Senin, 23 Mei 2022
Kekinian

5 Penyesalan yang Kamu Rasain Kalo Gak Hadir ke ‘Muslim Fashion Festival 2017’

©Genmuda.com/2017 TIMKi-ka: Sansa dan Senaz, dua pemilik brand si.se.sa menyapa pengunjung fashion show Muslim Fashion Festival (Muffest) 2017 di JCC, Jakarta Pusat, Kamis (6/4). ©Genmuda.com/2017 TIM.

Genmuda – Kemeriahan hari pertama Muslim Fashion Festival Indonesia (Muffest) 2017 yang berlangsung di JCC, Jakarta Pusat, Kamis (6/4) bakal berlangsung hingga akhir pekan. Di hari pertama, suasananya udah kayak perayaan komunitas hijab se-Indonesia.

Acara yang diadain Indonesian Fashion Chamber (IFC) bareng Dyandra Promosindo itu punya target ngedatengin 50 ribu pengunjung. Sebagai daya tarik kegiatan, mereka ngebuka pameran dan bazar 150 brand, ngundang 200 desainer, dan fashion show busana muslim.

Kamu yang tinggal di luar wilayah Jabodetabek jangan sedih. Perwakilan Kementerian Perindustrian, Kementerian Koperasi dan UKM, juga Kementerian Pariwisata yang hadir saat pembukaan pada kode-kodein IFC-Dyandra supaya mengadakan acaranya di kota lain juga. Sementara buat kamu yang tinggal di Jabodetabek, rasakanlah penyesalan di bawah ini kalo engga hadir ke Muffest 2017!

1. Ketinggalan mode

©Genmuda.com/2017 TIM.
Ali Charisma, National Chairman IFC menyapa pengunjung fashion show Muffest 2017. ©Genmuda.com/2017 TIM.

Fashion show IFC, si.se.sa, Anggia Handmade-Nuniek Maawardi-Astri Lestari, dan JD.ID yang diadain hari pertama berisi ratusan kombinasi busana muslim beserta aksesorisnya. Bukan cuma tampilin art di atas catwalk, para desainer dan brand pamerin koleksi terbaru mereka untuk kebutuhan formal hingga casual.

Setelah dapet inspirasi pakaian dari area fashion show, kamu bisa langsung ke area pameran dan temuin sendiri produk-produk anyar yang abis dipamerin. Ada 150 brand loh yang buka booth. Banyak pilihannya.

2. Kehabisan produk limited

©Genmuda.com/2017 TIM.
Pakaian busana muslim yang cocok buat dipakai kerja ala IFC. ©Genmuda.com/2017 TIM.

Ada juga brand yang luncurin collection atau limited mereka di Muffest 2017. Namanya juga produk eksklusif, jumlah stoknya pasti terbatas dan desainnya engga bakal ditemui lagi ketika produknya udah sold out.

Contohnya adalah brand si.se.sa yang luncurin 28 looks busana muslim denim mereka yang bertajuk “PopNimes.” Hari pertama, mereka ngejual 4 desain dengan total stok 1.000 pieces. Hari itu juga, stoknya langsung sold out menurut keterangan Senaz dan Sansa, dua owner si.se.sa kepada Genmuda.com.

3. Engga bisa ngobrol-ngobrol cantik bareng desainer

©Genmuda.com/2017 TIM.
Busana muslim syar’i denim yang casual banget tapi tetep etis. ©Genmuda.com/2017 TIM.

Kamu yang engga hadir juga kehilangan kesempatan ngobrol bareng desainer-desainer favorit kamu. Soalnya, panitia ngejadwalin beberapa sesi kumpul-kumpul. Misalnya kamu kelewatan acaranya, samperin aja desainer di booth masing-masing.

Abis itu, langsung korek-korek info mengenai tips, trik, dan pengalaman mereka mengelola bisnis. Siapa tau kan kamu dapet ilham dan langsung kepikiran ide bisnis busana muslim yang bakal jadi the next big thing.

4. Kelewatan insight, tips, dan trik dalam dunia hijab

©Genmuda.com/2017 TIM.
Looks lainnya karya IFC. ©Genmuda.com/2017 TIM.

Di hari ketiga, tepatnya Sabtu (8/4), acaranya dibuka dengan seminar prediksi tren tahun 2017-2018 oleh Badan Ekonomi Kreatif. Tuh, buat kamu yang pengen nyari ide bisnis lebih banyak lagi. Dateng deh hari itu supaya kamu tau produk mana yang bakal jadi trensetter. Kalo engga dateng kan kamu cuma jadi follower aja.

5. Gagal ketemu komunitas baru

©Genmuda.com/2017 TIM.
Pengunjung muffest lagi asik selfie biar kekinian di medsos. ©Genmuda.com/2017 TIM.

Udah engga asing lagi kalo sesama hijaber dan penggemar busana muslim, punya sense of belonging yang kuat. Saat sama-sama ada di festival, suasananya bakalan lebih cair dan bersahabat lagi.

Kamu bakal gampang banget hang out dengan berbagai komunitas yang hadir ke acara itu, atau malah gabung ke komunitas baru. Siapa tau kan ujung-ujungnya ikut gabung dan nambah temen arisan. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.