Rabu, 21 April 2021

Genmuda – Film action gak selamanya harus berisi adegan menegangkan dari awal sampai akhir. Karena nyatanya, film “Baby Driver” diisi kombinasi pas adegan romantis dan action seru. Karya sutradara Edgar Wright itu bisa banget diibaratin versi modernnya film mafia “Bonnie and Clyde” (1967).

Udah gitu, jarang-jarang juga kan ada film yang nyeritain sebuah adegan perampokan bank dari sudut pandang sopir kendaraan penjahatnya, bukan dari sudut pandang para perampok di garis depan. Itu pula sebabnya film yang tayang 30 Agustus di Indonesia ini terbilang unik untuk sejenisnya.

Bukan sopir biasa

Dok. Sony Pictures
(Dok. Sony Pictures)

Ceritanya bermula dengan adegan perampokan. Seorang cowok bernama Baby (Ansel Elgort) berada di balik kemudi mobil Subaru merah transmisi manual, sementara Griff (Jon Bernthal), Buddy (Jon Hamm), dan Darling (Eiza Gonzalez) lagi menjalankan aksi perampokan.

Dalam hitungan detik, ketiga komplotan kembali ke dalam mobil dan si Baby lakuin sebuah seni melarikan diri dari kejaran polisi dan kebut-kebutan yang luar biasa. Komplotan itu pun tiba di markas untuk laporan ke seorang sosiopat yang jadi dalang di balik perampokan itu, Doc (Kevin Spacey).

Kebiasaan nongkrong Baby dan kesukaannya terhadap musik mempertemukan doi sama Debora (Lily James) di sebuah kedai. Cewek supel dan ramah itu menerima apa adanya sikap sangat pendiam Baby. Pada akhirnya, Baby harus milih antara cewek yang doi cintai atau kesetiakawanannya terhadap komplotan perampok.

Plot filmnya pun dibikin menegangkan berkat kehadiran anggota baru bernama Bats (Jamie Foxx). Saking sadisnya, doi sama sekali gak ragu membunuh temen sekalipun.

Romantis dan stylish

dok. Sony Pictures
(Sok. Sony Pictures)

Tiap Baby dan Debora muncul satu scene, suasananya pasti romantis. Kinyis-kinyis gimana gitu deh rasanya. Terutama, saat adegan pasangan muda itu dalam sebuah laundromart (toko cuci baju swalayan).

Lagu yang mereka berdua denger sambil berbagi headset, ekspresi wajah, gerak-gerik tubuh, dan dialognya bener-bener realistis seperti yang terjadi saat cowok-cewek pedekate. Itu adegan yang paling bikin orang senyum-senyum teringat kisah cinta sendiri sambil berharap seandainya kenyataan bisa semanis itu.

Selain karena sisipan cerita cinta, filmnya terasa anak muda banget berkat pemilihan kostum. Baby dan Debora tampil dengan mix and match yang bisa banget ditiru untuk kegiatan sehari-hari. Saat Baby cuma pakai kaus dan celana panjang biasa, gerak-gerik doi yang asik banget bikin penampilannya tetep stylish.

Detil yang diperhatiin

Dok. Sony Pictures
(Dok. Sony Pictures)

Sutradara Edgar Wright sebenernya manjain penonton dengan banyak banget detil. Misalnya, potongan lirik lagu soundtrack muncul di dalam adegan sesuai dengan timing lagunya. Contohnya ada di adegan-adegan awal. Saat penyanyi soundtracknya ngomong sebuah lirik, potongan lirik itu muncul dalam bentuk grafiti di tembok.

Atau, saat Baby dengerin potongan percakapan dari lingkungan sekitarnya entah itu dari televisi atau obrolan temen komplotan. Potongan percakapan itu bakalan muncul pada adegan-adegan berikutnya. Contoh: Kalimat “We’re partners” dalam cuplikan “Monsters Inc” (2001) yang Baby tonton di awal akhirnya doi omongin di akhir film.

Penuh pesan tersirat

Dok. Sony Pictures
(Dok. Sony Pictures)

Plot utama film yang bujetnya 34 juta dollar AS ini sebenernya lurus-lurus aja. Semua teka-teki dan sifat asli masing-masing karakter akan terungkap dengan sendirinya. Penonton umum yang lebih suka adegan laga daripada adegan penuh makna dan penonton yang lagi males mikir pasti suka film ini.

Sementara itu, penonton yang lebih perhatian sama detil bakal terhibur sama jalan-jalan cerita tambahan yang tersaji secara tersirat. Coba deh perhatiin baik-baik semua dialog di film karena pada dialog itu tersebar remahan petunjuk mengenai latar belakang tiap karakter.

Tiap tokoh pun konsisten tampil sebagai penjahat dari awal sampai akhir. Engga ada adegan titik balik ala-ala yang mengubah seseorang jadi pahlawan. Semuanya jahat. Jahat tapi romantis. Karena film ini segitu serunya (belum lagi karena soundtrack yang kece badai).

(sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.