Senin, 17 Januari 2022

Genmuda – Sebagai manusia secara seutuhnya, akan tiba saat lo datang ke sebuah konser musik mau sama pacar atau jomblo sama aja harga tiketnya engga turun, dan lo ngeliat segerombolan pengunjung di bibir panggung lagi dance yang kelihatannya rusuh abis. Terlebih kalo acara yang lo datangin nyuguhin band-band underground, seperti punk, post-rock, metal dsb.

Kalo lo liat hal itu, sikapi biasa aja sob, karena mereka biasanya penggemar berat band yang lagi tampil dan lagi larut dalam lagu yang dibawain. Gerakan yang mereka lakukan biasa disebut Moshing. Apaan tuh? *ala Bang Jaja Mihardja.

Moshing merupakan idiom kata atau kemajemukan yang kurang lebih berati menari dengan engga teratur di dalam acara musik rock. Dengan cara yang sedikit berbeda. Melompat-lompat lalu bertabrakan, atau malah saling sengaja nabrakin diri.

Kelihatannya sih emang rusuh abis, apalagi kalo lo pertama kali baru liat. Cewek lo pasti langsung minta pulang, itu juga kalo ada. Tapi, di balik semua itu ternyata menyimpan pesan yang ciamik guys.

Gerakan-gerakan moshing lahir bersamaan dengan kemunculan genre underground sendiri pada dekade 60-80an, yang pada saat itu didominasi oleh genre Punk/Ska, Hard/Grind Core, sampai di era Thrash/Heavy metal.

Nah, pada dasarnya moshing lahir sebagai penghilang diskriminasi pasif pada egalitas musik guys, di masa genre underground jadi sub-kebudayaan yang paling aktif terhadap modernitas dan resistensi pada neo-imperialisme.

  1. Mosh Pit
(sumber: slowrobot.com)

Ngintip dari urbandictionary, ‘Mosh Pit’ artinya tempat lo bisa mengekspresikan lagu yang lagi dibawain band penampil dengan tarian reflek sesuka hati lo. Biasanya di depan panggung dan pastinya sudah dipenuhi penonton yang moshing.

2. Closed Pit:

(Sumber: yimg.com)

Gerakan ini terjadi biasanya saat band yang ditunggu-tunggu membawakan lagu andalannya. Lo udah dempet-dempetan di depan panggung, dan kiri kanan lo udah kawan lo yang keringetan engga karuan. Di sini lo bisa angkat tangan lo ke atas dan menikmati lagu, atau sikut kiri-sikut kanan. Jangan lupa tapi sama dompet, kan ada foto ‘si eneng’. He-he

3. Open Pit:

(Sumber: leica-camera.com)

Moshing ini bisa jadi yang terburuk atau terbaik. Tergantung posisi lo. Di sini lo bebas milih siapapun di lantai penonton, didampingi rekan terdekat lo pastinya. Setelah lo dapet, lo bisa lempar orang itu ke lantai dan kembali berdansa.

4. Cirle Pit:

(Sumber: amandajanik.com)

Dalam gerakan ini nilai kebersamaan bakalan berasa banget, di mana para moshers saling berpegangan sampai membentuk sebuah lingkaran besar di tengah lagu dan para penonton lain. Pegang tangan penonton di sebelah lo sekuat mungkin lalu berputar mengikuti arah jarum jam. Resepnya, jangan sampai lepas guys, kalo putarannya lagi cepat banget lo bisa mental.

5. Slam Dancing

(Sumber: tribunnews.com)

Mungkin ini gerakan yang paling sering lo liat kalo lagi nonton konser. Lo diangkat sama kedua temen lo, tangan lo berpangku di belakang leher mereka dan memegang bahu. Serunya, saat lo udah diangkat, kaki lo di pegang dan dinaikin ke atas. Lo bisa sebebas mungkin nendang-nendang yang ada di depan bersamaan dengan kedua temen lo yang ngangkat lo.

Emang kalau kita bayangin kayaknya serem juga, tapi biasanya semua rasa sakit yang diterima karena engga sengaja, hingga berakhir dengan salaman atau saling pelukan. No hard feelings.

Engga lepas dari semua itu, sekarang Mosh Pit mulai terlihat beralih fungsi dari menikmati lagu dan memberi dukungan terhadap band, menjadi penyaluran emosi, tindakan anarkis, dan kebrutalan aja.

Engga heran banyak korban yang merasakan keganasan Mosh Pit. Pihak penyelenggara musik biasanya udah memberi himbauan dalam setiap acara untuk mengingatkan. Jadi tetap asik dan engga anarkis ya Kawan Muda! (sds)

Comments

comments

Bobi Brilyan Bastenjar
Valar Morghulis