Minggu, 22 Oktober 2017
HiburanNgulikFilm

‘The Emoji Movie’: Petualangan Para Emoji yang Sebenernya Gak Jelek-jelek Banget

dok Sony PicturesKi-ka: Jailbreak, Gene "Meh," dan Hi-5, tiga karakter utama di "The Emoji Movie" besrta emoji Poop. (Dok. Sony Pictures)

Genmuda – “The Emoji Movie” tayang di berbagai bioskop Indonesia, Jumat (11/8). Film yang dicibir sejak tahap produksi ini sebenernya mengandung pesan bagus tentang kesetiakawanan, jati diri, dan keluarga. Namun, detil-detil filmnya emang mengkhawatirkan.

Kisahnya dimulai dengan nyeritain kehidupan para emoji di dalam ponsel seorang remaja canggung, bernama Alex (Jake T Austin). Masing-masing emoji merupakan makhluk hidup yang kerja di dalam box, menunggu dipilih oleh pemilik ponselnya sebagai konten chat.

Gene si emoji “meh” (TJ Miller) baru aja diangkat jadi “karyawan kantor pusat” emoji di aplikasi chat “Textopolis.” Sebagai anak baru berpengalaman minim, doi gak bisa mempertahankan ekspresi acuh tak acuhnya, gak kayak emoji-emoji lain yang cuma punya satu ekspresi.

dok. Sony Pictures
Suasana di Textopolis. (Dok. Sony Pictures)

Masalahnya muncul ketika Alex pengen ngirim emoji “meh” ke Addie (Tati Gabrielle). Gene panik. Ketika doi discan, gambar yang terkirim ke chat Addie bukan ekspresi seperti yang seharusnya, melainkan gabungan berbagai macam ekspresi. Dikira sebagai malfuction, Gene diburu antivirus.

Dalam pelariannya, Gene ketemu emoji Hi-5 (James Corden) yang jarang dipakai dan Jailbreak (Anna Faris) si emoji misterius. Ketiga emoji itu bahu-membahu supaya sampai ke cloud storage, berharap tempat yang berisi jutaan data itu bisa ngasih solusi atas permasalahan masing-masing.

Detil film yang mengkhawatirkan

Dok. Sony Pictures
Nyonya “Meh” (kiri) dan Tuan “Meh” (kanan) bersama “Meh” di toilet cowok. Kok cewek bisa masuk toilet cowok? (Dok. Sony Pictures)

Sinopsisnya emang keliatan keren. Penonton yang cuma peduli sama garis besar cerita tanpa perhatiin detil film pasti sangat menikmati karya sutradara Tony Leondis ini. Hanya aja, kamu yang teliti terhadap sedikitpun kejanggalan pasti ngerasa film ini sebaiknya gak pernah diproduksi sama sekali.

Pertama, film ini kurang konsisten. Di salah satu adegan, video-video YouTube tampil dengan bentuk live action. Sedangkan, karakter Alex dan Addie ditampilin sebagai orang animasi. Masa iya orang-orang dunia animasi nontonin video berisi orang-orang beneran? Gimana caranya? Mereka nonton video dari dunia paralel gitu?

Kedua, kesalahan istilah. Misalnya, istiilah internet trolls. Di kamus urban manapun, internet trolls berarti orang yang hobinya ngata-ngatain orang lain di dunia digital. Di film, internet trolls malah berubah jadi kata-kata kotor yang digambarkan dalam bentuk monster hijau menjijikkan. Padahal, internet trolls tuh orang, loh.

Ketiga, semua pesannya terasa disampaikan terlalu gamblang. Serius. Bahkan, karakternya sampai harus sampaikan pesan itu secara lisan kayak ceramah Subuh, seolah penonton gak paham hal-hal tersirat. Okelah film ini dibuat untuk ditonton anak-anak. Tapi, anak-anak kan gak segitu polosnya.

Pemilihan soundtracknya bagus

Dok. Sony Pictures
Ini adegan bagus yang ngasih rasa pada filmnya. (Dok. Sony Pictures)

Seandainya pemilihan OST film berbujet 50 juta dollar AS ini gak tepat, film inilah bentuk nyata dari istilah “epic fail.” Untunglah Patrick Doyle, yang bertanggung jawab di bidang musik, pinter nyelipin lagu-lagu hits supaya ngebangun mood dengan tepat dan bikin penonton ngerasain momen-momen penting.

Sebenernya, jasa Patrick Doyle besar banget. Karena cukup banyak kritikan terhadap film garapan Columbia Pictures, LStar Capital, dan Sony Pictures ini, Genmuda.com cuma bisa ngasih bintang 3 pas. Gak bisa dinego lagi.

(sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.