Senin, 1 Juni 2020

Genmuda – Hasil foto keren bisa didapat bukan cuma dengan modal pencahayaan, sudut pandang foto, dan komposisi. Momen jadi salah satu faktor penting yang bikin sebuah foto jadi bermakna. Tanpa itu, hasil jepretan yang udah diatur dengan teknik njilemet bakalan dilirik sekilas doang.

Manusia jelas jadi salah satu objek foto yang bisa menghasilkan momen tersebut. Di antara begitu banyak hasil jepretan para fotografer, wartawan, dan anak-anak instagram, berikut inilah sejumlah hasil jepretan paling oke dengan momen yang engga bakal keulang dua kali.

Hope For a New Life

(Sumber: World Press Photo)

See. Bahkan foto kece yang bisa menangkap momen penting engga butuh warna-warni atau gambar sangat fokus. Warren Richardson bisa menghasilkan hasil jepretan blur dan mungkin agak terdistorsi, namun tetep priceless. Foto ini menceritakan perjuangan pengungsi Syiria dari Serbia ke Hungaria. Sepasang orangtua terlihat sedang mengoper anaknya melalui celah di bawah kawat berduri ke tempat yang lebih aman.

March Against Police Violence

(Sumber: World Press Photo)

Baru-baru ini, sejumlah demonstrasi yang berakhir rusuh kerap terjadi di Amerika Serikat. Demonstrasi itu berusaha mengeritik polisi-polisi AS yang mayoritas berkulit putih itu memperlakukan warga kulit hitam di Negeri Paman Sam sebagai warga kelas dua.

Sejumlah penembakan pun terjadi dan membuat suasana makin runyam. Di foto ini, John J Kim nunjukin kalo polisi AS tuh engga semuanya berkulit putih dan jahat. Ada juga yang berkulit hitam dan taat melakukan tugasnya. Sementara itu, warga kulit hitam engga selamanya rusuh, karena ada pendemo yang tetap tertib meski lagi face-to-face dengan polisi.

Talibes, Modern-day Slaves

(Sumber: World Press Photo)

Foto Mario Cruz ini berhasil nunjukin kalo kemajuan teknologi dan ekonomi yang dirasakan sejumlah negara, termasuk di Indonesia tuh merupakan kemewahan. Soalnya, masih ada bocah kurus kering, kurang makan, kesulitan air yang tinggal di sebuah kamar mirip sel seperti di foto ini.

Sejumlah anak usia 5-15 tahun di negara itu emang sering dikirim ke sekolah macam pesantren untuk belajar agama. Sayangnya, sekolah seperti itu kekurangan dana sehingga gagal memenuhi nutrisi murid-muridnya. Metode mengasuh pun engga terkontrol sehingga seorang bocah diperlakukan seperti ini.

Ketagihan Batu Bara

(Sumber: World Press Photo)

‘China’s Coa Addiction’ jadi karya jepretan Kevin Frayer yang diambil di utara Provinsi Shanxi, Tiongkok dan masuk peringkat pertama nominasi foto kehidupan sehari-hari World Press Photo. Foto ini mengontraskan semangat kerja karyawan-karyawan Tiongkok dengan kenyataan bahwa industri negara itu berdampak buruk pada lingkungan karena polusinya gila-gilaan. Pabrik-pabrik di Tiongkok emang menggunakan batu bara sebagai bahan bakarnya.

Shaolin Monk

(Sumber: hiconsumption.com)

Foto ini dijepret Steve McCurry di sebuah Kuil Shaolin, Provinsi Henan, Tiongkok, sekitar 2004. Sejumlah media bilang foto ini termasuk ke dalam foto jenis kontemporer. Foto yang diambil lebih dari satu dekade lalu itu pun masih keren bagi anak-anak kekinian.

Biksu yang lagi meloncat terlihat banget sedang berjalan di tembok buat ngelewatin temen-temen yang duduk-duduk di bawahnya. Foto ini pun langsung bisa nyeritain kerasnya latihan biksu Shaolin dan besarnya manfaat latihan keras itu.

Paris of Africa

(Sumber: Time.com)

Republik Demokratis Kongo terkenal di media sebagai negara yang warganya kerap berperang. Yvonne Brandwijk namun berhasil ngejepret sisi lain kehidupan di negara itu. Rupanya, minat fashion yang glamor dengan gaya kebarat-baratan pun diminati di kalangan high-end negeri itu, terutama di ibukotanya, Kinshasa.

Hasil jepretan Branwijk jelas jadi bukti kontras kondisi Kongo yang selama ini disorot media internasional. Foto ini pun jadi salah satu karya yang masuk ke dalam Sony World Photography Award 2016. Gokil!

Disabilitas Bukan Batas

(Sumber: Time.com)

Rob Gregory punya mata jeli dan tangan cekatan dalam mengambil momen pebasket kursi roda dari tim RIC Hornets ini. Dengan sekali melihat jepretannya, orang langsung tau makna fotonya: disabilitas sama sekali engga jadi batasan bagi siapapun. Foto yang awalnya ditujukan buat Program Olahraga Adaptif Institut Rehabilitasi Chicago Amerika Serikat ini pun masuk ke dalam daftar Sony World Photography Awards 2016.

Selfie Suci

(Sumber: Time.com)

Tanpa perlu tahu di mana perempuan yang berhijab ketat di foto ini berada, kita bisa dapat pesan kalo tiap wanita punya dorongan buat menonjolkan diri. Terlepas dari perdebatan antara kaum feminisme dan patriarki, naluri untuk tampil kerap dimiliki setiap manusia. Bahkan perempuan yang taat membatasi dirinya pun menginginkan itu. Karena itulah karya Kristoffer Eliassen ini juga masuk daftar Sony World Photography Awards 2016. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.