Minggu, 24 Juni 2018

Genmuda – Para “Budak Instagram” malu-maluin. Demi peroleh foto instagrammable, beberapa pengunjung Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) bergaya dengan pose yang berisiko merusak karya-karya master piece Yayoi Kusama.

Pameran bertajuk “Yayoi Kusama: Life Is the Heart of A Rainbow” itu digelar dari 12 Mei sampai 19 September 2018. Sebanyak lebih dari 130 karya seniman Jepang yang namanya melejit antara 1960 hingga 1970-an itu dipajang.

Karya Kusama yang dipamerin berupa lukisan, concept art, seni instalasi, patung, bahkan video curhat mengenai terganggunya kondisi kejiwaan Kusama. Buat para “Budak Instagram” semua itu hanyalah latar selfie.

via teen.co.id
Curhatan penjaga museum akan kelakuan pengunjung yang merusak karya. (Sumber: Istimewa)

Itu terbukti dari postingan-postingan para pengunjung Museum MACAN. Netizen pun ramai ngomongin soal “pelanggaran etika” pengunjung museum hingga pengerusakan karya seni.

Genmuda.com sih gak muluk-muluk. Dari sisi positif, kebiasaan selfie itu ada baiknya karena bikin anak muda tergerak ke museum atau pameran seni. Dari hal sepele itu, pasti ada sebagian yang mendalami pameran kemudian lebih paham tentang seni.

Nah, buat kamu yang pengen banget foto kamu yang berlatar master piece Yayoi Kusama di Museum MACAN keliatan keren tanpa ngerusak karya, begini pose yang harus dan gak harus kamu lakuin.

HARUS DILAKUIN

Tag Instagram Yayoi Kusama

via Istimewa
(Sumber: Istimewa)

Si Mbah Yayoi juga punya Instagram, loh. Jangan lupa tag dan mention @yayoikusamas, ya…

Tag Instagram Museum MACAN

Yup. Biar koleksi foto di akun ig @museumMACAN makin banyak dan tempat yang bikin feed Instagram kamu kece itu makin viral.

Tulis keterangan karyanya

Plis banget. Selfie berlatar karya Yayoi Kusama jangan cuma diberi caption quotes ala-ala bikinan kamu. Tulis minimal judul dan keterangan mengenai karya yang jadi latar selfie kamu pada caption.

Kalo bisa, kasih juga keterangan medium dan makna di balik karya itu. Keterangan penting itu pasti ada di booklet museum atau tertempel di dekat karyanya, kok.

Minta tolong difotoin

Supaya apa? Supaya hasil fotonya maksimal dengan kedua tangan bisa bergaya.

Belajar berpose sebelum ke lokasi

©Genmuda.com/2017 TIM
Ada ratusan teknik dan pose penghasil foto kece tanpa harus ngerusak karya seniman. ©Genmuda.com/2017 TIM

Sumpah ya, gaes. Ada banyak pose keren yang bisa dilakuin untuk peroleh foto terbaik selain duduk di tempat yang engga boleh diduduki atau menyentuh area yang engga boleh disentuh.

Ikuti aturan

Tiap karya Kusama dinikmati dengan cara berbeda. Ada yang bisa disentuh, ditempeli stiker, bahkan diintip. Tapi, ada yang gak boleh dipegang sama sekali oleh apapun, termasuk tas, kain, dan sehelai rambut kamu. Ikuti deh aturan itu biar kamu gak keliatan alaynya.

Antre

Engga usah desak-desak kayak orang pengen naik commuter line, deh. Museum tuh tempat berbudaya. Tunjukin dong kamu punya budaya. Antre!

JANGAN DILAKUIN

Mindahin benda

Seberapapun menggemaskannya, kamu gak boleh memindahkannya satu milimeterpun benda karya Yayoi! Benda di situ kan telah disusun sesuai standar estetika sang seniman.

Kalo kamu pindahin, sama aja kamu menambahkan standar estetika kamu ke sana. Emang kamu siapa? Kurator bukan, panitia juga bukan.

Melewati garis batas

Saat berjalan-jalan di area pameran, coba lihat ke bawah. Di situ ada area pembatas yang gak boleh dilewati. Coba deh patuhi garis batas itu biar kamu gak keliatan alaynya di mata tamu lain.

Kalo tamu lain melanggar batas, kamu punya tiga pilihan. Aduin ke pemandu museum, cuekin pelakunya, atau tarik pelaku kembali ke tempatnya.

Berfoto pakai kilat/flash

via Istimewa
(Sumber: Istimewa)

Selain karena mengganggu pengunjung lain, flash pada ponsel justru bikin hasil foto lebih jelek ketimbang aslinya. Biarkan pencahayaan museum yang jadi penerang foto. Hasilnya pasti artistik.

Duduk di tengah museum

Kalo capek berjalan-jalan, ya melipir ke kantin. Jangan duduk di tengah jalan atau bersandar di karya gemilang Yayoi Kusama. Emangnya itu tiang. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.