Jum'at, 19 Juli 2019
Ngobrol Bareng

Tara dan Gema: Gamer Multi Talenta yang Belajar dari Mana Aja

©Genmuda.com/2017 TIMGema dan Tara yang mengakui banyak belajar secara otodidak dalam membuat beberapa konten kreatif di channel Youtube mereka ©Genmuda.com/2017 TIM

Genmuda – Ring, ring, ring, ring, ring, ring! Ponsel Tara dan Gema berdering tanpa henti begitu terhubung internet, tanda banyak pesan masuk. Para fans yang ingin menyapa dan klien yang ingin mengendorse selalu aktif menghubungi 24/7.

Maklum. Jumlah penonton video di channel YouTube Tara Arts dan Gema Show selalu bertambah tiap harinya. Begitupun total subscriber abang-adek yang tinggal di sebuah area perumahan Tangerang Selatan itu. Tandanya, popularitas mereka di ranah YouTube terus meningkat.

Selain main game di YouTube, mereka juga jago bermusik. Tara punya suara bagus dan pernah jadi penyanyi panggilan jauh sebelum berkecimpung di internet. Sementara itu, Gema jago main alat musik, seperti gitar dan piano.

Di antara pesan masuk yang terpaksa mereka abaikan karena saking banyaknya, pesan masuk Genmuda.com berhasil dapat balasan. Keren. Mereka pun setuju untuk ngobrol bareng Genmuda.com sambil ngabuburit dan becanda. Berikut inilah hasil wawancaranya.

Genmuda: Halo, Tara lagi sibuk apa, nih? Mana si Gema?

Tara: Sori banget, nih. Gema kayaknya masih tidur karena kelelahan. Kami baru bisa merem beberapa jam lalu karena menyelesaikan project endorsement salah satu brand elektronik. Bahkan undangan dari Istana saja terpaksa kami batalkan karena ada tanggung jawab kontrak.

 

Genmuda: Istana, tuh maksudnya Istana Negara? Undangan dari Pak Jokowi?

Tara: Iya. Kami pernah diundang dua atau tiga kali, tapi hanya bisa menyempatkan hadir sekali. Bukan karena sombong atau bagaimana. Alasannya murni karena kami sudah terlanjur tanda-tangan kontrak. Mau tidak mau, harus memenuhi tugasnya.

 

Genmuda: Memang, sibuk banget ya? Dalam sebulan, bisa sampai berapa tawaran endorsement yang Tara dan Gema terima?

Tara: Tawaran yang masuk mungkin bisa lebih dari sepuluh tiap hari. Tadi lihat sendiri, kan ponsel saya berdering tak berhenti-henti. Itu semua email masuk. Ada yang dari fans dengan pertanyaan semenyebalkan “Kak Tara, Kapan nikah?” hingga dari perusahaan yang menawarkan kerjasama.

 

Genmuda: Tiap bulan, ada berapa tuh tawaran kerjasama yang diterima?

Tara: Tergantung kontraknya. Rata-rata, sekitar empat kali endorse dalam sebulan.

 

Genmuda: Endorse di channel YouTube-nya Tara dan Gema tuh seperti apa sih diiklankannya di video?

Tara: Biasanya, kami hanya menyebutkan nama produk dan website resmi produknya di dalam video. Pernah lihat kan kami melakukannya di bebarapa video, seperti di video tutorial ataupun vlog kami. Nah, seperti itulah bentuknya. Kemudian, video-videonya juga gak akan kami hapus dari channel. Baik banget kan.

 

Genmuda: Tara Arts dan Gema Show kan punya beberapa channel. Apakah ada satu video yang sama diunggah di channel berbeda?

Tara: Sebisa mungkin, kami menghindari itu. Kecuali, ketika ingin membuat video dengan dua bahasa.

 

Genmuda: Channel Tara Arts kan ada banyak, nih. Ada yang sulap, film, game, bahkan vlog. Kira-kira mana yang channel lo banget?

Tara: Semuanya gue banget, kok. Gue suka game, suka bikin film, bikin animasi juga.

 

Genmuda: Terus, kemampuan animasi lo diasah dengan cara apa?

Tara: Dengan cara otodidak sepenuhnya. Saya itu orangnya suka mengaku-ngaku bisa padahal belum bisa. Misalnya, seperti ketika mengikuti lomba bikin video, sekitar 2011 atau 2012. Di lomba itu, saya sengaja ingin bikin film yang ada efek animasinya meski belum bisa sama sekali.

Video saya dan Gema harus ada animasinya karena video-video tim lain tidak ada yang seperti itu. Akhirnya, saya punya waktu sekitar 3 bulan untuk Googling tutorial membuat animasi dari nol. Akhirnya, video saya jadi tepat sehari sebelum waktu tenggat pengumpulan.

©Genmuda.com/2017 TIM
Tara dan Gema usai melakukan live Instagram barengan Genmuda.com ©Genmuda.com/2017 TIM

Genmuda: Lalu, gimana kelanjutan lombanya?

Tara: Nah, tibalah masa pengumuman di sebuah bioskop Jakarta. Ketika juri mengumumkan juara ketiga, kami langsung down. Video pendeknya dibuat dengan tim beranggotakan sekitar 20 orang. Begitupun video kedua yang gak kalah keren. Saat itu, saya dan Gema sudah mau pulang duluan aja.

Saat MC mengumumkan juara pertama, panitia memutarkan videonya. Gema langsung memekik dan loncat bersemangat begitu melihat intronya ternyata video kami. Saking semangatnya, kacamatanya sampai terlempar dan hilang. Dari lomba itu, kami dihadiahi kamera Canon 5D Mark II. Sebelumnya, apa-apa merekam dengan video recorder biasa yang baterainya habis tiap 10 menit.

 

Genmuda: Tapi, jauh sebelum lo bikin animasi dan ngegame di YouTube lo kan memulai channel pertama sekitar 2007 tentang sulap. Kenapa sulap?

Tara: Waktu itu kebetulan buat mempromosikan toko online saya yang menjual barang-barang trik sulap. Saya menjelaskan bagaimana cara kerja masing-masing trik. Penontonnya saat itu kebanyakan orang luar negeri. Mungkin, karena orang Indonesia ketika itu belum terlalu main YouTube.

“Setelah gak ngampus, saya cari kerja di sana-sini sebagai penyanyi.”

Kalo boleh cerita sedikit, sebelum buka toko sulap tuh saya bisa dibilang kerja serabutan. Saya hanya belajar selama satu semester di UNJ jurusan Seni Rupa. Setelah gak ngampus, saya cari kerja di sana-sini sebagai penyanyi.

 

Genmuda: Lalu, Gimana pendapat lo soal penikmat sulap di Indonesia?

Tara: Saya gak mau menge-judge atau gimana, ya. Saya mau cerita aja. Salah satu trik sulap yang saya promosikan waktu itu ada yang triknya mengubah uang Rp 5.000 jadi Rp 100.000,-

Tak lama berselang, ada salah seorang Indonesia yang membeli peralatan sulap itu. Ketika dia menerima barangnya, dia mencak-mencak ngatain saya. Katanya, begini. “Sial! Ini bukan sulap. Ini sih, trik!”

Saya hanya membalas pesan singkatnya begini. “Mas. Sulap itu memang trik. Kalau saya benar-benar bisa mengubah uang Rp 5.000 jadi Rp 100.000, saya gak akan jualan alat-alat sulap.”

Jadi, ya gitu. Intinya, mental orang Indonesia itu masih klenik dan mistis dalam memandang sulap. Sementara itu, orang-orang luar negeri sudah memandangnya sebagai hiburan. Mereka yang tau trik sulap pun masih bisa menikmati penampilan seorang pesulap tanpa harus membocorkan trik-triknya.

 

Genmuda: Lalu, apa yang memicu lo melebarkan sayap dari bikin video sulap ke hal lain?

Tara: Semua ada hubungannya dengan acara sulap yang sempat tren di Indonesia, sekitar 2008. Ketika itu, penjualan alat-alat sulap saya naik drastis mengikuti rating acara tersebut. Ketika acaranya gak laku, alat sulap saya pun hilang pamor.

Karena saya sangat suka melihat video animasi seorang anak Kamehameha (red. jurus dari anime Dragon Ball) di YouTube, saya pun berniat bikin animasi. Sejak saat itulah saya mendalami teknik animasi dan belajar menggunakan banyak program. Mulai dari Adobe After Effect hingga 3D Max.

 

Gak lama setelah Itu, akhirnya Gema udah bangun. Gema keluar kamar dan menyapa Genmuda.com. Akhirnya bisa ngasih pertanyaan untuk dijawab berdua.

 

Genmuda: Halo, Gema. Mau konfirmasi, dong. Kamu kan dulu gak mau lanjut kuliah karena tergiur YouTube juga, ya. Itu sebabnya kenapa?

Gema: Itu karena channel Abang Tara akhirnya jadi parter YouTube, artinya bisa menampilkan iklan. Saya juga mau karena itu keren banget. Kalau Abang Tara bisa, saya juga pasti bisa.

 

Genmuda: Kalo boleh dijelaskan lagi, apakah alasan gak melanjutkan pendidikan itu karena Abang atau karena uang?

Gema: Gimana ya. Karena dua-duanya juga. Tapi, alasan utama saya adalah karena gak mau bekerja di bawah orang lain.

©Genmuda.com/2016 TIM
Belajar dari pengalaman pahit orang tua yang pernah di PHK, kedua baik Tara maupun Gema ingin berusaha mandiri dengan menciptakan pekerjaan yang mereka sukai ©Genmuda.com/2017 TIM

Genmuda: Kenapa begitu?

Gema: Mungkin karena Ayah saya. Ketika sekolah dulu, beliau sering bilang kalau saya lebih baik punya usaha sendiri.

Tara: Maklum, lah. Ketika krisis moneter 1998 dulu, Ayah dan Ibu termasuk salah satu yang jadi korban PHK. Susah mencari kerja, mereka berdua harus berjualan seprai, kaos, dan apapun tiap hari supaya bisa menghidupi keluarga. Selama proses itu, saya dan Gema selalu menemani.

 

Genmuda: Gema dan Tara kan sering crossover di banyak video. Ada Gema di video tara begitu juga sebaliknya. Gimana nih cara netizen membedakan channel Tara Arts Game dan Gema Show?

Gema: Oh, itu. Jelas dari game-game yang kami mainin. Saya paling suka game yang genrenya Historical. Misalnya, “Dynasty Warior” dan “Assassin’s Creed.” Kalau Bang Tara sukanya game Action, Racing, dan RPG.

 

Genmuda: Terus, gimana cara memilah-milih game yang pada akhirnya akan kalian bawakan di YouTube?

Gema: Itu sih tergantung game yang lagi kami suka.

Tara: Dan, tergantung perusahaan yang mengendorse. Misalnya, beberapa saat lalu. Saya diminta mereview game Android. Ya, game itu harus dimunculkan di channel YouTube, kan.

 

Genmuda: Kalo kalian suka crossover seperti itu, pembagian keuntungannya tuh seperti apa?

Yunita (Manager): Kalau itu sih sudah saya yang atur supaya adil. Sebagai manager sekaligus orangtua, saya yakin telah membagi pendapatan endorsement secara merata. Sementara itu, pendapatan dari channel YouTube masing-masing ya masuk ke kantong masing-masing.

“Saya fokus di YouTube karena saya yakin itulah jalan saya untuk mandiri tanpa perlu jadi bawahan orang lain.”

Genmuda: Buat Gema. Gimana komentar lo terhadap netizen yang nyinyir “Ah, Gema sih cuma numpang di bayang-bayang Abangnya aja.”

Gema: Seperti yang saya bilang. Saya fokus di YouTube karena saya yakin itulah jalan saya untuk mandiri tanpa perlu jadi bawahan orang lain. Sesuai dengan harapan Ayah.

 

Genmuda: Gue mau minta pendapat kalian, nih. Kalian kan multi talenta dan bisa maju tanpa gelar S1 sementara banyak orang yang sudah S1 atau S2 gak bisa apa-apa. Bagaimana pendapat kalian?

Tara: Menurut saya, pendidikan itu bisa didapatkan tak mesti di tempat formal. Di area sekarang ini, ilmu dengan gampangnya bisa didapatkan di internet.

Gema: Saya setuju sama Tara. Soalnya, ada teman saya yang berkuliah perfilman justru bertanya banyak tentang film dan animasi kepada saya, orang yang hanya belajar otodidak tanpa punya gelar. Menurut saya, sih, internet seharusnya membuat pendidikan orang jadi lebih cepat juga.

Yunita: Di samping itu, mereka juga gemar membaca baik itu buku ataupun dari internet.

 

Genmuda: Apakah artinya bagi Tara, Gema, dan Ibu Yunita merasa pendidikan formal itu kurang penting?

Tara: Bukan seperti itu. Jalan tengahnya seperti ini. Di Indonesia, pendidikan itu jelas penting. Hanya saja, jangan membatasi diri belajar di sekolah saja karena ilmu pengetahuan bisa didapatkan di mana-mana.

 

Genmuda: Wah. Pembicaraannya jadi serius, nih. Mari kita kembalikan ke obrolan santai. Jadi, kalian ini PC, Console, atau Android guy?

Tara: Kami sih omnivora guy.

Gema: Di rumah aja ada komputer, PS4, XBox, 3DS juga.

©Genmuda.com/2016 TIM
©Genmuda.com/2017 TIM

Genmuda: Kalo boleh tau, spec PC kalian seperti apa?

Tara: Prosesor gue Intel i7 6700K, RAM DDR4 16GB, dan VGA Card Nvidia GTX 1080.

Gema: Gue sama kayak bang Tara. Tapi, VGA-nya Nvidiea GTX 1070.

 

Genmuda: Nah, sekarang ini kan banyak ya YouTuber-YouTuber baru di Indonesia. Gimana menurut kalian soal digandrunginya YouTube sekarang ini.

Tara: Bagus. Jadi kami bisa kembali menyasar pasar di Indonesia. Gak lagi di luar negeri. Tapi, efeknya ya pendapatan kami gak sebanyak dulu. Jujur saja, dana, endorser luar negeri jauh lebih banyak dari di dalam negeri.

 

Genmuda: Apakah kalian menganggap kemunculan YouTuber baru itu sebagai pesaing?

Tara: Ya jelas. Tapi, itu bagus. Tanpa ada persaingan, bagaimana kami bisa berkembang.

 

Genmuda: Kemudian, bagaimana pendapat kalian soal YouTuber yang suka ngomong kurang pas di hadapan publik hingga akhirnya dikritik orang tua?

Tara: Saya coba memandang permasalahan itu secara objektif. Menurut saya, mereka seperti itu karena ada peminatnya. Kalau mereka tak ada peminat tapi masih suka berkata-kata kotor, baru itu perlu dipertanyakan.

“Sejak itulah kami kami mulai menjaga bahasa.”

Genmuda: Apakah itu artinya Tara Arts bilang kalo sah-sah aja YouTuber berkata kotor?

Tara: Gak seekstrim itu. Lagi-lagi, saya tidak bisa menge-judge YouTuber lain yang tak sopan dalam berbicara. Saya hanya bisa menceritakan yang kami lakukan. Pada awalnya, Tara Arts pun suka keceplosan berkata kotor.

Hingga akhirnya video kami sebenarnya diminati anak-anak dan keponakan-keponakan kami. Sejak itulah kami kami mulai menjaga bahasa.

 

Genmuda: Menurut Tara, siapa yang bertanggung jawab terhadap tingkat sopan santun di internet? Apakah YouTubernya, penontonnya, atau malah orangtua penontonnya?

Tara: Semuanya berpengaruh. YouTuber harus menjaga dan menjelaskan kontennya 18+ apabila memang ada perkataan kotor. Penonton harus bijak memilah-milah yang bisa ditiru. Dan, orang tua harus aktif mengawasi browsing anak-anaknya.

 

Genmuda: Mantap! Kalau begitu, apa tiga kata yang mewakili Tara Arts dan Gema Show?

Tara: Ceria, semangat, dan pantang menyerah.

Gema: Ceria, bahagia, dan semangat.

 

Well, seperti itulah akhir ngobrol bareng Tara dan Gema barengan Genmuda.com. Intinya, mereka berdua punya semangat kewirausahaan yang tinggi karena belajar dari pengalaman kedua orang tuanya.

Buat yang pengen tau gimana kreatif dan kocaknya kakak beradik ini, langsung aja kepoin channel Youtube mereka. Semoga Ngobrol Bareng kali ini bisa menginspirasi Kawan Muda juga ya! Tetep semangat, genks! (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.