Sabtu, 31 Oktober 2020

Genmuda – Selain yang populer macam Kita Bisa, GoJek, Buka Lapak, atau Tokopedia, terus bermunculan aplikasi startup yang menyimpan potensi besar. Bukan cuma mencari banyak untung, aplikasi itu jadi solusi bagi sejumlah permasalahan di dalan negeri.

Kabar lebih baiknya lagi, banyak aplikasi tersebut yang lahir dari pikiran dan tangan anak-anak muda. Semuanya dibuat dari nol dan dibesarkan dengan mengikuti berbagai kompetisi atau pitching sana-sini. Contohnya langsung aja nih liat di bawah ini.

1. Oorth

via oorth.id
(Sumber: oorth.id)

Bertambah satu lagi aplikasi media sosial di dunia dengan kedatangan Oorth. Aplikasi buatan Krishna Adityangga, Mulyono Herman, dan Dewanggono Mulyo dari Solo itu lebih dari sekadar aplikasi berteman di dunia maya. Tapi, termasuk aplikasi dompet digital, transaksi, arisan, dan donasi.

Aplikasinya bisa didownload di Google Playstore. Dalam waktu dekat, tiga foundernya berencana masukin karya mereka ke AppleStore yang juga menyediakan aplikasi Weibo, medsos warga Tiongkok yang juga bisa dipakai bertransaksi.

2. Tania Care

via goodnewsfromindonesia.id
(Sumber: goodnewsfromindonesia.id)

Fungsinya secantik namanya. Tania Care dibuat supaya netizen Indonesia gampang menghubungi berbagai akun resmi perusahaan besar di berbagai media sosial. Sehingga para konsumen engga ketipu info dari akun abal-abal.

Hingga 17 November, ada 850 brand yang bisa dihubungi langsung via Tania. Jumlahnya bakalan terus ditambah supaya konsumen Indonesia makin gampang ngirim komplain dan berkomunikasi sama customer service brand favorit mereka.

3. EZDU

via teen.co.id
(Sumber: teen.co.id)

Tiga mahasiswa UGM unjuk kepedulian terhadap pendidikan lewat aplikasi EZDU, aplikasi fasilitas belajar. Penggunanya bisa langsung menghubungi tutor atau nonton vide materi pelajaran sekolah untuk belajar sesuai kurikulum pendidikan di Indonesia.

Fury Oktria Putra (teknik industri), Elok Pitaloka (teknik industri), dan Damar Adi Prabowo (ilmu komputer) berencana pakai pendapatan dari aplikasi buatan mereka untuk perbaiki pendidikan daerah terpencil. Tapi, jejak aplikasi tersebut belum ditemukan di PlayStore dan iTunes.

4. Design for Dream (DfD)

Aplikasi penggalangan bantuan buat kaum difabel Indonesia ini masih dalam tahap pitching sana-sini, alias mencari investor. Namun, desain produknya udah terbilang matang, menghasilkan solusi, dan menangin salah satu kategori di Busan Smart Cities Challenge.

CEO aplikasinya Irvandias Sanjaya pengen ngembangin aplikasi doi untuk mendukung program pemerintah supaya mengubah infrastruktur dan tata kota jadi lebih ramah untuk difabel. Langkah konkretnya, DfD juga berfungsi untuk menggalang dana dan tenaga bagi para difabel.

5. Mammu Wuquf (MW)

via staticflickr.com
(Sumber: flickr.com)

Meski namanya kayak Bahasa Arab dan mengesankan nilai religius, produk teknologi ini bukan keduanya. MW dibuat anak-anak ITS Surabaya sebagai rambu peringatan pelanggaran lalu lintas.

Dengan memasang sensor pendeteksi berat kendaraan di sekitar rambu larangan parkir misalnya, sirine lantang akan berbunyi untuk mengingatkan pengendara yang berada di area terlarang tersebut. Alat itu udah terpasang di dua titik di Bojonegoro, dua titik di Gresik, dan satu titik di Ngawi. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.