Jum'at, 20 September 2019

Genmuda – Kawan Muda pasti pernah lihat di media sosial soal tren remaja, anak muda, hingga orang dewasa mewarnai di buku mewarnai. Saking hebohnya, bahkan ada sejumlah artis Instagram yang membuat pattern buat diwarnai.

Dari tren ini pun ada yang percaya kalo mewarnai mampu redakan stress. Sugesti atau fakta ya? Genmuda.com coba menanyakan beberapa Kawan Muda yang pernah melakukan tren tersebut. “Itu hobi gue dulu sewaktu hamil,” kata Riana, seorang wartawan media cetak nasional. Bagi Riana, mewarnai bisa membawa suasana rileks setelah liputan.

“Biasanya kan gue temperamen banget, ya. Terapi mewarnai bikin lebih adem,” kata wartawan itu, Rabu (25/5). Itu biasa dilakukannya sambil mendengar musik. Doi pun menegaskan, “Mewarnai aja lumayan bikin rileks. Kadang suka gue bawa ke tempat liputan.” Bagi dirinya, mewarnai juga dapat menenangkan perasaannya loh.

Selain Riana, aja juga Kawan Muda bernama, Rury Uswatun, yang mengaku kalo tren ini turut dilakukan oleh orang tuanya. “Nyokap tuh suka beli buku bergambar, mewarnai buat ngilangin stress. Kalau lagi mood bisa-bisa dia ngabisin waktu dua jam buat mewarnainya,” kata Rury.

The Guardian juga sempat menelusuri manfaat mewarnai kepada sejumlah pembaca, pada Agustus 2015. Debra Dettone (52 tahun) bilang, tekanan darahnya normal dan stresnya berkurang setelah mewarnai. “Saya biasa duduk berjam-jam dan mewarnai mandala atau apapun juga. Itu membuat saya santai dan mudah tidur,” kata Dettone.

Paula Meng (52 tahun) dari Florida pun menyatakan hal serupa. Baginya, mewarnai membantunya mengurangi was-was. “Pikiranmu jadi kosong, kecuali fokus dengan yang kau lakukan saat itu,” kata Paula.

Sementara itu, Cari Schofield (38 tahun) dari Georgia yang mulai mewarnai selama tiga bulan kepada The Guardian berkata, “Kalau kau bertanya kepada siapapun yang mewarnai, mereka pasti bilang mewarnai itu punya efek terapi.”

Engga mempan buat semua orang 

(Sumber: brit.co)
(Sumber: brit.co)

Ternyata, efek mewarnai engga mempan buat semua orang, Kawan Muda. Pury Purnama (25 tahun) misalnya, doi yang bekerja di salah satu perusahaan media televisi swasta juga ngerasa mewarnai tuh kurang ada efeknya.

“Perasaan gue sama aja baik setelah atau sebelum mewarnai. Engga ada efeknya,” kata Pury. Gadis itu bilang, doi pernah coba ikut mewarnai karena melihat buku mewarnai yang lucu-lucu. Alasan buat menghilangkan stres sama sekali bukan jadi dorongan utamanya.

“Satu buku mewarnai yang gue beli aja belum terisi penuh semua. Malah, gue merasa tertekan melihat motifnya terlalu banyak dan susah-susah,” pungkas Pury yang cuma bertahan mewarnai rutin selama sebulan.

Bukan terapi, tapi memiliki efek terapi

terapi seni
Membuat sebuah karya seni bisa menjadi terapi untuk menghilangkan stress (Sumber: Republika)

The Guardian pun mengutip kekecewaan Cathy Malchiodi, seorang art therapist terhadap tren mewarnai ini. “Pada 2015, sudah ada riset yang menyatakan tiap orang perlu terlibat dalam kegiatan kreatif. Mewarnai desain buatan orang lain jelas bukan salah satunya,” kata Malchiodi. Baginya, membuat karya original lah yang dapat memperbaiki kesehatan mental seseorang.

CNN juga menuliskan kritiknya pada 6 Januari 2016, lho Kawan Muda. Kordinator Program Terapi di New York University, Marygrace Berberian, mengatakan, “Mewarnai itu sendiri belum bisa disebut sebagai terapi seni [art therapy], sebab terapi yang sesungguhnya menghadirkan interaksi pasien dan therapistnya.”

Meski begitu, sebuah riset pada 2005 membuktikan manfaat mewarnai mandala (lingkaran dengan motif geometri di dalamnya) untuk menurunkan tingkat kegelisahan seseorang. “Mewarnai jelas berpotensi meredakan kegelisahan, menambah fokus, dan kualitas berpikir,” kata Berberian.

Terlepas dari manfaat nyata mewarnai, hal itu sudah terlanjur menjadi tren dan dipercaya menghilangkan stres di beberapa kalangan. Belajar dari kasus Pury, ada baiknya kita engga terlalu berekspetasi tinggi pada buku mewarnai.

Kalau emang mewarnai engga bisa ngilangin stres, Kawan Muda mungkin bisa mendengarkan musik selow, menggambar, memasak, bengong (bukan ngelanjor), atau melakukan apapun yang memancing kreativitas serta membuat perasaan kamu bahagia. Simplenya selalu banyak cara buat ngilangin stres! Selamat mencoba! (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.