Minggu, 22 September 2019

Genmuda – Film animasi Disney paling ikonik ‘The Lion King’ kembali didaurulang ke dalam versi live-action. Hampir 19 tahun berlalu kisah Simba selalu membekas di hati para penggemarnya. Sederet penghargaan bergensi berhasil Roger Allers dan Rob Minkoff dapatkan saat itu, bahkan pada masanya film ini berhasil mendapatkan predikat film animasi paling laris di dunia.

Setelah “Aladdin”, maka di bulan ini Disney mengajak fans “The Lion King” untuk bernostalgia lewat versi live-action. Nama Jon Favreau kembali didampuk sebagai sutradara setelah keberhasilan film “The Jungle Book” (2016). Lantas apa sih yang jadi daya tarik dari film live-action dengan CGI fotorealistik ini? Nih, langsung simak review lengkapnya dari bawah!

Cerita ‘sedikit’ dipoles dengan visual cantik

©Disney/2019

Kawan Muda yang udah khatam nonton versi aslinya pasti udah hafal betul dengan ceritanya. Favreau kembali mengemas intro ikonik “The Lion King” lewat lagu “The Circle of Life”. Di sini penonton seperti ajak nostalgia sama pemandangan epik di Pridelands. Bedanya, kalo dulu yang dilihat adalah gambar dua dimensi maka sekarang yang kamu lihat adalah satwa-satwa hasil fotorealistik. Mulai dari adegan matahari terbit hingga diperkenalkannya Simba (JD McCrary) oleh Rafiki (John Kani) berhasil membuat bulu kuduk penulis berdiri.

JSYK, diceritain bahwa Simba adalah pewaris tahta dari Mufasa (James Earl Jones). Akan tetapi Scar (Chiwetel Eijofor) yang merupakan adik Mufasa sekaligus paman Simba, mempunyai banyak siasat licik untuk merebut tahta tersebut. Mufasa mati dan Simba meninggalkan Pridelands, sehingga Scar naik tahta.

Dalam pelariannya, Simba akhirnya bertemu dengan seekor babi hutan bernama Pumba (Seth Rogen) dan seekor meerkat bernama Timon (Billy Eichner). Seiring berjalannya waktu Simba (Donald Glover) beranjak dewasa dan harus berani menghadapi kenyataan sebagai raja di Pridelands.

Berbeda dengan “Aladdin” yang punya banyak pengembangan cerita dan isu-isu kekinian, cerita live-action “The Lion King” terasa dipoles sedikit pada aransemen musik dan tentunya visual. Hal inilah yang mungkin buat sebagian orang bisa jadi plus-minus.

Apa plus-minusnya?

©Disney/2019

Mengingat durasinya yang lebih panjang ketimbang versi asli gak heran kalo improvisasi penambahan adegan, lagu, dan dialog terpaksa dilakukan oleh Favreau. Sayangnya hal tersebut bikin filmnya berjalan cukup lambat dan lumayan membosankan bagi penulis. Sayang aja formula live-action Disney kali ini terasa kurang menyampaikan pesan emosional dari versi animasinya.

Salah satu alasan utamanya yakni tokoh di dalamnya cuma hewan. Jika dibandingkan dengan “The Jungle Book”, penonton masih bisa terbantu karena masih ada kehadiran Mowgli yang ekspresinya bisa penonton lihat langsung. Namun lenturnya tarian para hewan hingga ekpresi mereka di film animasi jelas gak akan bisa digantikan lewat teknologi apapun. Hasilnya kamu malah seperti menonton film dokumenter satwa liar yang didubbing dan punya jalan cerita aja.

Namun demikian filmnya menyimpan catatan positif dari segi soundtrack dan aransemen lagu yang lebih kekinian. Sumbangan suara Beyonce di lagu “Spirit” turut memberikan sajian yang lebih fresh. Minimnya ekspresi para binatang masih terbantu lewat dialog jenaka antara Pumba-Timon dan Azizi-Kamari.

Kesimpulan

©Disney/2019

“The Lion King” versi live-action cukup berhasil menawarkan visual cantik dan lagu-lagu epik khas film Disney. Meski dalam segi emosi jalan ceritanya gak se-ngena film animasi tapi film ini bisa jadi obat nostalgia buat kamu yang kangen sama Simba dan kawan-kawannya.

Di Indonesia “The Lion King” udah bisa Kawan Muda tonton mulai tanggal 17 Juli 2019. Kalo kamu udah ada yang nonton jangan lupa juga kasih komentar di bawah ya.

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.