Jum'at, 20 Juli 2018

Genmuda – Berbagai insiden yang terjadi di SEA Games 2017 bikin gondok-gondokan antara Indonesia dan tuan rumah Malaysia makin panas. Padahal, dua negara pendiri ASEAN itu selalu mengaku satu kawasan, serumpun, dan bersaudara di hadapan dunia internasional.

Kedua negara itu pasti saling sindir, mengklaim kebudayaan, dan bersaing di tiap kesempatan. Namun begitu, warga Malaysia masih sering menikmati festival seru yang berlangsung di Indonesia dan warga Indonesia pergi ke Malaysia untuk berwisata.

Situasinya keliatan mirip banget hubungan gak akur antara kakak-beradik dalam keluarga. Keduanya boleh saling iri, saling klaim baju bagus, atau malah berantem, tapi keduanya terikat satu-sama lain karena berbagai alasan. Bukan cuma karena persamaan darah, tapi juga nasib dan sejarah.

Hubungan love/hate itu gak eksklusif terjadi antar sesama negara Melayu, karena terjadi juga di kawasan lain. Misalnya aja, seperti di bawah ini.

1. Malaysia – Singapura

via says.com
(Sumber: says.com)

Dua negara yang sama-sama dijajah Inggris ini dulunya satu negara yang tergabung dalam Federasi Malaysia loh, gaes. Namun begitu, konflik berkecamuk terus antara dua pemerintahan hingga akhirnya Singapura dikeluarin dan jadi negara mandiri.

Sekarang, tensi dua negara itu bukan lagi politis, melainkan adu gengsi. Misalnya saat Singapura jadi juara Super Liga Malaysia 2013, atau saat pebulutangkis Malaysia, Chong Wei Feng sukses nyuri angka setelah lakuin pukulan tipuan lawan pebulutangkis Singapura, Ashton Chen.

2. Thailand – Kamboja

via ozy.com
Seorang polisi menjaga Kedutaan Thailand dari amuk massa. (Sumber: ozy.com)

Persaudaraan Thailand – Kamboja berasa sejak jaman kerajaan di abad ke tiga belas. Kebudayaan Hindu-Buddha yang masuk ke kerajaan-kerajaan di Thailand pasti salah satunya berasal dari kerajaan-kerajaan di Kamboja. Misalnya aja, konsep “Dewaraja.” Konsep itu dateng ke Thailand dari India kan melalui Kamboja.

Namun begitu, kedua negara ini selalu berselisih mengenai masalah perbatasan. Pada sekitar abad ke 16, Kerajaan Ayutthaya di Thailand berselisih sama Kerajaan Kamboja. Hubungan love/hate itu terus berlangsung hingga sekarang, terutama karena orang Kamboja ngerasa terlalu banyak perusahaan Thailand masuk ke negaranya.

3. Korea Utara – Korea Selatan

via history.com
Foto Perang Korea 1950-1953 (Sumber: History.com)

Konflik Korea Utara-Selatan jauh lebih besar daripada masalah perbatasan. Negara yang tadinya satu itu pecah karena Perang Dunia II. Sejak 1910, Korea dijajah Jepang. Pada 1945, Uni Soviet perang dengan Jepang di wilayah Utara sementara AS dengan Jepang di wilayah Selatan.

Setelah perang usai, pecah pula negara itu layaknya Jerman Barat dan Timur. Masing-masing pemerintah Korea merasa pemerintah mereka lah yang seharusnya memimpin negara kesatuan Korea. Sampai akhirnya, Perang Korea meletus 1950-1953. Kini, tensi antar dua negara masih ada.

4. India – Pakistan

via New York Times
Tentara India berjalan di reruntuhan perang India-Pakistan 1947. (Sumber: New York Times)

Pada masa kerajaan Mogul abad ke 16 – 19 wilayah yang sekarang bernama India dan Pakistan berada di bawah satu pemerintahan raja. Setelah penjajahan Inggris, orang-orang Muslim mendirikan negara Pakistan di bawah Muhammad Ali Jinnah sementara India di bawah pimpinan Jawaharlal Nehru. Namun, siapa yang menyangka kalau dua negara kakak-adik ini kemudian sering perang pada 1947, 1965, 1971, bahkan 1999.

5. Inggris – Republik Irlandia

via thejournal.ie
(Sumber: thejournal.ie)

Hubungan Irlandia – Inggris selalu tegang kecuali beberapa tahun terakhir. Semuanya bermula ketika invasi Inggris ke Irlandia abad ke 12. Warga Irlandia jelas ngerasa itu penjajahan dan ngelawan sampai 1541, ketika Parlemen Irlandia memberikan gelar Raja Irlandia kepada Raja Henry VIII.

Irlandia menyatakan merdeka dari Inggris pada 1916, namun perjuangan berlanjut hingga akhirnya dibuat Undang-Undang 1937, yang menjadikan Irlandia seperti negara yang sekarang kita kenal. (sds)

Comments

comments

Charisma Rahmat Pamungkas
Penulis ala-ala, jurnalis muda, sekaligus content writer yang mengubah segelas susu cokelat hangat menjadi artikel.