Rabu, 12 Desember 2018

Genmuda – Kawan Muda yang ditinggal di daerah Jabodetabek pasti tau kan soal wacana penerapan tarif buat mobil pribadi yang akan masuk wilayah Jakarta? Jadi, wacana ini muncul dari Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) untuk mengurangi kepadatan kendaraan dan mendorong masyarakat pindah ke transportasi umum.

Sekedar pengetahuan buat kamu aja nih gengs, data dari PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mencatat jika tahun 2017 jumlah pengguna Commuter Line ada sekitar 315 juta orang per tahun atau dengan rata-rata 950 ribu orang per hari. Itu belum ditambah sama pengguna ojek online dan kendaraan pribadi, loh. Udah bisa kebayang dong bertapa sumpeknya Jakarta (dan jadi alasan mengapa orang-orang diajak pindah ke Meikarta).

Terlepas dari itu semua, wacana dari BPTJ sebenernya dirasa masuk akal buat diterapin di zaman sekarang, gengs. Nantinya konsep pembayarannya akan mirip-mirip dengan ERP di Singapura dan selalu tertunda dari zaman Pak Jokowi, Pak Ahok, Pak Djarot, dan Pak Anies. Pokoknya mandek terus deh.

Biar begitu pemerintah kayaknya perlu (bangetz) mendengar opini Kawan Muda, terutama mereka yang tinggal di Jabodetabek tapi nyari duit di Jakarta. Langsung aja kita ulas dalam #TanyaKawanMuda berikut ini!

Pogi Irawan – Karyawan BUMN

via: Instagram
(Dok. Pogi)

“Setuju asal gak setengah-setengah..”

Pogi adalah warga Bekasi yang kantornya di daerah Semanggi, Jakarta. Menurutnya ide dari BPTJ dianggap gak masalah selama bener-bener dijalanin. Meski demikian, ada juga perasaan pesimis dari doi karena melihat pemerintah masih setengah-setengah buat mengurangi kemacetan lalu lintas.

“Gue sih gak masalah, asal bener-bener (diterapkan) biar diarahin pada naik angkutan umum aja, walaupun yang gue rasa sekarang belum terasa perubahan semenjak ada pembatasan mobil yang dari arah Bekasi ke Jakarta.”

Gabby – Anak Ahensi

via: Instagram
(Dok.Gabby)

“Harus diimbangi dengan pelaksanaan sistem yang baik.”

Gabby masuk geng Anker (Baca: Anak Kereta ‘Commuter’) buat aktivitas sehari-hari dari rumahnya di daerah Bekasi Timur. Meski punya kendaraan pribadi, doi gak masalah jika aturan mobil pribadi yang masuk Jakarta harus bayar diterapkan.

“Mungkin iya bisa membantu mengurangi kemacetan, cuma harus diimbangi juga dengan pelaksanaan sistem yang baik dan perbaikan atau pengembanga di sistem transportasi publik.” kata cewek satu ini dengan (sok) bijak.

Yurico Iglesias – Account Executive Media Olahraga

via: Instagram
(Dok: Yurico)

“Selama berlaku hari Senin-Jumat.”

Masih gak jauh beda sama Pogi dan Gabby, selama hari kerja Iko ngaku kalo tujuannya cuma rumah-kantor-rumah. Oleh sebab itu wacana mobil harus bayar masuk Jakarta bisa diterima doi selama itu diberlakukan Senin-Jumat.

“Aturannya bagus selagi berlakunya cuma hari Senin-Jumat yah, kalo peraturannya berlaku buat Sabtu-Minggu yah kurang make sense aja, karena Weekend itu waktunya refreshing, orang butuh kendaraan pribadi.” jelasnya.

Selain itu menurutnya banyak kok pekerja di daerah luar Jakarta yang jarang pake mobil pribadi buat ke kantor. “Berangkat juga sendiri dan tujuannya cuma kantor.”

Robi – Graphic Designer

via: Instagram
(Dok. Robi)

“Berdampak baik buat lalu lintas Jakarta.”

Rumah Tangerang kantor di Jakarta. Itulah gambaran rutinitas cowok yang kerja di industri kreatif ini. Karena sejak tahun 2014 udah jarang pake kendaraan pribadi, Robi optimis aja kalo wacana BPTJ bisa berhasil.

“Gue pribadi yang bukan pengemudi mobil aktif, justru aturan itu akan berdampak baik sih buat lalu lintas di Jakarta.” jelas Robi yang baru aja jadi pengantin baru. Asik!

Karina Anandya – Editor Majalah Travel

via: Instagram
(Dok. Karin)

“Bikin public transportation yang aman dan nyaman aja dulu.”

Pekerja di luar Jakarta lainnya adalah Karina Anandya atau yang biasa dipanggil Karin. Beda dengan Kawan Muda sebelumnya, Karin ngerasa jika aturan itu diterapkan gak akan mengurangi kemacetan di Jakarta dan gak adil buat pekerja di luar Jakarta.

“Okelah gue bisa naik taksi online, tapi kalo dia dari daerah Tangerang terus mau ke Jakarta kan harus bayar lagi? Ujungnya si penumpang bayar lebih mahal.” paparnya ke Genmuda.com secara berapi-api.

Meski demikian Karin juga memberikan solusi dari pernyataannya tadi. “Ngurangin kemacetan cuma satu, bikin public transportation yang aman dan nyaman. Tapi masyarakatnya perlu juga dididik buat peduli sama public transportation, udah dibikin malah dirusak kan kesel.” tambah Karin.

“Terus belum lagi kalo (ada opini) Rumahnya di Bekasi suruh cari kerja di Bekasi. ‘Lau pikir gampang tong cari kerja sekarang?’ Mungkin kalo Meikarta udah jadi bisa kali ya mendekatkan dengan tempat kerja. Zzzz” balas Karin untuk komentar nyinyir yang ditujukan buat pekerja di luar Jakarta.

So, berdasarkan pendapat Kawan Muda di atas, bisa ditarik kesimpulan kalo para pekerja di luar Jakarta bisa aja menerima aturan tersebut, selama pemerintah konsen untuk menyediakan transportasi umum yang layak, nyaman, dan tentunya tepat waktu.

via giphy.com

Yah, kalo sekarang pemerintah lagi menciptakan yang ‘layak’ dan yang ‘nyaman’, semoga aja yang tepat waktu bisa direalisasikan. Soalnya penulis percaya jika pepatah, “Lebih baik menunggu 30 menit daripada telat satu menit.” udah gak berlaku untuk kebanyakan orang Indonesia yang lebih suka berangkat di masa-masa injury time. Biar apa? Biar kayak polisi di film India yang datengnya di akhir film. *canda

Oia, kamu sendiri masuk ke pihak yang kontra atau setuju nih? Jangan lupa tulis komentar kamu di bawah ya, siapa tau dibaca langsung sama instansi terkait. Udah gitu aja!

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.