Jum'at, 17 November 2017
National[IS]me

Tiga Tahun Jokowi Menjabat, ‘Netijen’ Indonesia Banyak Salah Fokusnya. Gak Percaya? Nih Buktinya!

via pikiran-rakyat.com(Sumber: pikiran-rakyat.com)

Genmuda – Sebagai anak muda yang belum terlibat langsung dalam bisnis saham, amnesty pajak, apalagi politik kekuasaan, tiga tahun pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) cuma bisa disimpulin dengan satu kata. Salah fokus.

Berbagai kebijakan Pak Jokowi sebagai pemimpin negara rame dikomentari bukan dari sudut pandang kenegaraan doang. Melainkan, juga dari sensasinya, entah itu soal fashion, vlog, atau hal receh lain tapi penting bagi netijen.

Obrolan yang gak jauh beda dari gosip selebriti dan merupakan konsumsi lambe-lambe itu bahkan sampe disoroti media besar. Di antara sekian banyak sensasi Pak Jokowi sejak menjabat 20 Oktober 2014, di bawah ini yang sampe bikin banyak orang salah fokus.

Saat mengundang Raja Salman

via setkab.go.id
(Sumber: setkab.go.id)

Masih segar diingatan. Sekitar awal Maret lalu, Raja Salman Arab Saudi berkunjung ke Indonesia bersama beberapa anggota keluarganya. Tujuan utamanya yakni berdiskusi sama Pak Jokowi terkait kemungkinan investasi sebesar 25 miliar dolar AS di Indonesia, sekaligus berlibur di Bali.

Pak Jokowi pun nyiapin pesta penyambutan yang terbilang mewah. Mulai dari penyediaan pesawat, hotel, dan sambutan meriah di Istana Negara. Setelah kunjungan usai, Raja Salman sepakat bikin kerjasama Indonesia dengan perusahaan minyak bumi Arab Saudi Aramco senilai 6 milliar dolar AS.

Ada lagi kucuran dana sebesar 1 miliar dolar AS dari Saudi Fund Development. Kalo dirupiahin total uang Arab yang masuk Indonesia ada sekitar 89 triliun rupiah. Namun demikian, Tiongkok memperoleh jumlah investasi hampir 10 kali lebih besar. Yaitu, 870 triliun.

Netijen gak rame ngebahas mengenai penyebab Arab angot-angotan investasi di Indonesia. Bukan juga soal fakta bahwa anak-anak raja kerajaan Islami pasti pada ngeliatin perempuan buka aurat di Bali. Melainkan, tentang kegantengan para pangeran yang ikut ke Indonesia.

Saat blusukan ke Tasik Malaya

via rayapos.com
(Sumber: rayapos.com)

Sudah jadi presiden pun, Pak Jokowi masih suka blusukan seperti waktu beliau menjabat Walikota Solo atau Gubernur DKI Jakarta. Salah satu tujuannya, yaitu Tasikmalaya, Jawa Barat, sekitar awal Juni lalu.

Kunjungannya kerjanya itu bertujuan buat formalitas pembagian Kartu Indonesia Pintar (KIP), sertifikat hak atas tanah, serta berbagai program bantuan sosial, di antaranya Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan Program Keluarga Harapan (PKH).

Program apakah PMT dan PKH itu? Selain pembuat program dan pejabat pemerintah, mungkin program untuk membangun keluarga sehat, sejahtera, dan berencana itu engga banyak diketahui. Tentu aja. Media besar lebih sibuk ngomongin sepatu kets Pak Jokowi, sih.

Saat kunjungan itu, Pak Jokowi emang mengenakan sepatu kets kekinian dengan celana blue jeans. Kata beliau, outfit macam itu sengaja dipilih biar lebih gampang bermobilitas.

Saat jajal Jalan Trans Papua

via bisnis.com
(Sumber: bisnis.com)

Jalan Trans Papua yang membentang sepanjang 3.259,45 kilometer dari Sorong hingga Merauke ini merupakan proyek penting Pak Jokowi untuk menghubungkan berbagai kota di tengah kondisi geografis Papua yang terbilang sulit dilalui.

Sekitar Mei 2017, Pak Jokowi mengunjungi ruas jalan tersebut di Danau Habema, Jayawijaya. Dengan niat inspeksi, beliau mengenakan motor trail lengkap dengan berbagai peralatan keselamatan untuk melaju sejauh 7 kilometer .

Didampingi Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Mulyono, serta Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, kegiatan itu kayaknya akan berlangsung formal.

Hingga akhirnya, terunggah foto Jokowi lagi pake baju lapangan. Tau apa yang akhirnya jadi perbincangan netijen dan media? Jaket TAD Sharkskin yang Pak Jokowi kenakan. JAKET, BOY! JAKET! Padahal, beliau lagi ngerjain proyek strategis di Indonesia Timur!

Saat demonstrasi 4 November 2016

via tribunnews.com
(Sumber: tribunnews.com)

Ricuh. Demonstrasi sejumlah ormas menuntut penangkapan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), 4 November 2016 yang berlangsung dari sekitar jam 10 pagi sampe sekitar 23.30 itu diwarnai bentrok, pembakaran kendaraan, serta tembakan gas air mata setelah matahari terbenam. It’s real!

Berbagai toko tutup karena takut demo berubah jadi kerusuhan besar kayak tahun 1998 dulu. Berbagai duta besar luar negeri di Indonesia mengutarakan pendapatnya, termasuk Mehmet Kadri Sander Gurbuz dari turki yang mendukung unjuk rasa anti Ahok.

Setelah demo mereda, sekitar tengah malamnya, Pak Jokowi mengadakan jumpa pers. Hanya saja, pidato beliau yang meminta para pendemo untuk pulang dan membiarkan para penegak hukum menyelesaikan kasus Ahok seadil-adilnya kalah pamor daripada jaket bomber yang dikenakan.

Pada akhirnya, demo yang tenar dengan nomor cantik 411 itu berakhir dengan perdebatan baru. “Jadi, Jaket Bomber Pak Jokowi itu merk Zara atau Pull & Bear????”

Saat menyapa WNI di Singapura

via tribunnews.com
(Sumber: tribunnews.com)

Anak-anak muda sih pastinya lebih tertarik sama cerita yang ini. Blusukan Pak Jokowi bukan cuma berlangsung di dalam negeri, melainkan hingga ke Singapura. September 2017 lalu, beliau menyapa WNI di negara pelabuhan itu.

Lagi asik berpidato di depan massa yang antusias, Pak Jokowi gak sadar ‘kode-kode’ Ibu Iriana. Mengandalkan kode mimik wajah dan gerakan tangan, sang Ibu Negara berusaha ngasih tau suaminya tentang rambut berantakan.

Tapi, kode keras itu gak disadari sang presiden hingga akhirnya beliau dibisikin Paspampres. Cerita itulah yang berkesan di mata netijen, daripada pembahasan mengenai makna kunjungan itu ke Singapura.

Kenapa harus Singapura? Kenapa gak berkunjung ke Malaysia? Kan banyak juga WNI yang mengadu nasib di negara tetangga tukang klaim kebudayaan itu.

Cerita-cerita mengenai salah fokus sepanjang pemerintahan Jokowi itu sebenernya cuma secipratan air aja di tengah derasnya salah fokus netijen. Kamu punya cerita lain? Langsung aja share di bawah ini. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.