Kamis, 29 Juli 2021

Genmuda – Masuk pekan ke-16, Chelsea masih saja alami performa buruk. Diprediksi bisa melanjutkan tren baik seperti di Liga Champions, anak asuh Mourinho justru dibikin malu oleh Leicester City yang kini kokoh di puncak klasemen Liga Primer.

Selasa (15/12) dini hari tadi, Chelsea harus mengakui keunggulan anak asuh mantan manajer mereka, Claudio Ranieri. Jika pada tahun lalu sang juara bertahan kokoh di posisi atas, tapi tahun ini keadaan justru terbalik. The Blues hanya terpaut 2 tingkat dari zona degradasi.

Sejauh ini, Chelsea emang engga banyak melakukan perubahan cara bermain. Mou masih memaksakan strategi di musim lalu. Tentunya hal ini bukan hal umum, dimana para pesaing mereka di musim lalu, seperti Arsenal, City, United, bahkan Liverpool udah mulai melakukan perombakan.

(Sumber: Media Nu)

Pembelian Pedro dan Baba Rahman yang sejatinya bisa memberikan daya gedor di sektor depan dan belakang justru terbuang percuma. Tim London biru seperti kebingungan gaya permainan dan bingung mau ngapain di lapangan.

Skema serangan The Blues terasa monoton dan mudah ditebak. Jangankan kompetitor di Big Four, kelemahan ini pun mudah banget dibaca oleh tim-tim papan tengah. Praktis anak asuh Mourinho dipandangan seperti jadi tim papan tengah dan tidak memiliki mental juara.

Masalah Internal Tim

Tren buruk ini sih sebenarnya udah kebaca sejak awal musim 2015/2016, mulai dari perseteruan Mou dengan Dokter Tim, Eva Carneiro. Pelatih ini pun dianggap arogan dan egois dalam menghargai profesi tim medis di lapangan.

Engga berhenti cuma sampe di situ doang, sanksi yang didapatkan Costa saat menghadapi Arsenal juga jadi buah simalakama buat Chelsea. Lini depan jadi sorotan dengan absennya Costa. Kalau di posisi Mou kamu pasti bingung harus gimana?

(Sumber: Static Standard)

Seolah cobaan datang bertubi-tubi, Chelsea hanya memiliki sedikit opsi di lini belakang. Peran John Terry dan Ivanovic dianggap sudah berkarat. Cahill yang sejatinya jadi benteng tengah terlihat kewalahan menutup lobang di pertahanan Chelsea.

Melepas Cech ke Arsenal mungkin jadi penyesalan, tapi apa mau dikata peran Courtois di bawah mistar gawang juga masih belum seperti musim kemarin. Kendati dapat tambal sulam dari Asmir Begovic, tapi akuin ajalah kalo doi udah lumayan tua dan masih belum nyetel dengan permainan Chelsea.

Mau Sampai Kapan Percaya Mou?

Buat kamu fans Chelsea, pasti udah gemes dan engga sabaran supaya Abrahamovic menentukan posisi Mou di Stamford Bridge. Soal kualitas Mou sejatinya engga jelek-jelek banget kan. Tapi seperti yang disinggung sebelumnya, Mou kayaknya masih belum mau legowo merubah cara bermain anak asuhnya.

Kalau pun tim masih mempercayainya sebagai manajer sampai sekarang itu layak dikasih kredit lebih. Mengingat engga gampang membangun sebuah tim dengan isi pemain bintang dan usia yang bervariasi. Saya pun yakin jika Manajemen Chelsea menginginkan hal itu di Mou. Tapi pertayaannya “Mau sampai kapan?”

(Sumber: Getty Image)

Cinta ‘Si Bos’ emang engga bisa ditebak, malahan gampang berubah ke lain hati. Tengok aja 10 tahun kebelakang, tercatat udah 9 pelatih nanganin Chelsea. The Special One sih pede posisinya aman, karena para pemain dan fans The Blues kasih dukungan dan kepercayaan 100 persen sama doi.

Tapi saya yang aslinya cuma pengamat bola antar kampung cuma bisa bilang, kalau dari kekalahan tadi malam, saat Costa lempar kesalahan ke rekan satu timnya, sampe Mou ngerasa dikhianati oleh pemainnya, apa benar ya pria Portugal ini masih dipercayain 100 persen? Hmm…Kawan Muda percaya atau engga?

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.