Sabtu, 17 April 2021

Genmuda – Di antara banyak peran penting dalam pergaulan, media sosial punya efek buruk bagi kesehatan gigi juga. Gaya hidup populer di medsos mendorong anak muda serampangan makan sehingga merusak mulutnya.

“Kopi, teh, fast food, kue, dan makanan lain yang dipertontonkan media sosial dan kemudian dikonsumsi anak muda terlalu banyak mengandung zat perusak gigi,” tutur Dokter Gigi Aditya Wisnu Putranto di sela Indonesia Dental Exhibition and Conference (IDEC) di Jakarta, Jumat (15/9). Bahkan gaya hidup merokok pun disorot di medsos.

Aditya juga bilang kalo sebanyak 60 persen pasien kliniknya masih berusia 16-30 tahun. Pada usia muda seperti itu, medsos sedang ramai-ramainya dipergunakan dari bangun tidur hingga tidur lagi. Penggunaannya juga ningkat dari tahun ke tahun.

Seberapa banyak meningkatnya?

via wegotfoodcovered.com
Makan yang manis-manis, enak! (Sumber: wegotfoodcovered.com).

Secara terpisah, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan nunjukin peningkatan kasus penyakit mulut terhadap remaja usia 15-24 tahun. Tahun 2003, jaman belum banyak medsos, sakit gigi lazim terjadi sebanyak 21,5 persen. Tahun 2013, ketika medsos makin marak, kasusnya naik jadi 24,3 persen.

Pengalaman Aditya nunjukin, anak-anak muda yang ke pasiennya mengeluh sakit gigi. Ketika dicek, giginya berlubang. Kasusnya beragam. Ada yang ringan sehingga gigi yang bermasalah masih bisa dipertahankan setelah diobati. Namun, ada juga yang harus cabut gigi karena kondisinya parah.

“Jumlah pasien muda yang cabut gigi memang tidak banyak. Hanya 5 persen saja. Namun, keadaan ini sungguh memprihatinkan mengingat anak muda belum sepatutnya keropos gigi,” ujar Aditya.

Akhirnya, ada beberapa anak muda yang ngotot menolak cabut gigi padahal kondisinya sulit diselamatkan lagi. “Kalau sudah begitu, dokter hanya bisa membantu penyembuhannya dengan memasang alat penyangga supaya gigi tidak rontok. Kenyamanan mulut pasti terganggu karena alat itu,” kata Aditya.

Selain gigi bolong, kasus apa lagi yang nimpa anak muda?

©Genmuda.com/2017 TIM
Dokter Gigi Aditya Wisnu Putranto. ©Genmuda.com/2017 TIM

Anak muda yang gaya hidupnya ngikutin tren kekinian di medsos juga rentan bergigi kuning. “Makanan-makanan yang populer sekarang mengandung berbagai zat yang merusak warna putih gigi. Bukan hanya kopi, teh pun punya efek merusak yang sama,” kata Aditya.

Karena itu, banyak juga anak muda kliniknya yang minta pemutihan gigi, mulai dari scaling yang hanya merupakan pembersihan kotoran yang nempel hingga veneer yang merupakan kegiatan memotong gigi jelek untuk diganti gigi buatan yang bentuknya dan warnanya lebih bagus.

Pada seminarnya di IDEC, Aditya memaparkan berbagai cara penanggulangan gigi berlubang sesuai pengalamannya. Selain teori, dia pun memberi kesempatan workshop menggunakan alat-alat kesehatan gigi Kavo Kerr.

Gimana cara supaya tetep ikutin gaya hidup tapi gigi juga sehat?

©Genmuda.com/2017 TIM
Seorang peserta workshop lagi jajal alat kesehatan gigi di IDEC. ©Genmuda.com/2017 TIM

Satu-satunya cara untuk hidup bergaya muda tanpa ngerusak gigi ya dengan menjaga kebersihannya, minimal dengan menyikat gigi. Riskesdas bilang kalo sikat gigi paling baik dilakuin setelah sarapan dan sebelum tidur.

Kata Aditya teknik menyikat yang benar bukan ke atas-bawa atau kiri-kanan. Melainkan, dengan gerakan melingkar. Supaya makin bersih dan wangi, jangan lupa pakai cairan pencuci mulut. Kalo perlu, bersihin sela gigi pakai dental floss juga.

Ada apa lagi di IDEC?

©Genmuda.com/2017 TIM
©Genmuda.com/2017 TIM

Selain seminar yang pastinya nambah banyak ilmu dan koneksi, acara ini juga pamerin teknologi-teknologi kesehatan gigi terbaru dari 229 merk dan bisnis. Mulai dari yang bentuknya kecil portable hingga yang besar hanya bisa diletakkan di area luas.

Acaranya diadakan atas kerjasama Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) bersama Traya Indonesia dan Koelnmesse dengan harapan memperkuat pelayanan kesehatan, tarutama menambah kualitas tenaga kesehatan supaya tak tertinggal negara lain. Makanya, mahasiswa kedokteran gigi gak bakal rugi kalo dateng ke sini! (sds)

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.