Minggu, 9 Agustus 2020

Genmuda – Berangkat dari keresahan bertegur sapa dan berteman secara langsung di tengah kultur maya, menginspirasi Buka Warung menggelar sebuah pameran bertajuk “Why Can’t We be Friends?” di Qubicle Center, Senopati, Jakarta.

Berbeda dari biasanya, pameran yang dibuka pada Sabtu (19/3) kemarin dihiasi dengan banyaknya coretan hitam-putih di dinding. Coretan tersebut bermaksud mengajak pengunjung yang datang untuk berinteraksi dengan mewarnai bersama.

(Foto: BBB/Genmuda 2016)
(Foto: Genmuda.com/2016 Bobi Brilyan)

“Kita bikin pameran yang interaktif. Jadi orang yang dateng, meskipun mereka asing bisa bikin mural sama-sama,” tutur Gesyada Annisa Namora Siregar selaku kurator pameran. “Idenya datang dari perasaan kami sebagai generasi yang kenal kultur digital. Kita cuma gambar outline-nya aja, jadi pengunjung yang dateng bisa ngisi dengan crayon yang kita buat sendiri,” sambungnya.

Selain menggambar bersama, sejumlah karya dari penghuni Buka Warung turut menghiasi Qubicle Center. Di antaranya, instalasi seni serat yang dipamerkan oleh Indonesia Contemporary Fiber Art Movement (ICFAM).

Pembukaan berlangsung pukul 19.00 WIB dengan sambutan hangat dari Ardini Azzah, salah seorang inisiator pameran “Why Can’t We be Friends?”. Para pengunjung yang datang pun ditemani penampilan dari Sawi Lieu, Bedchamber dan Deufegne yang berkibar di bawah naungan Kolibri Records.

Hebatnya, pameran ini terselenggara buah jerih payah 17 perupa muda perempuan dari berbagai kampus dan disiplin ilmu. Ketika ditanya tentang persoalan perempuan yang menjadi kunci dalam pameran ini, Gesya menjawab, “Gak ada tendensi seperti itu. Sebenernya alasannya sendiri itu gue berpikir kira-kira gimana jadinya kalo anak seumuran gue, khususnya perempuan, bikin karya bareng-bareng. Hasilnya tuh gimana, di tengah kesibukannya masing-masing,” paparnya.

“Sebagai perupa, sama aja kayak anak band, pasti mau nge-gigs. Nah, buat anak-anak yang suka bikin karya, ya lewat pameran.”

Menanggapi hal ini, salah seorang pengunjung laki-laki mengaku tersentil, dalam arti yang positif. “Acaranya bagus. Pameran ini yang ngadain tuh cewek-cewek. Menurut gue satu gerakan di generasi sekarang yang cukup menyentil lah. Apalagi kita, yang cowok-cowok malah gak kayak gini. Respect,” ujar Ragil, seorang mahasiswa salah satu Institut di Jakarta.

Pameran akan berlangsung kurang lebih selama satu bulan, sejak 19 Maret 2016 hingga 15 April 2016. Setiap akhir pekan, berbagai workshop akan disajikan untuk para pengunjung, seperti membuat tie-dye (ikat celup), stiker, live sablon dan cetak cukil lino.

Buka Warung sendiri merupakan sekumpulan perupa muda Jakarta yang terdiri dari Gesyada Annisa Namora Siregar, Ardini Azzia, Nastiti Dewanti, Dinda Larasati, Smita Kirana, Nitya Putrini, Retno Tiawan, Puji Lestari, Nina Alatas, Deya Ayu Defrillia, Devi Merakati, Jekenjel, Chairunnisa Setya Utami, Indira Natalia, Rahimah Zulfa, Diah Kusumawardani, dan Bunga Irmadian. Terbentuk sejak Mei 2015, Buka Warung telah melangsungkan 4 acara pameran, termasuk “Why Can’t We be Friends?”.

S__36298760(sds)

Comments

comments

Bobi Brilyan Bastenjar
Valar Morghulis