Senin, 26 Juli 2021

Genmuda – Masih ingat kisruh Hooligans vs Ultras pasca pertandingan Inggris kontra Rusia 12 Juni WIB lalu? UEFA udah mutusin bahwa fans Rusia (Ultras) merupakan provokator atas insiden itu. Russia pun diberi denda sebesar 150.000 Euros (sekitar 2.3 miliar rupiah) dan suspended disqualification.

Dengan kata lain UEFA bakal mendiskualifikasi Russia dari Euro 2016 kalo supporternya berbuat onar lagi. Tapi, sanksi buat Rusia bukan cuma itu, Kepolisian Prancis juga mendeportasi paksa 29 Ultras, termasuk pemimpin Persatuan Supporter Russia Alexander Shprygin, Selasa (14/6) waktu setempat.

Rombongan fans itu ditahan dalam perjalanan dari Marseilles ke Lille buat nonton Rusia kontra Slovakia. Diberitakan The Independent, Alexander Shprygin melakukan hormat ala Nazi sebelum ditangkap. Padahal, Prancis memiliki pengalaman buruk dengan partai ultra nasionalis pimpinan Hitler tersebut.

Sebelum penangkapan itu, Kepolisian Prancis telah menangkap sekitar 300 orang, padahal Euro 2016 belum menyelesaikan babak penyisihan grup. Warga Prancis tentu saja khawatir reaksi Ultras begitu Rusia lolos grup, atau lebih parahnya engga lolos grup.

BBC, Jumat (17/6) ngelaporin kalo Prancis telah memberikan sanksi tambahan, yakni pelarangan berkunjung ke Prancis selama dua tahun. Tiga orang Ultras yang ditangkap pun ada yang dipenjara masing-masing 12, 18, dan 24 bulan di penjara Prancis.

Rusia geram

(Sumber: Huffington Post)

Tentu saja, pemerintah Rusia engga tinggal diam. Kementerian Luar Negeri Rusia ngeluarin pernyataan buat “menghentikan sikap-sikap anti Rusia seperti yang sudah ditunjukkan.” Arkady Dvorkovich, Deputi Kemenlu Rusia berharap penduduk Rusia yang ditahan bisa segera dikembalikan agar disidang sesuai hukum yang berlaku di Russia.

Duta Besar Prancis di Rusia pun dipanggil Kemenlu dan diminta melakukan investigasi buat ngebuktiin kalo pihaknya engga asal tangkep. Terkait hal itu kepolisian Prancis menduga, para Ultras emang ‘terlatih untuk berbuat seperti itu.’

Kenapa pemerintah Rusia sampai ikut campur secara politik di pesta olahraga ini?

Presiden Vladimir Putin (kanan) dan Alexander Shprygin (kiri) ketika upacara peletakan karangan bunga untuk pendukung Spartak Moscow yang tewas, medio 2010. (Sumber: The Independent)

Campur tangan secara politik dirasa perlu oleh Rusia karena ada pemenjaraan warga negaranya di negara asing. Kedua, karena ada kabar kalo pemimpin supporter Rusia, Alexander Shprygin dan Persatuan Pendukung Russia-nya ternyata mendapat dukungan dari Presiden Rusia, Vladimir Putin.

BBC ngelaporin, kalo persatuan pendukung itu didukung sepenuhnya oleh Pemerintah Pusat Russia, bukan hanya segelintir politikus aja. Sementara itu The Independent bilang kalo Menteri Olahraga Rusia, Vitaly Mutko sampe memberi selamat kepada Shprygin usai bentrok dengan pendukung Inggris.

Meski begitu, Shprygin membantah kalo ucapan selamat itu diberikan terkait kerusuhan. “Pak Mutko memberi selamat karena Rusia berhasil menahan imbang Inggris dan memulai Euro 2016 dengan baik sesuai harapan. Tidak lebih.”

Aktivis sepak bola dunia angkat bicara

Piara Powar, direkturnya FARE. (Sumber: The Guardian)

Insiden yang melibatkan Rusia itu sampe jadi perhatian organisasi anti isu SARA dan penjunjung sportivitas olahraga FARE. Organisasi yang berafiliasi dengan UEFA itu mengecam tindakan para Ultras, termasuk ketika Shprygin melakukan hormat ala partai Nazi.

Bahkan, kecaman itu udah dilontarkan FARE untuk Persatuan Pendukung Rusia sejak tahun lalu. Terlebih lagi karena Rusia ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018. Isu rasial yang disebut-sebut ultra nasionalis itu dinilai membahayakan turis asing dan pemain bola yang datang nanti pada pagelaran tersebut nantinya.

Direktur Eksekutif FARE, Piara Powar bilang, “Shprygin sama sekali tidak berhak bergabung dengan organisasi manapun terlebih lagi di tempat yang ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia.” FARE khawatir tindakan pemimpin suporter Rusia itu bisa memancing kekerasan serupa dari pihak lain yang tadinya diam.

Semoga ini bisa jadi pelajaran buat kita semua buat selalu menjaga sikap di mana pun dan kapan pun itu. Terutama kalo kita berkunjung ke negara orang ya. Bahkan buang sampah aja bisa kena denda dan dapet hukuman tegas loh kaya di Singapura. Pesannya sih cuma satu. Tetep sopan ya, gaes. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.