Selasa, 1 Desember 2020

Genmuda – Sekolah di Korea/Jepang yang berseragam sailor lucu buat cewek dan jas kece buat cowok, atau sekolah di Amerika Serikat yang pakai baju bebas sukses bikin iri terutama anak-anak sekolah negeri di Indonesia. Akibatnya, seragam putih abu-abu banyak dimacem-macemin biar terasa agak trendy.

Semua sekolah di Indonesia, termasuk sekolah negerinya bisa mengubah bentuk seragamnya jadi pakaian sailor atau mungkin baju bebas. Hanya saja, pasti butuh waktu lama karena sistem yang udah terbentuk mengharuskan sekolah negeri pakai seragam putih abu-abu yang ikonik itu.

Di balik tampilan luar yang keren, sekolah-sekolah luar negeri juga menyimpan peraturan yang bisa bikin anak-anak Indonesia ogah sendiri. Peraturan-peraturan seperti di bawah ini, tapinya dianggap lumrah aja sama anak-anak sekolahnya karena mereka udah biasa ngerasain dari kecil.

1. Sepatu harus seragam

via rakuten.co.jp.
Sepatu formal yang biasa dipakai siswa Jepang. (Sumber: rakuten.co.jp).

Seragam sailor sekolah di Jepang ternyata harus “dibayar” juga dengan sepatu yang harus seragam. Lain dari sekolah negeri Indonesia yang cuma ngewajibkan sepatu hitam tanpa mempermasalahkan model dan merknya. Biasanya, sepatunya bakal berbentuk sepatu formal kayak orang kerja. Sepatu ketsnya baru dipakai saat pelajaran olahraga. Ribet amat.

2. Masuk kelas copot sepatu

via wikimedia.org
Dua jenis sepatu dalam kelas (uwabaki) yang diwajibkan di beberapa sekolah Jepang. (Sumber: wikimedia.org).

Udah gitu, sebagian sekolah di sana ngewajibkan tiap murid mengganti sepatu ketika masuk kelas. Sepatu putih yang jadi penggantinya juga udah diseragamin bentuknya. Dengan begitu, satu anak sekolah di Jepang otomatis punya tiga jenis sepatu, yaitu uwabaki, sepatu formal, dan sepatu olahraga.

3. Piket sampai harus nyapu dan mengepel

via gilig.wordpress.com
Kebiasaan piket dan gotong-royong udah diajarin dari kecil di Jepang. (Sumber: gilig.wordpress.com)

Ketika anak-anak sekolah di Indonesia bisa langsung cabut ketika bel pulang berdering, anak-anak sekolah Jepang yang kebagian jatah piket masih harus bersihin kelas. Bersihinnya gak cuma ngapus papan tulis, tapi sampai nyapu dan mengepel sampai bersih-sih-sih-sih.

4. Cabut sekolah ditangkap polisi

via chroniclelive.co.uk
Polisi lagi menginterogasi dua anak sekolah yang ketauan cabut. (Sumber: chroniclelive.co.uk).

Di Inggris, anak-anak sekolah yang ketauan cabut bisa diamankan polisi dan dibawa paksa ke sekolahnya. Dalam perjalanan, polisi bakal mengontak sekolah dan ngasih peringatan pertama ke orang tua siswa. Kalo ketauan cabut lagi, polisi bakal mendenda pelakunya sebesar 50 poundsterling, sesuai dengan peraturan yang berlaku sejak 1998.

5. SMA sampai 4 tahun

via microsoft.com
Tampang-tampang yang SMA-nya 4 tahun. Di AS itu normal karena emang lama pendidikannya seperti itu. (Sumber: microsoft.com).

SMA selama tiga tahun aja rasanya udah ngebosenin banget, apa lagi empat tahun seperti kebanyakan sekolah di Amerika Serikat. Itu bukan “veteran,” loh, tapi lama waktu pendidikan sesuai peraturan undang-undangnya.

6. Sistem SKS dari masa SMA

via isd623.org.
Sistem belajar anak SMA di AS juga kayak anak kuliahan. (Sumber: isd623.org).

Anak-anak SMA Amerika Serikat udah diperkenalkan Sistem Kredit Semester (SKS), yang berarti mereka bisa tentuin mata pelajarannya sendiri seperti anak-anak kuliahan. Untung aja di Indonesia belum ada sistem kayak gitu sehingga anak-anak muda gak perlu lebih terbebani banyak pilihan.

7. Penembakan di sekolah

via theipinionsjournal.com
Anak-anak SMA AS diungsikan ke halaman parkir sekolah saat ada siswa yang menembak siswa lain. Amit-amit jabang bayi. (Sumber: theipinionsjournal.com).

Bullying dan kenakalan remaja pasti terjadi di semua sekolah. Anak-anak sekolah di Indonesia masih bisa bersyukur karena kenakalan remaja gak berujung jadi kasus penembakan. Meski ada kasus pembunuhan (amit-amit), jumlahnya jelas gak sebanyak di Amerika Serikat, tempat yang sangat gampangin orang punya senjata api.

8. Bunuh diri

via nytimes.com
Aksi berkabung murid-murid di Korea Selatan saat ada temennya yang bunuh diri. (Sumber: nytimes.com).

Di Drama Korea mungkin jarang dibahas, tapi fakta nunjukin kalo tingkat bunuh diri anak usia 15-24 tahun Korea Selatan begitu tinggi. Stres dan depresi jadi salah satu penyebabnya, karena persaingan pendidikan di sana begitu kompetitif. Tahun 2010 aja tercatat kalo ada 146 anak kuliah, 53 anak SMA, dan 3 anak SD yang bunuh diri. ANAK SD LOH!! (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.