Rabu, 11 Desember 2019

Genmuda – Disney kembali merilis film animasi terbaru Frozen. Setelah debutnya berhasil menyabet gelar film animasi paling laris sepanjang masa, kini pihak studio kembali menelurkan cerita musikal yang penuh magis dan tetap musikal.

Genmuda.com berkesempatan mengikuti premier film “Frozen 2” di Indonesia minggu lalu. Kawan Muda penasaran dengan filmnya? Berikut ulasan lengkapnya!

Masa lalu Elsa dan Anna

©Disney/2019

Sebelum masuk ke inti cerita kita bakal diajak sedikit flashback ke masa kecil Elsa dan Anna bersama orang tua mereka. Dikisahkan kalo kakek mereka, Raja Pabbie (Claran Hinds) melakukan perjalanan ke hutan ajaib bersama pangeran Agnarr (Alfred Molina), yang gak lain adalah ayah dari Elsa dan Anna.

Di sana mereka bertemu dengan suku asli hutan ajaib bernama, Northuldra. Untuk bertahan hidup di sana mereka menggunakan keempat elemen roh yang ada di dalam hutan, yaitu air, api, tanah, dan angin.

Terus nih, sebagai simbol perdamaian kedua wilayah Raja Pabbie membangun bendungan untuk menghubungkan rakyat Arandelle dengan suku Northuldra. Namun niat baik itu gak berlangsung lama. Para roh di dalam hutan mendadak marah dan menutup seluruh akses dalam hutan dengan kabut tebal sehingga gak ada orang yang bisa masuk maupun keluar dari hutan tersebut.

Puluhan tahun cerita itu berlalu, kini cerita berlanjut pada tiga tahun setelah kejadian di film pertama “Frozen”. Dikisahkan Elsa (Idina Menzel) kini telah menjadi seorang ratu bijaksana. Bersama adiknya, Anna (Kristen Bell), mereka memimpin kerjaaan Arandelle yang kini hidup lebih sejahtera.

Namun suatu hari Elsa mendengar suara misterius dalam kepalanya. Sebuah kejadian aneh juga harus dialami oleh kerajaan Arandelle hingga mereka harus mengungsi keluar kerajaan. Elsa percaya bahwa kejadian aneh di Arandelle berkaitan dengan kisah masa lalu yang dialami oleh keluarga mereka.

Dengan bantuan Anna dan pacarnya, Kristoff (Jonathan Groff), bersama Olaf (Josh Gad) si boneka salju dan Sven si rusa kutub, mereka kemudian berusaha masuk ke hutan ajaib dan mencari jawaban dari misteri tersebut.

Lebih bertualang walau ‘agak maksa’ jadi musikal

©Disney/2019

Premis ceritanya mungkin terbilang sederhana dan bisa diterima oleh siapa aja, termasuk buat fans garis lucu keras yang memiliki banyak teori dari asal-usul keluarga Anna dan Elsa. Disney juga terlihat lebih mengeksplorasi hubungan kakak-adik ini lebih dalam ketimbang film pertamanya.

Dalam segi pengembangan cerita penulis sih merasa nyaman dengan petualangan yang disajikan di film kedua Frozen. Namun untuk segi pengembangan karakter praktis cuma Olaf dan Kristoff yang lebih kelihatan dominan. Sang boneka salju masih tetap konyol dan jenaka, namun tetap bisa menjadi seorang yang bijak di saat yang genting. Sedangkan Kristoff tampil sebagai cowok yang kikuk dan susah buat mengatakan perasaannya ke Anna.

Tema petualangan “Frozen II” emang terasa seru dinikmati, belum lagi Disney menaikan level efek animasi pada sihir Elsa sehingga kesan cantik dan keren dari ratu es ini sulit tergantikan. Namun demikian, bukan berarti film ini berjalan mulus gengs. Dengan momok kesuksesan besar lagu “Let it Go”, Chris Buck dan Jeniffer Lee sebagai sutradara malah kelihatan ‘maksain’ sejumlah adegan di film ini menjadi musikal.

Meski Disney terkenal jago bikin film musikal, namun lagu-lagu film kedua Frozen terasa kurang bisa menyampaikan perasaan emosional dari Elsa atau Anna seperti halnya di lagu “Let it Go” atau “Do You Wanna Build a Snowman”. Sebagai konsekuensi kekurangan tersebut gak heran kalo kemudian Kristoff ambil bagian dengan lagu “Lots in The Woods” yang dikemas agak konyol lengkap dengan aransemen lagu patah hati mirip Air Supply dan perpaduan komedi layaknya cover album “Bohemian Rhapsody”-nya Queen.

Kesimpulan

©Disney/2019

Sebagai suksesor film pertama, “Frozen II” masih terasa kental dengan nuansa musikal dengan lebih bertualang. Sayangnya, penempatan elemen musikal yang sedikit maksa bikin filmnya terasa ‘dipanjang-panjangin’.

Secara keseluruhan penulis merasa film ini mampu menghibur banyak penonton. Elsa dan Anna masih menjual nilai-nilai pengorbanan serta kebersamaan kakak-adik yang layak menyimpan banyak pesan. Tetap menarik, namun emang belum bisa sememorial debutnya.

(sds)

Comments

comments