Jum'at, 5 Juni 2020

Genmuda – Kabarnya, semua sosial media kayak Facebook, Twitter, Instagram dan Youtube bakal di-banned atau diblokir sama Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo). Berita ini tentunya disayangkan sama semua pengguna media sosial di Indonesia. Banyak yang langsung nyinyir dan bilang “Kita gak siap pake pager.”

Padahal gak semua orang menyalahgunakan adanya media sosial sih. Banyak juga kok yang menggunakan media sosial secara bijak dan benar. Gak semua orang juga mikir kalo media sosial ini adalah sarana yang tepat buat menyebar kebencian dan juga menyebarkan kejahatan.

Tapi nyatanya, dari beberapa media sosial yang disebutkan di atas, yang diblokir justru aplikasi yang digunain buat ngobrol, semacem WhatsApp dan Line, yaitu Telegram. Emang gak semua orang pake Telegram sih, karena kan udah ada WhatsAppTapi banyak juga yang pake ini ternyata buat melakukan kejahatan.

Ada apa sih emang di Telegram?

Image result for telegram
(Sumber: Techweez)

Terdapat 11 Domain Name System (DNS) milik Telegram udah diblokir sama Kominfo sejak Jumat (14/7) lalu. Yang diblokir ini adalah akses yang kamu biasa pakai, yaitu di handphone dan juga dari dekstop. Kebijakan in udah diputuskan lewat siaran pers No.84/HM/KOMINFO/2017, tentang akses aplikasi Telegram.

Adapun ke-11 DNS yang diblokir adalah; t.me, telegram.me, telegram.org, core.telegram.org, desktop.telegram.org, macos.telegram.org, web.telegram.org, venus.web.telegram.org, pluto.web.telegram.org, flora.web.telegram.org, dan flora-1.web.telegram.org.

Pemerintah Indonesia menilai kalo Telegram ini menyediakan kanal yang memuat propaganda radikalisme, terorisme, paham kebencian, ajakan atau cara merakit bom, cara melakukan penyerangan, disturbing images, dan lain-lain yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Intinya, Telegram ini membahayakan keamanan negara karena gak nyediain SOP untuk penanganan kasus terorisme.

Jadi maksudnya Telegram mendukung Terorisme dan Radikalisme?

Image result for encryption telegram
(Sumber: The Next Web)

Gak mendukung juga sih, tapi menurut CEO-nya, perbuatan pihak Telegram itu gak salah, soalnya mereka hanya menjalankan pekerjaannya, yaitu menjaga keamanan privasi penggunanya. Pavel Durov, pendiri sekaligus CEO dari layanan Telegram pun sebenernya udah tau kalo ada aktivitas grup teroris ISIS di layanannya tersebut.

Gak tau sih ada hubungannya apa gak, tapi sejak Oktober 2015, jumlah anggota ISIS yang pake Telegram ini naik dua kali lipat dan mencapai 9.000 pengguna. Telegram dianggap memudahkan para teroris buat melancarkan aksinya, karena layanan chatting ini lebih bisa menjaga rahasia di percakapan.

Durov sendiri awalnya menganggap kalo keputusan ini aneh, dan seharusnya bisa dibicarain lagi supaya Telegram gak diblokir di Indonesia. Dari salah satu Twitter-nya netizen yang nge-tweet ke doi, doi nanya apa bener Telegram bakal diblokir, dan doi mengaku bakal sedih sama keputusan ini.

Durov pun akhirnya membalas tweet ini, dan dia bilang kalo keputusan ini aneh,

Emang gimana sih layanannya? Kok menjaga rahasia gitu?

Telegram ini banyak dipake sama teroris kayak ISIS dan Al-Qaeda buat chatting. Ini karena Telegram sangat menjaga kerahasiaan percakapan para penggunanya. Menurut peneliti senior dari grup riset TAPSTRI, Jade Parker, enkripsi penjamin kerahasiaan bukan cuma satu-satunya hal yang menarik teroris buat pake Telegram.

Image result for telegram and isis
Sumber: God Report

Sebenernya di Whatsapp pun udah bisa enkripsi, cuma emang Telegram ini lebih nyediain layananan yang memudahkan buat berkomunikasi secara rahasia dari individu ke individu, maupun individu ke grup. Di Telegram juga ada fitur Secret Chatyang cuma bisa diakses dari 2 perangkat, yaitu si pengirim dan si penerima.

“Dari kejadian terorisme di Indonesia, mayoritas pelakunya ternyata menggunakan Telegram untuk berkomunikasi. Kami sudah menyurati Telegram untuk ikut menyelesaikan persoalan ini, namun tidak pernah mendapatkan tanggapan. Makanya kami kemudian mengambil langkah pemblokiran,” ujar Semuel, Abrijani, Dirjen Aplikasi dan Infromatika Kemkominfo ke Kompas.

Tapi CEO-nya udah minta maaf, terus selanjutnya apa?

Image result for pavel durov
Ini dia si Pavel Durov, CEO Telegram. (Sumber: Business Insider)

Meskipun awalnya bilang kalo keputusan ini aneh, Durov juga ngaku gak pernah dapet komplain dari Pemerintah Indneisa, tapi nyatanya doi tetep minta maaf ke Pemerintah Indonesia dan Pemerintah pun menerima permintaan maafnya. Doi pun berusaha buat memperbaiki konten, dan menyesuaikan konten Telegram dengan kultur di Indonesia.

Pemerintah pun gak diam. Ada empat langkah tindak lanjut yang diminta Kemkominfo, yaitu kemungkinan dibuatnya Government Channel supaya komunikasi sama Kemkominfo bisa lebih cepat dan efisien, minta dikasih otoritas sebagai Trusted Flagger terhadap akun atau kanal dalam layanan Telegram, dan meminta Telegram buka kantor perwakilan di Indonesia.

Nah, semoga pemblokiran ini bukan satu-satunya solusi yang dikasih sama Pemerintah, karena memblokir gak bikin terorisme itu berhenti, cuma pindah ke layanan lain aja yang belum keblokir dan dirasa aman. Tapi sayang juga sih, kita gak bisa main Werewolf lagi di Telegram. Sedih. (sds)

Comments

comments

Fiany Intan Vandini
The youngest reporter on the 2nd floor of Gen Muda Office.