Selasa, 1 Desember 2020

Genmuda – Ngungkapin sebuah fakta yang terbilang kontroversial sering kali memang engga mudah, tapi tetap harus dilakuin demi kepentingan bersama. Hal itu pun contohnya bisa kamu lihat dalam kisah film ‘Spotlight’.

‘Spotlight’ merupakan sebuah film drama biografi garapan sutradara Tom McCarthy yang diangkat dari kisah nyata investigasi ‘The Boston Globe’. Kisah tersebut ngelibatin unit investigasi surat kabar tertua di Amerika Serikat bernama Tim Spotlight dan berhasil menangin Pulitzer Prize for Public Service di 2003.

Seluruh kisah berawal di tahun 2001, saat The Boston Globe kedatangan seorang editor baru bernama Marty Baron (Liev Schreiber). Setelah ngambil alih kendali editorial dan ngebaca sebuah kolom di Koran tersebut, beliau langsung nugasin Tim Spotlight buat ngelakuin investigasi atas skandal pelecehan seksual yang dilakuin oleh seorang pastor (imam Gereja Katolik) terhadap anak-anak.

(Sumber: Crosscut)

Dengan beranggotakan Walter ‘Robby’ Robinson (Michael Keaton), Michael Rezendes (Mark Ruffalo), Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams), dan Matt Carroll (Brian d’Arcy James) serta dibantu Baron dan asisten redaktur pelaksana Ben Bradlee Jr. (John Slattery), Tim Spotlight kemudian nyoba ngegali lebih dalam buat ngungkapin fakta di balik kasus pelecehan seksual tersebut. Mereka engga cuma ngewawancarain korban dan saksi, tapi juga berusaha ngedapetin akses ke dokumen sensitif.

Hingga akhirnya, fakta mengejutkan berhasil terungkap. Dilema pun semakin melanda saat investigasi Tim Spotlight ternyata mampu ngungkapin suatu kasus yang udah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun di Boston. Kasus tersebut bahkan sangat masif dan ngelibatin berbagai aspek penting kehidupan.

Well, ‘Spotlight’ awalnya memang kelihatannya engga begitu kompleks, engga jauh beda dari kisah-kisah ala detektif pada umumnya. Tapi, seiring berjalannya kisah, satu per satu konflik akhirnya bermunculan dan ngebangun kerumitan tersendiri di film ini, yang bakal bikin kalian terus bertanya-tanya apa yang sebenarnya lagi terjadi.

(Sumber: NPR)

Dengan nyajiin hasil investigasi atas isu yang terbilang sensitif dan tabu buat diperbincangin, ‘Spotlight’ berhasil ngasih gambaran gimana cara kerja dunia jurnalistik yang semestinya. Dengan kata lain, fokus utamanya di sini bukan soal skandal Gereja Katolik, melainkan soal kekuatan dan pentingnya jurnalisme.

Bukan cuma itu, ‘Spotlight’ juga fokus buat ngebahas masalah yang ada ketimbang buat ngasih bumbu-bumbu yang engga penting. Kamu pun engga perlu takut bakal dibawa ngalor-ngidul ngomongin soal agama (walau ada kalanya kamu mungkin bakal kayak sedikit keguncang gara-gara pembahasannya yang terbilang cukup nampar).

Intinya, jangan gara-gara ‘Spotlight’ nyinggung soal agama tertentu, kamu malah jadi malas buat nonton film ini, Kawan Muda. Pesan yang mau disampein film ini jauh ngelampauin itu. Film ini bahkan secara engga langsung udah turut ngegambarin keadaan di Indonesia, di mana banyak korban pelecehan seksual masih lebih milih atau justru dipaksa buat bungkam ketimbang buat ngungkapin fakta.

(Sumber: Newsweek)

Namun demikian, ‘Spotlight’ tentu engga bakal sukses kalau engga dibantu sama kontribusi dari para pemainnya yang keren-keren, khususnya Keaton, Ruffalo, McAdams, dan d’Arcy James. Keempatnya bisa ngimbangin akting satu sama lain dan tampil sebagai sebuah tim yang solid. Engga heran, mereka pun udah berulang kali menangin kategori Best Ensemble Cast di beragam ajang penghargaan.

So, bisa dibilang ‘Spotlight’ udah berhasil nampilin kisah yang fokus, tajam, sesuai porsinya, lihai mainin sudut pandang, dan tentunya penuh kejutan. Seluruh kisah film ini terasa ngena banget, apalagi film ini juga diwarnai unsur humor yang wajar di kehidupan sehari-hari. Wajib ditonton banget deh Kawan Muda, apalagi buat anak jurnalistik!

(sds)

Comments

comments

Gabrielle Claresta
Eccentric daydreamer