Minggu, 29 Januari 2023

Genmuda – Tanggal 12 November diperingati sebagai Hari Kesehatan Nasional. Layaknya sebuah peringatan eurofia peringatan Hari Kesehatan identik dengan budaya menerapkan hidup sehat kepada masyarakat.

Mens sana in corpore sano atau yang dikenal “Jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat” jadi jargon yang hafal banget kita dengar kalo ngomongin soal kesehatan. Tapi kalau yang namanya udah sakit ya larinya ke dokter bukan dukun. Peringatan Hari Kesehatan Nasional 2015 juga jadi catatan penting atas wafatnya seorang dokter muda bernama Dionisius Giri Samudra atau yang akrab disapa Andra.

Saat menjalankan tugasnya di Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku. Dokter yang sedang mengikuti program magang ini meninggal pada hari Rabu (12/11) pukul 18.18 WITA, atau bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional. Dari beberapa sumber yang dirangkum Genmuda.com Andra meninggal setelah terkena morbili atau campak yang disertai radang selaput otak saat ditangani tim dokter RSUD Cendrawasih Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru

Andra sebelumnya sempat mau dirujuk ke rumah sakit di Ambon, Maluku, namun karena terkendala alat transportasi dari Dobo ke Ambon yang memakan waktu dan biaya yang cukup besar, dokter muda ini harus menghembuskan nafas terakhirnya di Dobo. Rasa simpati dan dukungan diberikan oleh para netizen hingga Ikatan Dokter Indonesia atas dedikasi Andra dalam menjalankan tugasnya sebagai dokter.

Namun belajar dari kasus ini, pemerintah kemudian juga menjadi sorotan atas belum ratanya perbaikan sarana medis, dari pengadaan transportasi dan sarana lainnya di wilayak terpencil. Maklum aja, sebagai tenaga medis seorang dokter wajib mengikuti program magang, dengan upah di bawah UMR.

Terlepas dari takdir yang engga bisa kita tolak, program magang membantu Dokter Muda untuk terapan klinis atau kira-kira lebih mirip PKL ya. Tapi Kemenkes pun menjadi sorotan karena program intership kedokteran tersebut. Perlu ada evaluasi yang lebih dalam, alias engga boleh asal-asalan menugaskan dokter muda sehingga mereka bisa dibimbing oleh para ahli yang kompeten di bidangnya.

FYI, buat seorang dokter mungkin punya jatah izin sakit lebih sedikit daripada orang kantoran atau malah buruh pabrik dalam satu tahun mereka berkerja. Sederhana aja, kalau dokter sakit kelamaan pasiennya gimana? Terus kalau dokter sakit memangnya engga manusiawi? Ya…namanya hidup selalu aja ada pro-kontra di balik semua persoalan.

Saya percaya dan yakin 100 persen setiap perkerjaan punya risiko dan tanggung jawab masing-masing, antara profesional dan tanggung jawab selalu berjalan beriringan. Suka tidak suka yang dijalankan. Ya namanya sudah profesi betul kan? Terlebih lagi dokter yang harus sigap dan tanggap 24 jam. (Itu juga alasan kenapa jadi dokter itu masuknya engga gampang)

Setelah kejadian ini apakah semua anak muda ketar-ketir dan mikir dua kali kalau mau bercita-cita menjadi dokter? Saya rasa sih engga. Faktanya masih banyak dokter yang berdedikasi dalam profesinya. Tengok aja dokter Lo Siaw Ging yang engga pernah meminta bayaran kepada pasiennya. Jadi dokter itu pekerjaan yang mulia.

Kalau para guru punya gelar pahlawan tanpa tanda jasa, lantas apa dong yang bakal para dokter dapatkan? Apakah harus dibayar dengan air tuba oleh pemerintah kita. Ah, kok tulisannya jadi ribet dan sok kritis ya? Sudah ah, boleh becanda tapi tetap serius ya.

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.