Jum'at, 25 September 2020
Hiburan

Buka Printemps Français 2016 di Jakarta, Pertunjukan Wayang Kontemporer ‘L’Oiseau’ Beri Suasana Magis

Pertunjukan wayang kontemporer 'Sang Burung' di Plaza Senayan, Jakarta, Sabtu (30/4) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)

Genmuda – Festival seni Prancis-Indonesia Printemps Français 2016 udah dibuka nih, Kawan Muda. Menyusul pembukaan resminya di Yogyakarta, Kamis (28/4), Institut Prancis di Indonesia (IFI) pun kembali ngegelar pertunjukan ‘L’Oiseau’ (‘Sang Burung’) di Jakarta, Sabtu (30/4).

Proyek ‘Sang Burung’ merupakan hasil karya seniman Prancis Les Rémouleurs yang terdiri dari Gallia Vallet, Olivier Vallet, dan Anne Bitran. Mereka berkolaborasi dengan sejumlah seniman Indonesia, yaitu Bob dari Komunitas Marjinal Kolektif (Jakarta), Heri Dono, Rangga Jadoel dan Sugeng Utomo (Yogyakarta), serta Gepeng Dewantoro dan Wayang Motekar (Bandung). Ada pula band asal Yogyakarta, Senyawa, yang ngiringin pertunjukan dengan musik etnis kontemporer.

FYI, kolaborasi Les Rémouleurs bareng para seniman dan musisi Indonesia sebenarnya udah dimulai dari empat tahun yang lalu saat Les Rémouleurs datang ke Jakarta. Setelah sempat kembali ke Tanah Air pada bulan Oktober 2015, barulah Les Rémouleurs bersama para seniman dan musisi Indonesia ngelakuin program ‘kerja bareng’ alias residensi bareng IFI Yogyakarta pada 3 sampai 15 Maret.

Les Rémouleurs bersama para seniman dan musisi Indonesia yang terlibat dalam pertunjukan wayang kontemporer 'Sang Burung' di Plaza Senayan, Jakarta, Sabtu (30/4) (Sumber: Istimewa)
Les Rémouleurs bersama para seniman dan musisi Indonesia yang terlibat dalam pertunjukan wayang kontemporer ‘Sang Burung’ di Plaza Senayan, Jakarta, Sabtu (30/4) (Sumber: Istimewa)

Selain itu, dalam acara meet and greet di Plaza Senayan, Sabtu (30/4), Anne ngewakilin Les Rémouleurs ngejelasin pula kalau burung sengaja dipilih karena filosofinya yang dianggap sesuai buat dijadiin “bukti” dalam pertunjukan mereka. Wah, bukti yang kayak gimana tuh?

Bagi kami, burung seperti bukti. Burung dapat terbang, burung simbol kebebasan di seluruh dunia, dan burung juga sangat rapuh sehingga harus dilindungi. Burung pun tidak memiliki batasan. Jadi, burung ikon untuk kebebasan dan perdamaian,” jelas Anne.

Lebih lanjut, Anne pun ngungkapin kalau tantangan terbesar selama persiapan kolaborasi dan pertunjukan ‘Sang Burung’ adalah buat nyesuain tempat di masing-masing kota. Walau kelihatannya sederhana, tapi seluruh prosesnya engga sesederhana itu.

Olivier Vallet dan Anne Bitran dari Les Rémouleurs serta Rully Shabara dari Senyawa dalam acara meet and greet pertunjukan wayang kontemporer 'Sang Burung' di Plaza Senayan, Jakarta, Sabtu (30/4) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)
Olivier Vallet dan Anne Bitran dari Les Rémouleurs serta Rully Shabara dari Senyawa dalam acara meet and greet pertunjukan wayang kontemporer ‘Sang Burung’ di Plaza Senayan, Jakarta, Sabtu (30/4) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)

[Tantangan terbesarnya adalah] untuk mengadaptasi pertunjukannya di setiap tempat kami tampil. Kami tidak begitu tahu tempatnya, jadi kami harus berdaya cipta dan cepat menemukan cara untuk meletakkan burung maupun para musisi di tempat yang tepat, sehingga para penonton dapat melihat semuanya dengan baik,” jelas Anne.

Sementara itu, Rully Shabara ngewakilin Senyawa justru ngerasa kalau kendala utama yang dihadapinya bersama Wukir Suryadi sebagai musisi adalah masalah sound. “Khususnya di sini [Jakarta], bagi kami musisinya adalah sound. Karena di kelilingi pusat perbelanjaan dan apartemen, jadi sound kami engga tahu apakah mengganggu atau tidak,” ungkapnya.

JSYK, buat penampilan mereka di pertunjukan ‘Sang Burung’, Senyawa secara khusus ngeeksplor berbagai jenis bunyi-bunyian dengan instrumen buatan sendiri. Mereka pun cuma berusaha buat ngeinterpretasiin gambar yang ada tanpa ngelihat apakah musik mereka lebih condong ke Prancis atau Indonesia.

Pertunjukan wayang kontemporer 'Sang Burung' di Plaza Senayan, Jakarta, Sabtu (30/4) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)
Pertunjukan wayang kontemporer ‘Sang Burung’ di Plaza Senayan, Jakarta, Sabtu (30/4) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)

Lantas, apa hal menarik yang sempat dialami Les Rémouleurs bersama para seniman dan musisi Indonesia pada penampilan perdana mereka di Yogyakarta? Selain sempat kenalan sama seorang ‘pawang hujan’ bernama Ibu Agustina, mereka ternyata juga sempat berkunjung ke tempat Heri Dono buat latihan pencak silat, Kawan Muda.

Bukan cuma itu, dari kolaborasi mereka bersama para seniman dan musisi Indonesia, Les Rémouleurs ngelihat kalau status maupun kreativitas para seniman dan musisi Indonesia merupakan hal berharga yang telah mereka pelajari selama residensi. Buat urusan status khususnya, hal tersebut sangat berbeda dengan keadaan di Prancis.

Contohnya saat kami bertemu Heri Dono, kami saling berbicara satu sama lain dan itu adalah hubungan yang sederhana. Ini sangat berbeda di Prancis. Ini sangat baik dan saya rasa seharusnya demikian. Dan juga kreativitas di sini, Anda bisa melihat lukisan atau mendengarkan musik di jalanan yang sangat baik. Itu semua ada di mana-mana dalam kehidupan sehari-hari. Saya melihat ini sangat mengagumkan bagi kami dan kami harus belajar banyak,” ungkap Anne kepada Genmuda.com.

Pertunjukan wayang kontemporer 'Sang Burung' di Plaza Senayan, Jakarta, Sabtu (30/4) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)
Pertunjukan wayang kontemporer ‘Sang Burung’ di Plaza Senayan, Jakarta, Sabtu (30/4) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)

Senada dengan Anne, Olivier pun berpendapat bahwa, “Salah satu hal lain yang kami pelajari dari seniman Indonesia adalah saat ada masalah, mereka menyelesaikan dengan senyum atau kasih sayang. Tidak ada stres, berbeda dengan keadaan di Prancis.”

Nah, sebaliknya, Rully justru ngakuin kalau kedisiplinan adalah hal utama yang dapat dipelajari oleh para seniman dan musisi Indonesia selama residensi bareng Les Rémouleurs. Di samping itu, doi juga ngerasa kalau para seniman Prancis tersebut sangat ngehargain ide-ide mereka dan engga nuntut macam-macam.

Indonesia itu ‘kan kerjanya cenderung secara umum lebih selo, lebih santai. Sedangkan kalau bekerja dgn seniman luar apalagi Prancis, itu sangat disiplin, sangat ketat waktunya, dan padat. Menurutku, di sini imbang karena tetap ada jadwal yang pasti latihan ketat, tapi fleksibel dan tetap menanyakan secara demokratis juga. Jadi, baik untuk dipelajari bahwa namanya produksi harus kejam dan padat disiplinnya,” beber Rully.

Les Rémouleurs bersama para seniman dan musisi Indonesia yang terlibat dalam pertunjukan wayang kontemporer 'Sang Burung' di Plaza Senayan, Jakarta, Sabtu (30/4) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)
Les Rémouleurs bersama para seniman dan musisi Indonesia yang terlibat dalam pertunjukan wayang kontemporer ‘Sang Burung’ di Plaza Senayan, Jakarta, Sabtu (30/4) (Foto: Genmuda.com/2016 Gabby)

Lalu, gimana nih dengan penampilan Les Rémouleurs bersama para seniman dan musisi Indonesia di Jakarta? Well, Anne sih bilangnya doi engga ngarepin apapun. “Saya menganggap semuanya sebagai hadiah. Jika hanya ada 20 orang tapi mereka bisa melihat burungnya dan menghargai bentuk, gambaran, maupun musiknya, itu tidak apa-apa. Tentu lebih banyak orang akan jadi hadiah yang lebih baik lagi,” ujarnya.

Tapi, terlepas dari pernyataan Anne itu, yang datang nyaksiin pertunjukan ‘Sang Burung’ di Fountain Plaza Senayan (outdoor, samping Union dan Starbucks) tadi malam malah terbilang banyak loh, Kawan Muda. Walau sempat tertunda hampir satu jam dan baru bisa ditampilin sekitar pukul 19.50 WIB, masyarakat tetap antusias buat nyaksiin pertunjukan tersebut. Mau tua atau muda, semua sama-sama tersihir dengan keindahan audio dan visual dari pertunjukan tersebut.

Acara ini menurut gue keren. Ini salah satu acara seni yang pertama kali gue lihat menggunakan wayang burung yang memang bukan wayang seperti biasanya, digerakin sama banyak orang, diterbangin pakai balon helium, udah gitu ada musiknya. Sebelumnya gue juga udah tahu soal band Senyawa yang eksperimental. Cocok banget Senyawa ngiringin acara ini. Visualisasi di burung sama musiknya sesuai,” ungkap seorang Kawan Muda bernama Andhika.

So, kalau tadi malam kamu engga sempat nyaksiin pertunjukan ‘Sang Burung’ di Plaza Senayan, mending kamu kejar pertunjukan di kota lainnya. Buat berikutnya, pertunjukan tersebut bakal ditampilin di Surabaya pada 4 Mei, Bandung pada 7 Mei, dan Bali pada 10 Mei. Bahkan, ada rencana juga buat ngebawa pertunjukan tersebut ke Prancis. Don’t miss it, Kawan Muda! (sds)

Comments

comments

Gabrielle Claresta
Eccentric daydreamer