Senin, 22 Juli 2024

Genmuda – Masa SMA bagi sebagian remaja merupakan momen batu pijakan ke masa depan. Tapi, engga bagi Kresna Wahyu Nurahmad (15 tahun), seorang siswa kelas X SMA Taruna Nusantara, Magelang yang dibunuh teman sekolahnya, dini hari 31 Maret.

Pelakunya yang berinisial AMR kesal karena sering dipergoki mencuri uang dan barang anak-anak lain oleh Kresna. Aksi nekat doi terpicu setelah ponselnya dipinjam Kresna hingga akhirnya disita sekolah.

Kasus yang terjadi di salah satu sekolah bergengsi Indonesia itu nambahin deretan kasus kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan. Dan, kalo dipikir lagi, “Kenapa sih kasus kekerasan di sekolah seperti engga ada habisnya di Indonesia?” jawabannya mungkin ada pada poin-poin di bawah ini:

1. Salah pendidik, orang tua, atau siswa sendiri nih?

via tumblr.com

Meski udah kepengen hidup sendiri, seorang remaja sebenernya masih butuh bimbingan orang tua, terutama untuk dikasih tau caranya bersosialisasi dan dapet skill yang berguna bagi orang lain. Sebuah penelitian berjudul “Social Perspectives on Violence” (1996) bilang kalo remaja yang engga diajarin hal itu akan mengandalkan kekerasan supaya bisa ngedapetin keinginannya.

2. Kebanyakan toleransi menjadi dibiarin

Keluarga yang kebanyakan memberi toleransi sama perilaku kasar anaknya, membuat anak tersebut tumbuh jadi remaja yang kasar. Emangnya ada anak yang dicuekin kayak gitu? Ada aja, loh, terutama saat si anak kebanyakan dititipin ke orang lain karena orang tuanya terlalu sibuk dengan urusan sendiri.

3. Pilih-pilih temen

via tenor.co

Kekerasan di sekolah juga bisa terjadi karena siswa-siswanya pilih-pilih temen dengan alasan beda strata sosial. Secara teori, buku Violence and Mental Health in Everyday Life bilang kalo perilaku snobisme anak yang pilih-pilih temen bisa mengubah orang yang jadi “korban” berlaku kasar.

4. Ketimpangan sosial

Kekerasan juga bisa terjadi karena ketimpangan (sosial atau harta). Dalam situasi itu, orang-orang yang paling ngerasa “dunia ini engga adil” yang paling cenderung berbuat kekerasan, entah itu berujung jadi bully atau malah jadi kriminal kayak AMR.

5. Bullying tanpa solusi

via makeagif.com

Bullying terjadi dalam berbagai bentuk. Contoh yang paling sering muncul adalah pemalakan dan ceng-cengan yang dilakukan “siswa besar” ke “siswa kecil.” Seandainya berlangsung terus-menerus, batas kesabaran “si siswa kecil” bisa terkikis sehingga akhirnya doi berubah jadi agresif. Bisa jadi agresif ke para bully atau malah ke orang lain yang dianggap “lebih kecil.”

6. Stres yang menumpuk

Tiap siswa SMA pasti ngerasain stres karena, lingkungan baru, tugas, atau rentetan ujian, tapi engga semua sekolah punya cara menanggulangi stres siswa biar engga menumpuk. Penelitian “Social Perspective on Violence” bilag kalo stres yang engga dikelola ibarat bom waktu. Tinggal tunggu siswanya bertindak kasar untuk menyalurkan beban di kepalanya.

7. Kebanyakan cuek sama lingkungan sekitar

via imgur.com

Secara umum, masyarakat yang kebanyakan cuek juga bisa memproduksi remaja-remaja kasar. Motif pelakunya biasanya untuk mencari eksistensi “instan” karena segala usaha doi dalam berpendapat, bikin musik, gambar, atau nyari prestasi engga dapet apresiasi dari orang terdekatnya.’

8. Pengaruh masyarakat

Ini mungkin agak filosofis, tapi ada benernya juga. Sadar atau engga, kekerasan adalah sesuatu yang diagung-agungkan dalam berbagai media. Nonton berita, isinya berita konflik. Nonton bioskop, isinya superhero pada berantem. Baca buku sejarah, isinya cerita perang doang. Kalo kekerasan masih dianggap heroik, ya jangan harap kekerasan bisa hilang dari sekolah.

Kalo kata penelitian-penelitian di atas, delapan poin inilah yang bikin kekerasan di sekolah susah banget hilang. Setuju engga Kawan Muda? (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.