Minggu, 19 Agustus 2018

Genmuda – Hingga saat ini laut kehidupan perairan dalam masih menyimpan tanda tanya, terutama seputar ikan purbakala yang dikabarkan mampu bertahan hidup selama jutaan tahun lalu. Fenomena ilmiah ini pun banyak diadaptasi ke layar lebar, salah satunya adalah film baru bulan ini, “The Meg”.

Istilah “The Meg” sendiri diambil dari singkatan Megalodon, salah satu hiu raksasa yang hidup sekitar 20 hingga 1,2 juta tahun lalu. Spesies ini diperkirakan hidup dalam perairan dalam dan sering disebut sebagai Raja Lautan di zaman purbakala.

Berbekal catatan tersebut, sutradara “National Treasure” (2004), Jon Turteltaub tertarik menggarap teror hiu raksasa tersebut ke zaman modern. Semenarik apa ceritanya? Berikut review tengah pekan dari Genmuda.com!

Manusia vs Hiu raksasa

©Warner Bros./2018
©Warner Bros./2018

Film dimulai ketika penyelam profesional, Jonas Taylor (Jason Statham) pergi ke laut dalam sekitar 11 kilometer dari permukaan laut untuk menyelamatkan kru kapal selam yang terjebak di dasar laut. Gak lama berselang, kondisi kapal selam mulai hancur oleh serangan monster laut.

Kondisi makin genting, Taylor pun terpaksa meninggalkan dua temannya yang terjebak di kapal selam demi menyelamatkan korban selamat dari serangan monster yang dilihatnya. Naas, bukannya jadi pahlawan, dia malah dipecat karena diduga mabuk karena dianggap ling-lung dan mengada-ada soal serangan monster laut.

Lima tahun setelah kejadian itu, sekelompok peneliti yang dipimpin oleh Zhang (Winston Chao) dan putrinya Suyin (Li Bingbing) berhasil mengembangkan fasilitas bawah laut super canggih yang didanai oleh Morris (Rainn Wilson). Di fasilitas itulah mereka berusaha memecahkan misteri kehidupan di laut dalam.

Misi yang awalnya berjalan lancar mendadak menjadi bencana seperti lima tahun lalu. Saat itulah Mac (Cliff Curtis) kepikiran buat memanggil Jonas meski ditentang oleh Suyin yang ngotot bisa menyelamatkan timnya di dasar laut.

Gak mau terlalu ambil risiko Zhang dan Mac kemudian sepakat buat kembali merekrut Jonas karena dia adalah satu-satunya penyelam yang berhasil keluar hidup-hidup dari laut dalam, Kendati berhasil, misi penyelamatan itu malah memancing hiu raksasa Megalodon, –yang pernah dilihat Taylor, keluar dari laut dalam.

Mau gak mau para peneliti itu harus dihadapi oleh dua pilihan, membunuh atau dibunuh oleh hiu raksasa berukuran 24 meter.

Ceritanya klise, tapi masih tetap menegangkan

©Warner Bros./2018
©Warner Bros./2018

Penelitian ilmiah, ilmuan cantik, jagoan sangar, milyuner ‘sotoy’, dan serangan monster mungkin udah jadi elemen yang sering kita temui dalam film thriller berbau fiksi ilmiah. Formula itu juga masih bisa lo temuin di film berdurasi hampir 2 jam ini.

Dalam segi cerita penulis ngerasa sebenernya ‘The Meg’ gak terlalu rumit, bahkan jauh dari kata istimewa. Mengingat udah banyak film thriller yang ngejadiin hiu sebagai tokoh antagonis, lo mungkin udah bisa tau ending filmnya bakal seperti apa, –biarpun ukuran hiunya segede kapal ferry.

Walau banyak adegan ‘kaget’ yang bisa ditebak, untungnya film ini masih tertolong sama selipan humor yang bikin filmnya gak terlalu serius-serius banget. Bantuan makeup, CGI, dan akting tiap pemainnya juga cukup oke kok, biarpun gak bisa masuk ukuran ‘keren banget’, ya.

Kesimpulannya

©Warner Bros./2018
©Warner Bros./2018

Secara keseluruhan “The Meg” tetap kasih Kawan Muda cerita menegangkan antara manusia dengan hiu raksasa. Lo juga gak dibikin susah untuk mengerti konflik filmnya seperti apa.

Sebaliknya, kalo lo termasuk orang yang teliti atau butuh tontonan lebih masuk akal, kayaknya “The Meg” bakal terkesan biasa aja buat lo. Catatan tambah, buat pengalaman lebih menegangkan, penulis ngerekomendasiin lo menonton film ini di studio dengan layar besar seperti IMAX atau Screen X.

Di Indonesia filmnya mulai tayang mulai hari ini, Rabu (8/8). Kalo lo masih butuh referensi lain, tonton aja trailernya di bawah!

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.