The Overtunes: Kakak Beradik yang Banyak Beda Pendapat dan Pengen Mengubah Identitas Musiknya | Genmuda.com
Home Ngobrol Bareng The Overtunes: Kakak Beradik yang Banyak Beda Pendapat dan Pengen Mengubah Identitas Musiknya
The Overtunes: Kakak Beradik yang Banyak Beda Pendapat dan Pengen Mengubah Identitas Musiknya
Ki-ka: Reuben, Mikha, dan Mada, trio The Overtunes yang lagi siapin album terbaru dengan konsep beda. ©Genmuda.com/2017 Fiany Intan.

The Overtunes: Kakak Beradik yang Banyak Beda Pendapat dan Pengen Mengubah Identitas Musiknya

Genmuda – Buat sebagian Kawan Muda, nama Mada Emmanuelle, Reuben Nathaniel, dan Mikha Angelo mungkin udah gak asing lagi. Suara dan permainan musik tiga cowok bernama belakang Brahmantyo itu udah sering didengerin lewat single, album, Sound Cloud, dan pastinya dari beberapa film layar lebar.

Mereka pernah ngisi Original Sound Track (OST) film “Miracle: Jatuh dari Surga” (2015), “Ngenest” (2015), “The Fabulous Udin” (2016), dan terakhir adalah “Cek Toko Sebelah” (2016). Di project OST terakhir itu, mereka kolaborasi bareng Gamaliel Audrey Cantika (GAC).

Setelah project OST “Cek Toko Sebelah,” trio kakak beradik itu mulai keliatan gencar promo di dunia digital. Website mereka di theovertunesmusic.com aktif beroperasi sejak bulan pertama 2017, channel YouTube mulai gencar diisi konten baru dan ocehan di Twitter juga makin intens.

Di tengah kesibukan online (di YouTube dan medsos) dan offline (bikin lagu dan manggung), Genmuda.com berhasil ngobrol barengan sama ketiga personil The Overtunes di studio mereka di bilangan Jakarta Selatan. Berikut wawancaranya, gengs!

Genmuda: Halo, Mada, Reuben, Mikha. Lagi sibuk apa nih setelah kolaborasi bareng GAC buat “Cek Toko Sebelah”?

Reuben: Setelah bikin lagu, ngerekam kolaborasi, dan ikut keliling promo filmnya di beberapa Kota, kami sempet istirahat penuh selama April 2017.Gak ngapa-ngapain sama sekali.

Waktu promo “Cek Toko Sebelah” aja si Mikha sampai sempet sakit tuh. Kalo sekarang, udah mulai manggung lagi. Ini aja kami baru banget pulang dari panggung off air di daerah Surabaya dan Lombok.

Mada: Bulan ini, The Overtunes sudah manggung 4-5 kali dalam sebulan. Syukur sudah mencapai target.

©Genmuda.com/2017 Fiany Intan.
Ini tampilan studio di rumah Mada, Reuben, dan Mika yang jadi tempat rekaman awal lagu-lagu mereka. ©Genmuda.com/2017 Fiany Intan.

Genmuda: Waktu Mikha sakit, kalian sampai harus beneran off sebulan atau gimana?

Mikha: Sebenernya gak sakit yang parah banget sih. Hanya kelelahan aja.

Mada: Kalo boleh nambahin, istirahatnya bukan karena project “Cek Toko Sebelah,” melainkan karena selama hampir tiap bulan dalam tiga tahun berturut-turut, kami menjalani rutinitas yang sama. Selalu aja naik pesawat, manggung off air, terus ke keliling ke radio-radio buat promo.

Mikha: Kejenuhannya paling terasa ketika lagi nulis lagu. Kata-kata yang keluar kok itu lagi, itu lagi. Kayak udah lupa caranya bikin lagu.

 

Genmuda: Kalian kan udah dua kali nih mengisi filmnya Ernest. Gimana komentar kalian kalo ada yang bilang The Overtunes tuh band spesialis OST filmnya Ernest?

Mada: Gue sih mikirnya dia gak ngeliat sejarahnya The Overtunes. Soalnya, kami pernah mengisi soundtrack lain kan selain filmnya Ernest.

Mikha: Kami sih gak pernah ngira bisa dipanggil terus sama Ernest ya. Malahan, doi udah buka omongan mau ajak kami lagi untuk isi OST di film selanjutnya.

Reuben: Kami sih yakin, rejeki itu gak boleh ditolak. Meski begitu, kami berharap The Overtunes jadi semacam konsultan atau director soundtracknya aja. Kami yang buatin lagunya, tapi orang lain yang nyanyiin.

Mikha: Tapi, itu semua masih dalam tahap omong-omongan, ya.

 

Genmuda: Terus, project lagu sendiri kalian gimana?

Reuben: Iya, kami lagi cukup sibuk bikin lagu baru buat album kedua kami.

 

Genmuda: Udah sejauh mana nih penggarapan album barunya?

Mada: Kami masih tahap nulis-nulis lirik dan bikin demonya. Belum ada musik yang fix sama sekali. Lalu, kami juga masih berdiskusi dengan pihak label rekaman.

 

Genmuda: Labelnya masih dengan Sony Music?

Reuben: Sampai saat ini, kami masih gabung dengan Sony, kok.

Di album kedua, maunya lebih jelas ada jangka waktu dan lebih terjadwal.”

Genmuda: Next dari kalian sendiri maunya bikin album baru yang kayak gimana?

Mikha: Jelas mau yang jauh lebih profesional. Soalnya, album pertama kan dikerjain kayak serampangan. Di album kedua, maunya lebih jelas ada jangka waktu dan lebih terjadwal. Selain itu, kami juga udah punya additional tetap sekarang.

 

Genmuda: Sound Cloud kalian kan ada dua lagu baru yang belum masuk album mana-mana nih. Rencananya, keduanya mau masuk album baru?

Reuben: Matthew Song dan New Sky? Belum tau juga sih. Dua lagu itu direkam dan kami publish di Sound Cloud karena lagi pengen aja.

Mikha: Kami emang suka ngerilis lagu baru ke Sound Cloud supaya bisa didenger Tunist dan pada nyanyi bareng saat kami manggung.

©Genmuda.com/2017 Fiany Intan.
Fans Liverpool ini sering diajak ngobrol soal drama India sama omanya. ©Genmuda.com/2017 Fiany Intan.

Genmuda: Berarti, gak bakalan ada update lagu baru di Sound Cloud lagi hingga nanti album baruya rilis?

Reuben: Belum tau juga, sih. Kami gak upload lagu baru bukan karena apa-apa. Tapi karena ngerasa Sound Cloud udah gak ramai lagi. Dalam waktu dekat, deh. Kalo ada lagu yang siap kami publikasiin, pasti kami upload ke sana.

 

Genmuda: Terus, konsep album barunya mau seperti apa?

Mada: Niatnya, kami mau bener-bener masukin lagu yang berisi ciri bermusik masing-masing kami.

Mikha: Misalnya dalam satu album ada dua belas lagu, berarti ada tiga lagu yang Mada banget, tiga lagu yang Reuben banget, tiga lagu gue banget, dan tiga lagi gabungan antara kami bertiga.

 

Genmuda: Kalo mau diceritain ke Tunist gimana sih gaya bermusik kalian yang sekarang?

Mikha: Oh, kalo gitu, kita saling menilai gaya bermusik kita. Reuben itu pemikir banget. Liriknya berat dan selalu ngomongin kehidupan. Udah gitu, aransemennya detil. Kalo gue bilang sih, lagu-lagunya engga “lagu pop ala radio” banget. Nah, lagu “Matthew Song” dan “New Sky” itu iramanya Reuben banget.

Reuben: Yoi. Keren, kayak anak-anak Kelompok Penerbang Roket. Gue lagi suka banget band itu. Sekarang, gue menilai Mada. Doi itu liriknya “feeling” banget. Apa yang doi rasain tuh adalah yang doi tuangin ke liriknya. Kadang malah liriknya panjang banget kayak lagi bikin cerpen. Akhirnya, gue dan Mikha harus potong-potong beberapa bait supaya engga kelamaan lagunya.

Mada: Makanya, lo banyak denger Craig David. Sekarang, giliran gue deskripsiin gaya bermusik si Mikha. Sejujurnya, The Overtunes yang kalian denger selama ini tuh Mikha banget. Itulah sebabnya, kami sepakat kalo di album kedua tuh saatnya nunjukin identitas bermusik masing-masing.

Reuben: Karena itu, bagi kami tantangan terbesar bikin album kedua adalah meramu supaya jadi kayak “gado-gado” yang semua orang suka.

Mada: Iya juga. Biar orang-orang engga selalu mengira kalo The Overtunes tuh band pop yang bisanya bawain lagu slow dan cuma digemari cewek-cewek aja.

 

Genmuda: Kalo tipe lagunya berubah gak kayak dulu, gak takut para Tunist pada kabur?

Mada: Kami yakin sih gak pada kabur, ya. Justru kami berharap perubahan konsep album bikin pendengar The Overtunes makin banyak lagi. Secara khusus, kami juga berharap cowok-cowok jadi suka lagu The Overtunes.

Tujuan besarnya, kami ingin mengubah pandangan publik kalo The Overtunes tuh bukan boyband.

Reuben: Ya, mau gimana lagi. Single-single andalan yang selama ini rilis alirannya ngepop banget semua.

Gue percaya inspirasi tuh bisa dateng dengan sendirinya.”

Genmuda: Jadi, gimana cara kalian nemu inspirasi buat bikin album baru yang beda banget itu?

Reuben: Kami adalah orang-orang yang percaya kalo inspirasi itu engga usah dicari. Inspirasi bisa dateng dari mana aja asalkan kita gak menutup pikiran. Kalo gue, biasanya mengurangi main sosmed biar pikiran gue gak penuh.

Mikha: Gue lain lagi. Inspirasi gue dateng begitu aja. Sekalinya dateng, imajinasi gue langsung main. Hampir semua lagu cinta yang gue buat sebelumnya itu tuh sama sekali gak berdasarkan pengalaman pribadi. Gue berkhayal aja. Aslinya sih, gue gak ada pengalaman sama urusan percintaan.

Mada: Sama kayak Reuben. Gue percaya inspirasi tuh bisa dateng dengan sendirinya.

 

Genmuda: Kalo inspirasinya gak dateng-dateng gimana?

Mikha: Makanya itu. Kami mau album kedua digarap dengan cara lebih profesional. Misalnya, ada waktu off antara satu atau dua bulan supaya kami bener-bener bisa fokus mikir lirik dan musik yang bagus.

 

Genmuda: Lalu, di tengah kesibukan bikin album baru, apa yang kalian lakuin kalo lagi rehat sejenak?

Mikha: Kalo gue sih biasanya main game. Belakangan ini, lagu suka main game bola online bareng anak-anak Barasuara. Mereka emang usianya jauh lebih tua, tapi masih asik-asik banget saat ngobrol sama gue.

Mada: Gue ngapain ya? Gue sih menikmati kehidupan aja. Cari pengalaman baru. Oh, iya. Gue lagi pengen banget sih ambil les Bahasa Jepang dan mendalami kebudayaannya.

©Genmuda.com/2017 Fiany Intan.
Fans Arsenal ini selalu milih bas berdasarkan desain fisiknya, bukan suaranya. ©Genmuda.com/2017 Fiany Intan

Bukan apa-apa. Supaya gue punya banyak referensi saat bikin lagu baru. Soundtrack anime dan film Jepang kan banyak dan bagus-bagus tuh. Sekarang ini gue lagi nonton ulang Ultraman dengan Bahasa Jepang.

Reuben: Biasanya sih gue banyak baca berita dari berbagai website. Kadang, seharian tuh bisa gue habiskan dengan membaca dari bangun sampai tidur lagi. Berhenti baca cuma kalo mau ke kamar mandi, makan, atau dipanggil.

Mikha: Halah, kadang juga lo dipanggil engga nyahut. Karena baca itu tuh yang bikin lirik-lirik ciptaan Reuben selalu berat dari kita semua.

Mada: Gue udah jarang ngikutin berita tuh. Terakhir kali rutin baca koran tuh waktu SMP.

Mikha: Gue juga suka baca koran, kok. Gue rajin tuh baca-baca soal quotes of the day.

Reuben: Kalo sekarang, nyari quotesnya di Twitter.

 

Genmuda: Cowok-cowok kan biasanya hobi nonton dan main game olahraga, nih. Kalo kalian gimana?

Reuben: Sama. Kami juga. Gue suka Liverpool. Si Mada ini Arsenal yang “wenger out.” Tim kesukaan Mikha juga ada di Liga Inggris, tapi baru masuk lagi ke Premier League.

 

Genmuda: Newcastle kan?

Mikha: Iya, bener.

©Genmuda.com/2017 Fiany Intan
Bagi penggemar Newcastle ini, konser paling ideal adalah yang intim, seintim temen-temen yang lagi nongkrong di sekitar api unggun. ©Genmuda.com/2017 Fiany Intan.

Genmuda: Di antara kalian bertiga, siapa yang paling addict main game?

Mikha: Kami gak ketagihan banget, sih. Kalo dihitung-hitung, waktu yang gue habiskan di studio untuk bikin lagu tuh lebih banyak daripada waktu main game. Biasanya main game saat kehabisan ide aja.

 

Genmuda: Kalo gitu, main game engga jadi kendala buat rampungin album?

Reuben: Sama sekali gak.

 

Genmuda: Terus, Ben. Kenapa lo picky banget ya kalo milih pik? Emang spesifikasinya kayak gimana sih?

Reuben: Maunya yang tebel mirip seperti kuku karena engga biasa main gitar pakai pik. Main pakai kuku sih bisa aja, cuma sering patah.

Mada: Gue milih bas berdasarkan desainnya aja. Kalo besok-besoknya ada yang bilang suaranya bagus, ya gue malah balikin ke doi gini. “Lo engga liat desainnya?

Mikha: Lain dari Reuben yang suka pik tebal, gue malah lebih suka pik tipis. Malah, pernah ngegenjreng gitar pakai kertas yang gue lipat-lipat. Suaranya terasa lembut enak banget.

 

Genmuda: Kalo masalah sound di panggung gimana? Picky dan strict juga gaka sih setingannya?

Mikha: Sekarang ini, kami biasa bawa sound mixer dan peralatan sendiri. Seting mixernya juga bisa dilakuin di rumah. Sekarang kan semuanya udah digital dan pakai gadget juga bisa.

©Genmuda.com/2017 Fiany Intan.
Ini Aam, road manager yang udah kayak keluarga sendiri bagi The Overtunes. ©Genmuda.com/2017 Fiany Intan.

Genmuda: Terus, apa masalah yang paling gawat saat lagi konser live?

Reuben: Karena menganggap The Overtunes tuh band akustik, sound yang disediain panitia suka agak kurang. Padahal, kami berharap soundnya keren karena musik yang kami sajiin kan gak kosong begitu aja.

Mikha: Sebenernya, gue ngebawain lengkap karena agak udah putus asa. Soalnya, ketika check sound di panggung dan tampil tuh suaranya udah beda banget.

 

Genmuda: Saat di atas panggung, tipe penonton seperti apa yang paling kalian suka?

Reuben: Gue paling jarang merhatiin penonton nih.

Mikha: Ya lo juga sih diem aja kalo di atas panggung. Gak bisa gitu doang, men. Masa ketika gue dan Mada udah semangat loncat-loncat, lonya cuma liatin kunci gitar aja?

Reuben: Soalnya, gue takut salah kalo manggung sambil liat penonton. Oke lah panggung selanjutnya bakalan lebih aktif. Hehe..

Gue paling suka penonton yang ikut nyanyi bareng. Dan, gak megang ponsel.”

Mada: Kembali ke jawaban pertanyaannya nih. Gue paling suka penonton yang ikut nyanyi bareng. Dan, gak megang ponsel.

Mikha: Bener sih. Gak enak banget. Kita gak bisa liat muka penonton dan penonton liat kita cuma lewat layar ponselnya doang.

Mada: Terus, pas nanti diupload ke internet suaranya kresek-kresek jelek banget.

Mikha: Kalo sekarang-sekarang ini, gue ngeliat banyak banget penonton yang diem aja saat nontonin penampilan kami. Setelah gue baca artikel dan ngobrol sama banyak orang, ternyata emang penonton yang diem itu yang paling merhatiin.

 

Genmuda: Kalo emang gak suka sama penonton yang bawa ponsel, gimana cara kalian menghimbaunya. Sampai ngomel kayak Adelle atau Bruno Mars?

Reuben: Kalo sekarang sih gak bisa diapa-apain lagi. Karena, semua orang juga udah pada megang ponsel sendiri.

Mikha: Mungkin, kita bisa nulis imbauan dulu sih sebelum naik panggung. Biar penonton pada baca.

Reuben: Kalo gue sih gak segitunya. Yang penting kan gue menampilkan yang terbaik.

 

Genmuda: Jadi, konser ideal bagi The Overtunes tuh kayak gimana?

Mikha: Gue gak pernah mikir konser yang gede banget. Maunya yang biasa aja tapi terasa dekat sama penonton.

 

Genmuda: Kalo gitu, kalian lebih suka fans yang dikit tapi cinta mati sama The Overtunes atau fans yang banyak tapi datang dan pergi?

Mada: Maunya sih fans lama tetap betah tapi fans baru juga tetep berdatangan.

 

Genmuda: Terus, gimana tentang merchandise untuk album keduanya?

Reuben: Nah, itu masih kami siapin dan rencananya mau rilis barengan albumnya.

 

Genmuda: Selama proses produksi gitu, gimana cara kalian mengatasi konflik beda pendapat nih antara satu sama lain?

Mikha: Gak susah banget, kok. Tinggal diomongin aja kayak biasa. Konfliknya juga gak banyak yang muncul karena kami kan selalu diskusi.

 

Genmuda: Apa nih tips buat Kawan Muda yang mau punya band seperti kalian?

Reuben: Apa ya? Kami gak bisa ngasih banyak tips, sih. Yang jelas, kami bikin band setelah udah dekat kan karena sodara juga. Terus, segalanya didiskusiin baik-baik supaya gak ada yang keberatan.

 

Genmuda: Jadi, belum pernah berantem karena rebutan cewek?

Reuben: Gila kali. Gak pernah, lah.

©Genmuda.com/2017 Fiany Intan.
Baik di dalam atau di luar panggung, tiga abang-adek ini jarang ribut karena semuanya selalu didiskusiin. ©Genmuda.com/2017 Fiany Intan.

Genmuda: Kalo gitu, ciri-ciri cewek ideal buat kalian tuh kayak gimana?

Mada: Cewek Reuben tuh harus bisa nyetir. Karena doi gak bisa (Nyetir).

Reuben: Gak gitu! Gue sih berharap cewek gue mau diajak kemana-mana naik transportasi publik. Dan, ramah pastinya.

Mada: Kalo gue berharap cewek gue nanti mau terima hidup berkecukupan aja. Terus, harus friendly. Karena, doi harus bisa mengimbangi gue yang mukanya jutek buat yang baru pertama kali ketemu. Bebas deh dia pendukung Tottenham, Chelsea, atau MU. Yang penting, dia jangan “Wenger In.” Hahaha. Canda.

Mikha: Buat gue, cewek idaman tuh yang lebih ekstrovert. Yang jelas, bisa ngajak ngomong duluan. Tapi gue meyakini sih kalo ujung-ujungnya gue bakal jadian karena ketemu cewek yang “klik” gitu.

 

Genmuda: Lalu, tiga kata apa yang menggambarkan The Overtunes?

Reuben: Naif. Kita sok tau banget soalnya.

Mikha: Idealis deh gue.

Mada: Apa ya? Harmonis kali ya.

 

Tetep harmonis ya, meski banyak beda pendapat soal klub bola, ciri khas bermusik, sampai tipe cewek idaman. Ditungguin banget loh album selanjutnya yang kayaknya bakal nunjukin kedewasaan bermusik kalian. Sukses terus buat The Overtunes. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.