya kapan-kapan. Soalnya, masih banyak alasan klise hambatan soal pengembangan mobil listrik di dalam negeri. Misalnya, seperti yang ada di bawah ini.

1. Harganya mahal

via istimewa

Seorang pengamat otomotif, Suhari Sargo bilang kalo mobil listrik kurang diminati masyarakat Indonesia karena harganya mehong. “Hanya yang punya duit saja yang ingin punya mobil itu,” tuturnya dikutip viva.co.id, 2016.

Emang bener, sih. Mobil Tesla dibanderol dengan harga kisaran 69 ribu – 110 ribu dolar AS (923 juta – 1,3 miliar rupiah). Sekitar dua kali lipatnya harga mobil kelas SUV dan minibus berbodi besar yang gak muat masuk gang. Itu harga belum impor ke Indonesia, loh.

2. Stasiun pengisiannya belum banyak

Suhari Sargo juga bilang kalo kendaraan berbahan bakar dinosaurus meledak-ledak (maksudnya bensin dan solar) lebih disukai karena fasilitas pengisian bahan bakarnya gampang dijangkau. Gak kayak stasiun pengisian listrik yang praktis belum ada di Indonesia.

Kenapa belum ada di Indonesia? Karena kendaraan listrik belum populer di kalangan warga. Kenapa kendaraan listrik belum populer? Karena stasiun pengisian listriknya gak ada. Kenapa belum ada? Hah. Muter-muter aja terus jawabannya sampai ladang gandum berubah jadi sereal cokelat yang lezat.

3. Jarak tempuh terbatas

via tumblr.com

Terbatasnya jarak tempuh baterai kendaraan listrik jadi alasan ketiga tak populernya mobil listrik di Indonesia menurut Suhari. Emang, sih. Tesla Model S yang paling jelek di antara jenisnya cuma bisa menempuh 208 mil (sekitar 334 kilometer atau jarak Jakarta-Kotabumi) dalam sekali pengisian baterai.

Gak kayak mobil sehari-hari yang kira-kira tiap 50 kiometer harus isi bahan bakar karena tangkinya kosong (Sarcasm intended).

4. Kalo kehabisan energi, baterainya harus diisi cukup lama.

Mengisi baterai mobil listrik yang kosong melompong emang PR banget. Harus nunggu berjam-jam supaya listriknya terisi penuh lagi. Disarankan sih kendaraannya dicharge semalaman supaya baterainya pasti terisi full.

Akan tetapi, Elon Musk udah bikin semacam stasiun pengisian yang mampu mengisi penuh baterai kendaraan dalam waktu sekitar 30 menit. Lagi-lagi, stasiun pengisian super cepat itu belum ada di Indonesia karena kendaraan listrik belum populer.

5. Listrik di Indonesia dihasilkan dari tenaga fosil

via tenor.com

Iya, listrik di Indonesia mayoritas dihasilkan dari bahan bakar fosil macam batu bara. Tapi, bukan berarti memakai mobil listrik sama borosnya karena pembangkit listrik di Indonesia masih menghasilkan polusi. Gak gitu cara mikirnya.

Gini gaes, pabrik bensin dan solar kan juga beroperasi pakai listrik. Berarti, menggunakan mobil sehari-hari tuh tiga kali merusak alam. Polusinya berasal dari pembangkit listrik, pertambangan minyak bumi, dan asap knalpot.

6. Baterainya jadi limbah membahayakan

Keragu-raguan ngembangin kendaraan listrik di Indonesia juga terjadi akibat kekhawatiran limbah baterai mobil listrik tak terpakai bakal merusak lingkungan karena gak ada perusahaan yang bisa mengolahnya.

Kenapa gak ada perusahaan macam itu gak ada? Karena limbah baterai kendaraan listrik belum ada. Kenapa kendaraannya gak banyak? Ya balik lagi karena khawatir baterainya gak bisa didaur ulang. Balik lagi ke “lingkaran ladang gandum jadi sereal.”

7. Tenaga ahlinya dibajak negara lain

via reactiongifs.com

Alasan paling populer, nih. Indonesia kesulitan majuin industri kendaraan listrik (dan industri lain) karena para ahlinya dibajak negara lain. Kenapa dibajak negara lain? Karena industri kendaraan listrik di Indonesia belum pesat. Kenapa belum pesat? Ya balik lagi ke “lingkaran ladang gandum jadi sereal.”

8. Sulit dapat modal

Buat orang yang beralasan mobil listrik gak bisa populer karena sulit dapat modal, Genmuda.com mau bilang ini. Jangankan mobil listrik, bosque. Pensi SMA yang gak terkenal-terkenal amat juga gak bakalan maju kalo gak ada modalnya. Kenapa pensi anak SMA itu gak dimodalin sponsor? Ya karena pensinya gak tenar. Kenapa gak tenar? Karena gak ada modal. Muter-muter lagi, kan.

9. Belum banyak digunakan warga

via giphy.com

Serius. Ada yang menganggap ini adalah alasan tak populernya mobil listrik di Indonesia. MAKANYA JUAL MOBIL LISTRIKNYA BIAR BANYAK DIGUNAKAN WARGA.

10. Tak lolos uji emisi

Serius. Meski mobil ini gak punya knalpot pemerintah Indonesia gak ngelolosin uji emisi sejumlah mobil listrik. Jangan berburuk sangka dulu, genks. Mungkin keanehan itu terjadi karena peraturan uji emisi yang ada sekarang masih berpatokan pada anatomi kendaraan berbahan bakar fosil belum pada kendaraan listrik.

Kenapa peraturan uji emisi kendaraan listrik belum ada? Karena kendaraan listrik belum populer di kalangan warga.

Kesimpulannya, mobil listrik gak berkembang pesat di Indonesia tuh perkara “lingkaran ladang gandum jadi sereal.” Gimana menurut kamu? CMIIW, ya. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.