Rabu, 22 Januari 2020

Genmuda – “Star Wars: The Rise of Skywalker” jadi film terakhir dari sekuel trilogi terbaru Star Wars. Masih menampilkan sejumlah ‘muka-muka’ lama, film ini sekaligus menjadi penutup perjalan kisah Star Wars yang pertama kali dirilis pada tahun 1977.

Terus apa yang bakal disajikan oleh J.J. Abrams yang kembali dipercayai menjadi sutradara setelah film “The Force Awakens” (2016)? Berikut simak review lengkapnya di bawah. Santai gengs, isinya gak akan mengandung spoiler kok!

Bangkitnya Emperor Palpatine

©LucasFilm/2019

Dalam trailer film ini akhir para fans tau kalo sosok musuh utama Emperor Palpatine (Ian Mcdiarmid), yang telah dibunuh oleh Darth Vader di “Episode VI: Return of Jedi”, gak benar-benar mati. Pemimpin utama Sith yang menggoda para Jedi untuk berpaling ke Sisi Gelap ini ternyata masih hidup dan bersembunyi dalam planet misterius bernama Exogol sekaligus merencanakan serangan terakhir dengan nama “Final Order”.

Exogol sendiri merupakan tempat kaum Sith yang sempat dicari oleh Luke Skywalker (Mark Hamill) sebelum ia meninggal. Keberadaannya tempat misterius ini pun berhasil ditemukan oleh Kylo Ren (Adam Driver). Lewat tipu muslihat dan iming-iming kekuasaan Palpatine dan Kylo pun sepakat berkerjasama untuk membunuh Jedi terakhir, Rey (Daisy Ridley).

Di cerita lain, Rey masih harus menjalani latihannya sebagai Jedi oleh Jendral Leia (mendiang Carrie Fisher) di markas pasukan pemberontak. Walau makin jago menguasai Force tapi jagoan utama film ini masih mengalami konflik pencarian jati diri seperti dua film sebelumnya.

Sementara karakter pembantu lainnya, Finn (John Boyega), Poe Dameron (Oscar Isaac), dan Chewbacca (Joonas Suotamo) berusaha mencuri informasi dari informan yang bekerja di kapal First Order. Pertarungan klimaks dari trilogi ini pun siap mencapai puncaknya!

Campur aduk walau terlihat klise

©LucasFilm/2019

Munculnya karakter lama seperti Emperor Palpatine hingga Lando Calrissian (Billy Dee Williams), boleh dibilang jadi ‘obat kangen’ buat fans trilogi original Star Wars. Tapi nih penulis ngerasa formula kayak gitu jelas gak se-wah saat kita menonton “The Force Awakens”. Mungkin itu semua bisa dimaklumin lantaran jarak antar dua film sebelumnya hanya jeda satu tahun, itu belum termasuk sekuel-sekuel lain kayak “Rogue One” hingga “Solo“.

Kendati demikian jika ngebahas dari segi cerita “The Rise of Skywalker” terbilang padat menjawab semua teka-teki dari film-film sebelumnya, termasuk dari film originalnya. Sejumlah teori fans yang beredar di berbagai media sosial juga ada benar dan meleset. Semua diuraikan secara lengkap oleh J.J. Abrams yang ambil bagian menulis skenario dengan Chris Terrio.

Cerita film ini terbilang kuat, ada sisi humor, action, drama, hingga pesan persahabatan dan semangat yang diwariskan dalam film sebelumnya. Namun demikian penulis ngerasa kalo kesan kuat pada ceritanya malah terlihat diburu-buru, khususnya pada setengah jam terakhir. Unggul dari sisi CGI gak lantas bikin pertarungannya semegah yang dibayangkan oleh banyak orang, malah cenderung kelihatan klise banget.

Kesimpulan

©LucasFilm/2019

Setelah 40 tahun lebih perjalan Star Wars dari era Anakin Skywalker ke Luke Skywalker hingga Ben Skywalker, “The Rise of Skywalker” boleh dibilang menjadi rangkuman atas semuanya. Kendati buat sebagian fans tetap mengeluh-eluhkan trilogi original Star Wars sebagai yang terbaik, tapi semua kembali pada pribadi kalian masing-masing.

Pada intinya film ini terasa nyaman buat dinikmati, meski lo bukan fans berat Star Wars sekalipun. Ada banyak pesan yang ditawarkan bagi penonton. Sebagai penutup trilogi “The Rise of Skywalker” tetap menarik dan cocok menjadi sebuah akhir Saga Star Wars.

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.