Sabtu, 5 Desember 2020
Hiburan

Barasuara ‘Membakar’ Gedung Sarinah, Satu Penutupan Tur yang Luar Biasa!

Barasuara menutup tur 'Taifun 2016' di Gudang Sarinah, Jakarta Selatan, Minggu (15/5) (Foto: Genmuda.com 2016/BBB)

Genmuda – Setelah mendatangi Yogyakarta, Malang, Surabaya, Solo, dan Bandung, Barasuara memilih Jakarta sebagai pelabuhan terakhir dalam rangkaian tur Urban GiGs Barasuara ‘Taifun Tour 2016’. Band yang diakui sebagai pendatang baru ‘berbahaya’ ini menggelar tur terakhir mereka kemarin, Minggu 15 Mei 2016 di Gudang Sarinah Ekosistem, Jakarta Selatan.

“Ini kota ke enam, hari ke lima belas rangkaian tur Barasuara. Alhamdulillah gak ada kendala selama perjalanan,” ujar Adri, selaku promotor dan CEO Juni Concert, dalam jumpa pers sebelum konser dimulai. “Semoga menjadi penutup dan awal yang baik.”

Barasuara (Foto: Genmuda.com 2016/BBB)
Barasuara (Foto: Genmuda.com 2016/BBB)

Barasuara yang diperkuat Iga Massardi (vokal/gitar), Gerald Situmorang (bass), Marco Steffiano (drum), TJ Kusuma (gitar), Puti Chitara (vokal) dan Asteriska (vokal) dijadwalkan naik panggung pada pukul 19.00 WIB. Namun, satu pemandangan indah sudah mulai terlihat sejak sore hari. Para penggemar menginjakan kakinya di depan pintu masuk, membentuk urutan panjang.

Matahari terbenam, pintu masuk mulai dibuka dan suara langkah ratusan penggemar menjadi satu-satunya nada yang terdengar. Para penggemar disambut satu space di mana mereka bisa menuliskan harapan mereka untuk Barasuara, juga photo wall yang tersaji sepanjang pintu masuk hingga ke venue konser.

“Selamat malam Jakarta!” teriak Iga saat menaiki panggung. ‘Hagia’ dipilih menjadi lagu pertama untuk memanaskan suasana. Sebenarnya, suasana venue yang dihiasi air blower di tiap sudut sudah cukup menggambarkan hawa tempat tersebut. Ya, lumayan panas. Tapi ini adalah sebuah konser! Bukan masalah.

Energi Barasuara semakin menyala di lagu selanjutnya, Iga cs. tanpa jeda membius penonton dengan lagu ‘Nyala Suara’, ‘Terintih’, dan ‘Taifun’. Bukan satu tur tanpa gimmick dan suguhan spesial. Di lagu ‘Mengunci Ingatan’ kursi drum diganti oleh Enrico Octaviano, sementara Marco beralih memegang bass dan Gerald duduk di bibir panggung dengan gitar akustik.

Suasana semakin memanas ketika lagu baru mereka bertajuk ‘Samara’ dibawakan. Tata cahaya yang terbilang ‘gila’ dan video mapping yang patut diacungkan jempol terus menerangi background panggung, menyuguhkan satu pemandangan yang luar biasa. Aksi Barasuara benar-benar membakar semangat penonton di Gudang Sarinah.

“Ini lighting-nya gila-gilaan. Parah sih gokil. Rasanya males nengok ke kanan,” tutur salah satu pengunjung.

Selain penampilan dan visualiasi apik yang disuguhkan, kolaborasi pun menjadi kunci utama di tur Barasuara. Setelah konsep dua drum antara Marco dan sang adik, Enrico, ketiga pemain Brass Section, yakni Tommy Pratomo, Dennis Junio, dan Harley Korompis turut menyelaraskan lagu-lagu mereka.

Gelaran tur ini memang seperti tajuknya, memperkenalkan album ‘Taifun’. Barasuara kembali membakar suasana dengan membawakan ‘Menunggang Badai’ dan ‘Sendu Melagu’. Iga mengajak para penonton melompat setinggi mungkin, berteriak sekeras mungkin, dan bertepuk tangan menyesuaikan ritme lagu. Suasana yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Petjah!

https://instagram.com/p/BFbx-93Jy-C/?taken-by=benebura

“Sam-pai-kan mereka, ba-ra dan suara.” Ya, ‘Api & Lentera’ akhirnya dibawakan. Layaknya menimbun amarah dan akhirnya keluar, semua penonton mendadak semakin menggila mendengarnya. Bahkan Iga sempat memberikan para penonton beberapa bait untuk dinyanyikan.

“Kalian adalah penutup yang sangat indah!,” ujar Iga sambil mengarahkan tangannya ke penonton. Sembilan lagu sudah, ‘Bahas Bahasa’ menjadi penutup tur diiringi letupan confetti ke udara. Penonton semakin lepas kontrol. Entah karena sangat puas atau tidak terima bahwa konser akan segera berakhir.

https://instagram.com/p/BFbj-cIOwVz/?taken-by=heterokromia

Di akhir penampilan Iga melakukan stage diving. Musisi yang identik mengenakan baju batik saat di panggung itu meluncur ke barisan depan penonton, berbaring, dan mengayun deras seperti di telan ombak. Sungguh penutupan yang luar biasa.

Comments

comments

Bobi Brilyan Bastenjar
Valar Morghulis