Sabtu, 24 Oktober 2020

Genmuda – Acara televisi (atau yang kamu stream di internet) emang bisa merangsang imajinasi, bikin orang dapat inspirasi, dan pada akhirnya orang jadi makin kreatif. Soalnya, film dan acara yang disiarkan makin lama makin menarik dan menghibur seiring berjalannya waktu.

Meski jadi kesenangan tersendiri, ternyata menonton punya sejumlah dampak negatif. Apa lagi kalo kamu udah rutin ‘binge-watching’ alias nonton marathon. Hayo, coba ngaku yang weekend ini dihabisin buat nonton marathon film kesukaan kamu?

FYI, bukan hanya kesehatan mata yang terganggu, dampak negatif dari kebiasaan ini juga terasa di bidang lain dalam perkembangan dan kesehatan mental kamu loh. Engga percaya? Nih langsung pantengin aja faktanya:

1. Penggumpalan darah

Majalah Live Science, Senin (25/7), bilang kalo menonton selama 5 jam berturut-turut bisa ningkatin kemungkinan penggumpalan darah di paru-paru. Dari penelitian, itu terjadi karena darah yang menggumpal di tempat lain (biasanya di paha) teralirkan ke paru-paru.

Gumpalan itu pun engga bisa lewat di pembuluh darah paru-paru manusia yang lebih tipis. Akibatnya, kamu bisa jadi sesak nafas atau parahnya meninggal. Amit-amit. Penyebabnya dikarenakan kamu jarang banget bergerak ketika nonton. (Jadi kalo kamu nonton coba sambil fitness atau aerobik mah engga masalah). *Canda,

2. Bad influence

Pengaruh buruk termasuk salah satu hal yang bisa kamu dapat akibat ‘binge-watching’. Jujur aja, acara yang nampilin sadisme (colek The Walking Dead), kehidupan ekstra glamor (colek Kim Kardashian), atau intrik-intrik oportunis (colek Game of Thrones) tuh merupakan acara yang diminati.

Tanpa sadar semua itu bisa menular ke kamu loh. Situs wonderopolis bilang, ‘kebanyakan hidup di dalam dunia film’ bikin pemahaman realita seseorang bergeser. Maksudnya, kamu bakal menganggap cara-cara yang ada di film itu merupakan cara yang tepat buat menghadapi permasalahan sehari-hari. Kalo sering nonton film drama, ya hidup kamu bakalan penuh drama. (Asalkan engga lebay ya!).

3. Telmi (telat mikir)

Informasi yang disajikan cepat, dialog singkat, dan scene yang berubah-ubah merupakan sejumlah karakteristik dalam acara televisi. Bahkan, karakteristik bisa ditemui di hampir semua acara. Dan hal itu bisa mempengaruhi fokus seseorang dalam berpikir.

Orang yang kebanyakan ‘binge-watching’ bisa punya fokus yang pendek. Mereka umumnya jadi cepet ngerasa bosen dalam melakukan satu pekerjaan. Tapi salah satu penawarnya adalah dengan rutin membaca buku. Malesin emang, tapi perlu dilakukan biar otak kamu tetep encer.

4. Nyari pelarian

Direktur Riset Komunikasi Universitas Indiana AS, Robert F Potter bilang kalo ‘binge-watching’ dilakukan karena seseorang ingin lari dari permasalahan yang dihadapinya. Entah itu problem rumah tangga, asmara, atau masalah di sekolah. Soalnya, nonton bisa bikin mood seseorang menjadi baik.

“Namun, mereka bakal ngerasa lebih depresi dan kebingungan setelah acaranya berakhir. Mereka perlu kembali ke realita dan menghadapi masalahnya. Kalau mencari pelarian lagi, masalahnya malah makin numpuk,” kata Potter seperti dikutip di Huffington Post, September 2014.

5. Bikin stres

Sekitar Februari 2014, studi dari Departemen Kesehatan dan Rekreasi Universitas Toledo pernah bikin survei yang nyimpulin kalo binge-watching atau movie marathon bikin orang rentan stress dan depresi. Dari 406 orang yang diteliti, 80 persennya bahkan bilang udah ngerasa cemas, gelisah, dan bad-mood ketika nonton dua jam berturut-turut.

6. Makin bokek

Sadar engga kalo keseringan marathon film bikin kamu jadi orang konsumtif. Coba berapa banyak uang yang kamu keluarin buat beli DVD bajakan atau data internet buat nonton? Biasanya anak kost bakalan paham banget sama masalah ini, apalagi kalo di akhir bulan. He-he.

Singkatnya, dikutip dari penelitian Live Science, batas maksimal orang nonton itu adalah 5 jam berturut-turut. Meski kamu itu jomblo akut atau lagi gabut, cobalah melakukan aktivitas lainnya kayak tidur, olahraga, atau mungkin cari jodoh. “Happy weekend Kawan Muda!” (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.