Rabu, 18 September 2019

Genmuda – Nyanyian merdu lagu hits, puisi indah, dan percakapan Bahasa Inggris dengan logat orang luar negeri rutin menghibur 322 ribuan subscriber channel YouTube Fathia Izzati. Perempuan multi talenta yang akrab disapa Chia itu selalu punya konten menarik hampir tiap minggunya.

Di antara semua karya doi, video “21 Accents” yang paling populer dan udah ditonton 5,6 juta kali. Ada juga vlog kolaborasinya bareng Agung Hapsah, “A Day with A Stranger,” yang ditonton sampai 858 ribu kali. Kalo ditotal, cewek yang berharap cepet kelar skripsi ini udah mengunggah 129 video pada Sabtu, (1/4).

Cewek berdarah Sunda-Jawa ini pernah tinggal di Afrika Selatan sejak usia 3-5 tahun, pindah ke Indonesia saat TK – Kelas 1 SD, pindah lagi ke Kanada dari Kelas 2 SD – 5 SD, kemudian kembali ke Indonesia lagi saat kelas 6 SD – 2 SMP. Engga berhenti sampai di situ. Anak seorang diplomat ini ikut Sang Ayah dinas luar negeri.

Selanjutnya, ke Amerika Serikat dari kelas 2 SMP – pertengahan 3 SMA. Lalu, pulang ke Indonesia untuk namatin SMA dan kuliah. Makanya, doi cas cis cus kalo ngomong Bahasa Inggris.

Bukannya mau pamer nih. Genmuda.com sempet loh ngobrol-ngobrol bareng doi, dan pastinya bisa kamu baca lengkap di bawah ini:

Genmuda: Halo, Chia. Selain Bahasa Inggris, kamu bisa bahasa apa lagi sih?

Chia: Aku pernah tau sedikit-sedikit Bahasa Prancis waktu tinggal di Kanada dari Kelas 2 hingga Kelas 5 SD dan belajar Bahasa Spanyol waktu tinggal di Amerika Serikat dari Kelas 2 SMP hingga setengah tahun Kelas 3 SMA. Karena dua bahasa itu jarang digunakan lagi, sekarang cuma lancar Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

 

Genmuda: Kepo dong. SMP dan SMA kamu di mana sih?

Chia: SMP di 19 Jakarta. SMA di 82 Jakarta.

 

Genmuda: Kepo lagi. Kenapa ya kamu kuliahnya milih Hukum UI?

Chia: Sebenernya sih aku mau ambil jurusan HI. Tapi, waktu itu passing gradenya tinggi banget. Takut engga masuk, aku milihnya Hukum aja.

 

Genmuda: Terus, sekarang kuliahnya lagi sibuk ngapain?

Chia: Aku lagi sibuk-sibuknya menyelesaikan skripsi, nih. Kuliah aku udah molor satu tahun gara-gara skripsinya banyak tertunda. Semoga tahun ini bisa cepat selesai.

 

Genmuda: Kalo boleh tau, skripsi kamu ngebahas soal apa sih?

Chia: Tentang “Konvensi Jual-Beli Internasional”

 

Genmuda: Selain skripsi, kesibukan kamu di kampus apalagi?

Chia: Waktu belum ngambil skripsi, aku suka ikut “mooting.” Mooting itu adalah simulasi peradilan yang diikuti mahasiswa-mahasiswa hukum. Ibaratnya, kami pura-pura jadi hakim, jaksa, dan pengacara. Terus, menjalankan sebuah pengadilan seperti pengadilan sebenarnya.

Aku suka banget kegiatan itu dan pernah ikut semacam perlombaan mooting hingga tahap internasional. Aku menang top 8 dari 300 peserta waktu lomba mooting di Wina, sekitar 2015.

 

Genmuda: Wah, keren banget. Lalu, pertama kali kenalan dengan musik itu gimana ceritanya?

Chia: You know, dalam tiap family pasti ada satu atau dua orang yang karaoke banget. Nah, di keluarga aku, semuanya seperti itu. My Mum and Dad sangat music oriented dan karena itu aku dari dulu, sejak kelas 2 SD udah di-les-in piano. Lesnya itu serius banget. Sampai ikut semacam Royal Conservatory (sebuah sekolah musik ternama di Kanada). Aku belajar di sana sekitar 4 tahun.

Tapi, aku engga pernah suka musik klasik yang diajarin di tempat les. Jiwa aku  lebih suka lagu yang nge-pop dan ketika remaja suka indie rock. Paling suka pastinya sama musik-musik White Stripes. 

©Genmuda.com/2017 Everlyn
Cewek manis ini dulu punya cita-cita punya cowok filsafat dengan rambut gondrong, loh ©Genmuda.com/2017 Everlyn

Genmuda: Wah, siapa tuh yang jejelin kamu musik indie rock?

Chia: Kakak aku. Kami berdua sama-sama suka musik dan saling ngasih referensi musik. Kadang, suka aduan gengsi juga sih pengen cepet-cepetan dengerin musik baru. Pernah suatu ketika kakak aku nanya ‘Chia. Lo udah dengerin musik ini belum?’ terus aku jawab aja ‘Udah’ biar engga keliatan ketinggalan. Padahal, belum pernah sama sekali.

Kakak juga gitu. Waktu pertama kali aku kasih tau dia soal Artic Monkeys, aku ngerasa aku duluan yang lebih tau. Ternyata, kakak bilang dia udah dengerin duluan dari beberapa bulan sebelumnya. Sebel.

 

Genmuda: Nah, kalo akhirnya kamu mutusin jadi penyanyi yang main pakai ukulele gimana ceritanya?

Chia: Oh, aku udah minat bernyanyi sejak tinggal di Kanada. Di daerah Kerrisdale, Kota Vancouver, aku sempat ikut ajang pencarian bakat lokal. Aku membawakan lagu Aretha Fanklin yang “Chain of Fools” dan Diane Ross yang “When You Tell Me That You Love Me.” Saat itu aku juara sepuluh besar dari entah beberapa puluh peserta.

“…‘ah, baiklah. Aku harus main ukulele juga dan langsung liat tutorial di internet.’ Gitu ceritanya.”

Aku tau Aretha Franklin dari film “School of Rock” (2003) dan emang pengen main gitar dari dulu. Tapi, engga pernah berhasil karena tangan aku terlalu kecil untuk memencet kunci-kunci gitar.

Waktu sekolah di New York, AS, ada kakak kelas perempuan yang membawa ukulele ke dalam kantin. Aku ngefans banget sama gayanya, dan sejak saat itu ngerasa ‘ah, baiklah. Aku harus main ukulele juga dan langsung liat tutorial di internet.’ Gitu ceritanya.

 

Genmuda: Kenapa engga ngeband aja dari dulu?

Chia: Waktu aku tinggal di Jakarta, sekitar Kelas 1-2 SMP dan Kelas 3 SMA akhir, aku ikut nyanyi dalam band temen-temen, kok. Tapi, sebatas cabutan aja. Engga jadi anggota tetap bandnya.

 

Genmuda: Kalo gitu, kenapa sekarang akhirnya bikin band Reality Club?

Chia: Karena, aku ngerasa sekarang udah waktunya aja. Kesempatan serius bikin band ini dateng ketika diajak salah satu senior di Fakultas Hukum UI. Sejak itu, terciptalah Reality Club. Tapi, saat itu dia belom tau personilnya siapa aja.

Aku langsung kepikiran kakak yang dari dulu emang serius belajar main gitar. Aku ajak dia bergabung. Pacar aku juga akhirnya aku ajakin main gitar. Bandnya sendiri berformat full band dengan tambahan satu drum dan satu bass. Uniknya, senior yang ngajakin ngeband di awal sekarang malah udah keluar.

©Genmuda.com/2017 Everlyn
Sebelum jadian sama Iqbal, cowoknya yang sekarang, doi pernah jadi anak “wota” cuma karena engga mau kalah sama pacarnya yang dulu. ©Genmuda.com/2017 Everlyn

Genmuda: Seperti apa lagu-lagu band ini?

Chia: Hmm…. Kayak apa ya? Gini, di band ini, kakak aku yang banyak bikin lagu. Bisa dibilang, dialah otaknya Reality Club. Kak Faiz bahkan bisa bikin lirik dengan gampangnya sambil genjrang-genjreng irama yang baru dia buat. I let him do whatever he wants.

Tiap lagi bikin lagu, dia selalu pengen hasilnya adalah Rock. Tapi, yang keluar entah kenapa selalu pop. Mungkin, aliran pop atau pop-alternatif paling cocok untuk deskripsikan band aku. Silakan para pendengar yang menilai.

 

Genmuda: Apa tantangan terbesar yang dihadapi waktu ngurus band sendiri?

Chia: Sejauh ini, band kami berjalan lancar-lancar aja. Masalah yang paling sering muncul adalah Iqbal terlambat datang check sound, mungkin udah 4 atau 5 kali. Bahkan, dia pernah engga dateng sama sekali. Maafkan aku ya, Iqbal. Tapi, kami engga gimana-gimana banget karena ada kakak aku dan tim Reality Club yang selalu bisa jadi backingannya menyeting suara gitar sebelum manggung.

 

Genmuda: Apa cita-cita buat Reality Club?

Chia: We wanna be big!

 

Genmuda: How big?

Chia: Kita semua engga ada yang mau kerja selain ngeband. Jadi, ya maunya sampai that BIG! Kalau bisa, sampai manggung ke Coachella atau SXSW sekalian.

 

Genmuda: Satu pertanyaan lagi soal musik. Lagu apa yang dari dulu pengen banget kamu bawain tapi engga pernah kesampaian?

Chia: Lagu “Maps” yang dibawain Yeah Yeah Yeah. Aku engga bisa memainkan lagunya pakai ukulele. Kakak pernah sih mengiringi aku nyanyiin itu dengan gitarnya tapi engga direkam.

Daripada aku pendam sendiri dan engga jadi apa-apa, aku rekam aja performance aku dan disebar lewat YouTube.”

Genmuda: Kenapa waktu tahun 2011 itu beralih ke YouTube? Kenapa engga langsung ngeband?

Chia: Kenapa ya? Mungkin karena aku engga tahan lagi. Aku udah pengen banget tampilin kebolehan aku mengcover lagu tapi engga ada bandnya. Daripada aku pendam sendiri dan engga jadi apa-apa, aku rekam aja performance aku dan disebar lewat YouTube.

 

Genmuda: Gimana cara kamu memilih lagu-lagu yang pas untuk dicover ke YouTube.

Chia: Biasanya, sih. Lagu yang aku bawain ya lagu yang lagi sering aku dengerin pada saat itu dan bisa aku mainin menggunakan ukulele.

 

Genmuda: Proses latihan untuk mengcovernya sampai beberapa lama tuh?

Chia: Engga lama kok. Misalnya, aku cuma googling “Shape of You ukulele Chords” lalu udah aku mainin.

 

Genmuda: Wait a minute. Berarti, mengcover lagunya sambil nyontek chord di internet?

Chia: Hahaha. Iya. Dari dulu, aku selalu bermasalah kalo disuruh mengingat kunci-kunci dalam sebuah lagu. Tapi, liriknya selalu hapal. Sampai sekarang, aku memang selalu liat contekan kalo mengcover. Hehehe.

 

Genmuda: It’s okay. Lalu, sejauh mana cover yang direkam itu diedit lagi sebelum diupload?

Chia: Tergantung musiknya. Aku biasa cuma sekali take dan edit kalo ukulelenya aku genjreng. Sementara saat main musik yang petikan, aku perlu mengatur ulang suara vokal dan ukulelenya biar seimbang. Gitu doang, kok.

©Genmuda.com/2017 Everlyn
Bokap doi sukanya karaoke lagu-lagu The Beatles, sementara Nyokapnya lebih suka Vina Panduwinata. ©Genmuda.com/2017 Everlyn

Genmuda: Kalo boleh tau, kamu pakai mic dan software editor apa?

Chia: Mic aku Samson. Kalo softwarenya, aku pakai music editor bawaan dari Mac.

 

Genmuda: Apakah musik-musik ciptaan Reality Club juga kamu yang mastering dan balancing?

Chia: Oh, engga. Musik-musik kami diedit sama orang studio.

 

Genmuda: Kamu kan keliatannya anak musik banget, nih. Lalu, kenapa akhirnya YouTube kamu diisi juga sama beberapa konten yang bukan cover musik?

Chia: Karena, aku lagi keasikan nontonin video dan akhirnya nyasar ke vlog dan konten-konten kreatif channel lain. Setelah aku paham soal tren yang lagi berkembang di YouTube, I wanna do that, too.

Terkadang, aku malah benar-benar “menyontek” video orang lain. Engga semuanya sama, sih. Tapi kontennya emang seperti yang mereka buat. Netizen yang udah pernah nonton video yang aku contekin pasti ngerasa kesamaannya. Maafkan, ya.

 

Genmuda: Sip. Tapi, kenapa video-videonya harus dominan berbahasa Inggris ya?

Chia: Just because, aku ngerasa aneh saat bicara Bahasa Indonesia. Aku lebih nyaman berbahasa Inggris. Selain itu, yang paham videonya lebih banyak. You get wider outreach! Kalo aku membatasi diri dengan Bahasa Indonesia, prosesnya repot karena harus buat subtitle lagi. Lagi pula, kita semua harus bisa Bahasa Inggris!

 

Genmuda: Jadi, video Berbahasa Inggris ini bukan taktik supaya dapet banyak penonton?

Chia: No. Itu terjadi dengan sendirinya. Kalau aku memikirkan taktik, seharusnya konten video aku dibuat dengan Bahasa Indonesia, loh. Karena, penontonnya kan berasal dari dalam negeri.

 

Genmuda: Saat memperoleh waktu senggang, hal favorit apa yang kamu lakukan?

Chia: Aku lagi hobi pola hidup sehat. Sekarang ini, aku ikut gabung di Guava Pass. Dari situsnya, aku bisa tau banyak jadwal kelas olahraga yang lagi kosong di Jakarta untuk aku ikuti bareng temen aku. Namanya, Dinta. Biasanya, aku ikut kelas muay thai. Efek olahraganya terasa banget. Badan aku sampai sakit-sakit semua setelahnya.

 

Genmuda: Pertanyaan berikut ini agak filosofis. Pengalaman atau pelajaran hidup apa yang paling membekas di masa kamu pindah-pindah?

Chia: Hmm… Apa ya? Pelajaran yang paling membekas adalah untuk terus membuka pikiran dan berani mencoba hal baru, deh.

” Bikin sesuatu yang memang kamu sukai supaya hasilnya maksimal.” 

Genmuda: Ada engga makanan favorit di tiap negara yang pernah kamu tinggali?

Chia: Aku lupa makanan favorit waktu di Afrika Selatan, karena masih kecil banget. Di Kanada, aku suka banget poutine. Semacam kentang goreng yang disiram lelehan keju dan gravy kental (red. minyak dari daging bakar). Kalo di Amerika Serikat, pastinya New York pizza yang makannya dengan cara dilipat. Kalo di Indonesia, aku suka sate padang. Tapi, makanan favorit aku banget adalah sushi.

 

Genmuda: Apa nih pesan untuk Kawan Muda yang mau semulti talenta seperti kamu?

Chia: Apa ya? Standar aja sih kayaknya. Jangan pernah menutup diri. Terus berpikiran terbuka dan terima ide dari mana aja. Lalu, just do it. Bikin sesuatu yang memang kamu sukai supaya hasilnya maksimal.

 

Genmuda: Tiga kata apa yang mendeskripsikan Fathia Izzati?

Chia: Aku punyanya empat kata. All over the place. (Red. artinya bisa ada di mana-mana, bisa juga semberono).

 

Genmuda: Ada lagi, nih. Kenapa jarang banget memposting foto yang ada Iqbal-nya?

Chia: Kami berdua memang hanya memposting foto yang ada “momen” aja. Kalo cuma lagi pacaran gitu sih engga perlu dipamerin lah. Bukan aku doang yang berpikiran seperti itu. Iqbal juga punya pikiran yang sama. Pacaran kami bukan tipe yang pamer #relationshipgoal atau gimana. Santai aja.

 

Genmuda: Kamu kan punya minat besar dalam dunia Hukum, bisa bermusik, dan sekarang punya tanggung jawab mengelola channel YouTube. Lalu, whats next dari Fathia Izzati setelah lulus?

Chia: Apa ya? Aku juga belum banyak memikirkannya. Kita lihat nanti aja, deh. Hehehe

 

Gitu deh hasil ngobrol Genmuda.com bareng Fathia Izzati. Gimana, makin kenal kan sama cewek yang baru aja mengupload curcolan doi tinggal di Amerika ini? Jangan lupa tulis komentar kamu di bawah ini dan sapa aja Fathia di channelnya. Siapa tau dibales. Sampai ketemu di sesi ngobrol bareng selanjutnya. Pantengin terus Genmuda.com!

(sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.