Senin, 23 Mei 2022

Genmuda – Arti kata “narsis” mengalami penyempitan makna dalam pergaulan sehari-hari. Kata itu biasa disematin ke orang yang terlalu menghargai dirinya atau lebih sempit lagi, ke orang yang hobi foto selfie. Padahal, belum tentu mereka emang narsis.

Dalam dunia medis, kamus Merriam-Webster bilang kalo narsis berarti kelainan kepribadian yang membuat penderitanya merasa paling penting. Mereka juga butuh dipuji secara rutin, engga berempati, terlalu banggain prestasi, sombong, dan suka menghina orang.

Definisinya jauh lebih detil daripada sekedar suka foto muka sendiri. Penelitiannya Steven Holiday dari Brigham Young University, 13 Januari lalu bilang kalo selfie bisa disukai karena tiga alasan. Salah satunya sama sekali engga narsis.

Penyuka komunikasi

via Tumblr.com

Alasan pertama merupakan penyuka komunikasi, atau communicators. Mereka yang tergolong kategori ini nyebarin foto selfienya di media sosial murni karena pengen ngobrol dan berbagi info sama netizen lain. Meski selfie-nya dicengin, mereka cuek.

Melalui foto selfie, para communicators pengen bercerita soal lokasi atau kegiatan yang dilakuin saat selfie. Mereka merasa, cara itu lebih cepet dapet respon daripada sekedar memotret pemandangan ataupun peristiwa yang sedang terjadi. Selain itu, selfie juga jauh lebih menyenangkan.

Model dadakan

View post on imgur.com

Steven Holiday netizen gemar nyebarin selfie juga karena menghasilkan foto yang ciamik. Foto yang disebar hanyalah foto yang membuat mereka keliatan lebih cantik, kurus, dan menarik. Misalnya dia ngambil 100 selfie dalam sehari, cuma segelintir terbaik yang disebar ke medsos dan sisanya disimpan.

Mau fotonya dipuji, dicengin, atau dicuekin sama sekali, mereka engga peduli. Yang penting, selfienya penuh keunikan dan kreativitas. Kalau pakai istilahnya penulis artikel ini, mereka adalah model-model dadakan.

Autobiografer

via giphy.com

Selfie di medsos bisa jadi sifatnya lebih personal. Ada juga loh netizen yang mengupload selfie-nya cuma karena pengen ngerekam untuk keperluan sendiri. Di antara ratusan selfie yang diambil, cuma yang paling memorable dan ada kisahnya aja yang diupload. Sisanya mungkin dihapus.

Fenomena mendokumentasikan diri seperti itu dalam sejarah biasanya dilakuin dengan menulis di buku harian. Sebagian golongan autobiografer juga selfie karena pengen lebih mengenal dirinya sendiri sesuai dengan yang dilihat orang lain.

Itulah tiga alasan umum yang mengkategorikan netizen penggemar selfie. Tuh, kan. Salah satunya sama sekali bukan narsis. Setelah dibaca, jadi Kawan Muda termasuk golongan yang mana? Tulis komentar kamu di bawah ini, ya.

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.