Kamis, 15 November 2018

Genmuda – Film “Skyscraper” menyajikan aksi heroik dari aktor berbadan gede, Dwayne Johnson. Setelah meraih kesuksesan pada penonton Indonesia lewat dua film terakhirnya, “Jumanji” dan “Rampage”, The Rock kembali beraksi lewat film bergenre action tersebut.

Memadukan bumbu cerita drama dan sci-fi, film ini kembali mempertemukan Om The Rock dengan sutradara Rawson Marshall Thurber yang pernah bekerjasama untuk film “Central Intelligence”. Selain duduk di bangku sutradara, Rawson juga merangkap sebagai penulis naskahnya.

Punya cerita cukup bagus

©Universal Pictures
©Universal Pictures

Diceritain bahwa Will Sawyer (Dwayne Johnson) adalah seorang mantan pasukan FBI yang kehilangan satu kakinya saat melakukan misi penyelamatan pada satu keluarga. Setelah 10 tahun, Will tetep menjalani hidupnya sebagai seorang pekerja di perusahaan pengamanan gedung-gedung pencakar langit.

Pada suatu hari Will direkomendasikan oleh mantan rekannya di FBI untuk menjadi kepala keamanan di The Pearl, salah satu gedung pencakar langit paling tinggi di dunia yang berada di Hong Kong. Dengan penjelasan teknis nan ribet, gedung ini udah dilengkapi oleh berbagai teknologi dan sistem keamanan paling canggih ciptaan, Zhao Long Ji (Chin Han).

via: Universal Pictures
©Universal Pictures

Gak pake lama, Will kemudian diberikan tugas sebagai kepala keamanan gedung tersebut lewat pemberian akses penuh melalui tablet. Dari situlah nasib buruk menimpa bapak dua anak tersebut. Dirinya dijebak oleh segelintir lawan bisnis Zhao yang sengaja membuat gedung pencakar langit itu terbakar.

Bumbu drama di film ini dilengkapi oleh perjuangan Will yang harus menyelamatkan kedua anak dan istrinya yang terjebak di lantai 98. Masalah kian rumit setelah pihak kepolisian menetapkan Will sebagai tersangka atas kejadian kebakaran dalam The Pearl. Sejak itulah penonton seolah diajak naik roller coaster mengikuti perjuangan Will menyelematkan keluarganya.

Eksekusinya terlalu buru-buru

©Universal Pictures
©Universal Pictures

Sebagai film action “Skyscrapper” sebenarnya punya cerita cukup menarik dengan menjadikan latar gedung canggih yang bisa dibajak mafia, namun amat disayangkan eksekusi filmnya sangat terkesan buru-buru. Penonton seperti enggak dikasih jeda melihat runtutan adegan yang menurut penulis kurang kuat menunjukan sebab-akibatnya. Eksekusi itulah yang berdampak pada dangkalnya setiap aksi yang dilakukan oleh The Rock.

Alih-alih jadi film action keren dengan perpaduan teknologi, “Skyscrapper” justru harus keluar dari logika dan kelihatan ‘ampas’. Masih bisa dimaklumi jika tokoh utamanya digambarin kuat, sakti, pemberani, sampe punya seribu akal menyelesaikan suatu masalah, tapi yang bikin cerita film ini blunder adalah kaitan aksinya dengan teori ilmiah.

Salah satunya digambarin saat Will mampu meloncat, berayun, hingga menghitung jumlah jarak ketinggian dalam hitungan menit. Belum lagi dirinya digambarin mampu menempel di kaca gedung cuma modal lakban (Ya, ini lo gak salah baca kok). Plis man, badan segede The Rock masa bisa nempel pake lakban?

Dan kekonyolan itu makin ajaib lagi karena Will lakuin itu semua hanya dengan menggunakan kaki palsu. Heroik sih, tapi tetep gak masuk sesuai nalar. YAKAN!

Komposisi akting The Rock dengan adegan berbahaya emang kelihatan timpang sebelah. Biarpun masih ada sedikit bantuan efek visual, celetukan jokes ringan, dan bumbu drama keluarga, sejumlah catatan dari penulis yang udah dibahas di atas mungkin tetep gak mampu menolong penilaian film ini.

Kesimpulan

Akting The Rock dalam “Skyscrapper” emang gak lebih baik dari film-film doi sebelumnya, bahkan kharisma yang doi bawain cenderung gitu-gitu aja alias gak berubah. Tapi nih, kalo lo emang fans doi dan suka nonton film action tanpa perlu banyak mikir, film ini masih tetep menarik buat lo tonton. Catet ya, filmnya mulai tayang di Indonesia hari ini, Rabu (11/7).

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.