Kamis, 15 November 2018

Genmuda – Lahir dari pasangan selebritis era 90an sama sekali engga bikin Chikita Fawzi atau yang lebih eksis bernama Chiki Fawzi terlena dan dimanja kemewahan. Cewek berhijab multi-talenta ini malah punya daya juang cukup besar buat menorehkan namanya di dunia seni Indonesia.

Anak Ikang Fawzi dan Marissa Haque ini pernah bekerja sebagai salah satu tim animator ‘Upin-Ipin’ di Malaysia sejak 2009, namun mutusin pulang ke Indonesia sekitar 2012 buat bikin karyanya sendiri. Di Indonesia, Chiki kembali berkecimpung di dunia animasi dengan mendirikan rumah produksi animasi.

Namun, kesibukan doi dan rekan bisnisnya menyebabkan rumah produksi itu vakum. Ciki pun banting stir menjadi penyanyi indie sambil tetep aktif di sejumlah kegiatan kerelawanan. Album doi yang berjudul ‘Dimulai dari Mimpi’ pun doi persembahkan buat salah satu kegiatan sosial itu. Kisah doi ini pun dapat kamu baca di hasil wawancara berikut ini:

Genmuda: Halo Chiki, sekarang lagi sibuk apa nih, kayaknya aktif banget di mana-mana?

Chiki: Sekarang ini, lagi jadi host acara jelang buka bersama di salah satu televisi swasta selama bulan Ramadhan. Karena studionya di Cawang sementara aku berangkat dari Bintaro sendiri, rasanya jadi sibuk banget.

Aku engga berani ngambil job lain kecuali yang berkaitan sama album dan promo album. Karena, stamina aku sedang engga prima. Aku pernah sampai ‘babak belur’ apa lagi waktu ngegarap start up rumah produksi bareng temen sejak 2012 yang jatuh bangun banget. Tapi, beberapa bulan lalu aku dan temen-temen di sana mutusin buat berhenti.

Setelah itu, aku lebih bisa fokus ngegarap album. Tapi aku tetep sibuk karena album itu aku garap semuanya sendiri. Beberapa bulan setelah bikin album, aku juga disibukkan ngurus beasiswa buat ngelanjutin sekolah. Aku lagi bolak-balik nyamperin kantor. Rencananya mau ambil jurusan manajemen biar aku bisa punya dasar kalo bikin usaha sendiri. Aku sih naksirnya Creative and Cultural Entrepreneurship (CCE) di ITB.

 

Genmuda: Awalnya kan dikenal berkarya sebagai animator. Lalu, kenapa banting stir jadi penyanyi?

Chiki: Sebenarnya, dari SMA aku suka bermusik. Waktu kuliah dan kerja pun aku masih ngeband. Meski aku merasa engga bisa nyanyi, aku yakin semuanya bisa dipelajari. Karena itu, aku mengisi waktu luang buat ngikutin materi-materi ‘Music Plus’ dari Indra Azis.

 

Genmuda: Kalo influence-nya dateng dari mana?

Chiki: Aku suka banget denger lagu-lagu Leslie Feist dan Regina Spektor.

 

Genmuda: Kemudian, bagaimana menghadapi komentar-komentar orang terdekat waktu tau kamu serius bikin album?

Chiki: Mau jadinya bagus, atau jelek, ataupun akhirnya masuk jalur indie karena belum ada major label yang terima, ini adalah hasil keringat gue sendiri. Dan lebih pentingnya, gue sangat menikmati tiap prosesnya

 

Genmuda: Kalo di antara kedua orangtua, siapa yang paling support?

Chiki: Keduanya sangat mendukung keputusan aku.

 

Genmuda: Apa kendala yang dihadapi waktu menggarap album perdana?

Chiki: Duit. Hehehe. Kalo berusaha meyakinkan diri bahwa duit bukan masalah, kendala lainnya adalah mencari pemusik yang pas. Tapi, aku beruntung karena album ‘Dimulai dari Mimpi’ diproduseri Iga Massardi BaraSuara. Dia tuh orangnya baik banget karena rela luangkan waktu buat bantu produksi album aku di tengah kesibukannya di BaraSuara.

(Foto: Genmuda.com/2016 Aditya)
(Foto: Genmuda.com/2016 Aditya)

Aku kenal mas Iga karena kenal sahabat aku dari SMA yang jadi backingvocal BaraSuara. Intinya tuh bikin album self release sangat mungkin selama kita punya networking. Aku sama sekali engga malu buat ‘jemput bola’. Aku kan mau maju. Mana bisa malu-malu.

Dana awal garap album ini aku dapet dari hasil gambar mural rumah orang. Mereka tertarik setelah liat Instagram aku. Jadinya, aku banyak jalin silaturahmi sama client dan akhirnya jadi temen. Mereka akrab banget.

 

Genmuda: Kemudian, gimana ceritanya kamu bersedia menyisihkan keuntungan penjualan ‘Dimulai dari Mimpi’ buat Rumah Harapan?

Chiki: Aku biasa jadi relawan di Rumah Harapan Tebet, Jakarta dan mendongeng buat pasien-pasien anak yang lagi menginap di situ. Mural dan hiasan tembok di dinding Rumah Harapan tebet adalah salah satu karya aku di sana.

Tiap CD yang terjual buat membantu kegiatan Rumah Harapan di Bandung. Di Bandung, engga banyak rumah singgah yang bisa mengakomodasi pasien-pasien kurang mampu di rumah sakit yang butuh tempat menginap. Sementara mereka engga bisa tidur di selasar rumah sakit. Karena itu, founder Rumah Harapan ingin bangun Rumah Harapan buat anak-anak kurang mampu.

Sekarang rumahnya sudah ada, namun pembiayaannya belum lunas. Aku sengaja mencantumkan stiker Rumah Harapan di cover CD aku buat menyebarkan awareness. Jadi, orang bisa tergerak buat nyumbang lebih besar langsung ke Rumah Harapan.

 

Genmuda: Kan Chikita banyak kegiatan, gimana bagi waktunya antara ngegambar, studio animasi, sama penggarapan album?

Chiki: Engga bisa. Makanya aku jadi sakit nih. Aku masih bingung mengatur waktu istirahat dan kerja yang baik buat semua. Sejujurnya, aku sama sekali engga punya tips kalo soal ini. Hehehe.

 

Genmuda: Apa lagu yang paling kamu suka banget dari album kamu? Alasannya?

Chiki: Lagu yang aku suka di album aku sebenarnya banyak. Tapi, yang paling aku suka judulnya ‘Midnight Rainbow’. Biarpun aku jadiin lagu terakhir di album, itu lagu yang pertama kali aku aransemen bareng Iga Massardi.

Kalo aku punya mimpi, pasti akan aku breakdown buat cari tahu langkah-langkah kecil apa saja yang bisa aku lakukan untuk menggapai mimpi”

Lagu itu aku  buat waktu  masih kerja sebagai animator ‘Upin-Ipin’, waktu aku kangen tidur enak, kangen mama, kangen temen-temen. Lagu itu aku buat di bawah meja tempat aku tidur dan di mushola. Isinya sih lebih ke curhatan aku yang kangen tidur enak.

 

Genmuda: Secara keseluruhan, album ini menceritakan soal apa?

Chiki: Mimpi. Aku suka banget the idea of dream. Api aku waktu menggarap album ini sendirian pun mimpi aku. Semuanya bener-bener dimulai dari mimpi. Waktu di Malaysia, aku pengen banget pulang ke Indonesia dan bikin album sendiri.

“Tujuannya supaya aku bisa bantu lebih banyak orang.”

Genmuda: Apa pesan yang mau disampaikan dari album ini?

Chiki: Intinya, semua mimpi kita itu bisa kita capai. Kalo aku punya mimpi, pasti akan aku breakdown buat cari tahu langkah-langkah kecil apa saja yang bisa aku lakukan untuk menggapai mimpi.

 

Genmuda: Inspirasinya datang dari mana?

Chiki: Tentu dari pengalaman sendiri. Soalnya, butuh perjuangan besar buat bikin album ini. Aku biasa gambar-gambar kalo lagi cari inspirasi.

 

Genmuda: Apakah memang berniat untuk indie?

Chiki: Album ini digarap sendiri karena belum ada label yang menawarkan diri. Sebenarnya, aku bukan musisi yang seidealis itu. Aku tipe seniman yang suka cari uang halal. Karena aku yakin aku bakal butuh uang supaya bisa bantu orang lebih banyak lagi.

(Foto: Genmuda.com/2016 Aditya)
(Foto: Genmuda.com/2016 Aditya)

Daripada aku harus tunggu tawaran label, lebih baik aku maju dulu sendiri. Aku bukan tipe orang yang suka diam menunggu. Kalo engga ada yang mau bantu aku, ya aku kejar sendiri mimpi aku. Kalo ada yang label yang approach, kenapa engga.

 

Genmuda: Engga takut kebebasannya dibatasi sama major label?

Chiki: Kita lihat saja nanti. Hehehe.

 

Genmuda: Apa project selanjutnya?

Chiki: Karena aku baru selesai menggarap album, aku bakal promo-promo dulu. Kemudian, lagi nyicil bikin video lirik buat di YouTube. Terus, mau bikin video klip selanjutnya. Mau optimal memasarkan album deh intinya.

Tiap lagu di album ‘Dimulai dari Mimpi’ pun punya gambar ilustrasi masing-masing. Rencananya, tiap ilustrasi lagu mau aku jadikan desain merchandise. Dari situ, aku bisa dapat tambahan pemasukan. Tujuannya supaya aku bisa bantu lebih banyak orang.

 

Genmuda: Kalo dikasih kesempatan berduet, maunya duet dengan siapa?

Chiki: Gue pengen banget duet sama Cholil Mahmud Efek Rumah Kaca. Aku suka banget lirik-lirik lagu ERK. Sangat realistis.

 

Genmuda: Kalo resolusi Bulan Ramadhan tahun ini apa?

Chiki: Aku pengen banget ngejar kajian keagamaan bagus selama Ramadhan ini dan mengurangi bukber-bukber engga penting. Biarpun cobaan tetep ada, Allah pasti bakal kasih jalan keluar kalau kita udah komitmen.

 

Genmuda: Apa motto hidup yang bisa kamu bagikan buat Kawan Muda?

Chiki: Jangan lelah berbuat baik, karena lelah akan hilang sementara kebaikan akan kekal. Itu motto hidupku.

 

Dari wawancara penuh canda itu, Genmuda.com bisa simpulkan nih kalo cobaan tiap manusia buat menggapai cita-citanya engga bakal ada habisnya. Jangan mau menunggu dan kejar terus impian hingga akhirnya didapat. Sukses terus buat Chiki Fawzi!

(sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.