Kamis, 22 Agustus 2019

Genmuda – Mengambil latar cerita setelah “The Fate of the Furious” Kawan Muda bakal diajak masuk ke kehidupan Luke Hobbs (Dwayne Johnson) dan Deckard Shaw (Jason Statham). Ya mereka berdua lah yang bakal kalian tonton di film ini, bukan Dominic Torretto (Vin Diesel) dan gengnya.

Disutradarai oleh David Leitch, perbedaan jauh karakter Hobbs dan Shaw di jagat “Fast and Furious” inilah yang memberikan cerita segar buat penonton. Berikut review lengkapnya, gengs!

Ancaman virus dan manusia super

©Universal Pictures/2019
©Universal Pictures/2019

Tanpa basa-basi film ini dibuka oleh adegan baku hantam antara agen MI6 di London dengan mafia asal Rusia yang ingin mengembangkan virus berbahaya sebagai senjata biologis. Pemimpin operasi MI6, Hattie Shaw (Vanessa Kirby), terpaksa menyuntikan virus tersebut sebelum diambil oleh penjahat super bernama Brixton (Idris Elba).

Layaknya Terminator, Brixton memiliki kemampuan menganalisa pergerakan lawan dan memperlajari segala kemungkinan yang terjadi dalam sebuah pertarungan. Namun demikian Hattie berhasil melarikan diri, sedangkan Brixton sengaja membuat berita hoax ke penjuru dunia bahwa Hattie lah pihak yang paling bertanggung jawab atas tewasnya tim MI6 dan membawa kabur virus tersebut.

Kasus ini bikin CIA dan MI6 harus bekerjasama memburu Hattie. Kedua badan intelejen itu lantas mengutus orang kepercayaan mereka yakni, Hobbs dan Shaw. Seperti yang bisa lo tebak, kedua jagoan berkepala plontos itu sama-sama punya gaya dan kepribadian berbeda.

Hobbs merupakan seorang family man dan tipe penegak keadilan yang gak pandang bulu. Sedangkan Shaw merupakan mantan militer Inggris yang lebih memilih hidup bebas, flamboyan, dan gak pengen diatur oleh siapapun.

Bagaikan air dan api, keduanya susah banget buat akur. Dengan caranya masing-masing mereka berdua akhirnya berhasil menemukan Hattie. Akan tetapi masalahnya gak segampang itu gengs, dengan kecanggihan senjata dan teknologi, Brixton kembali bikin berita hoax yang mengatakan Hobbs dan Shaw bekerjasama dengan Hattie untuk mencuri virus incarannya. Tanpa dukungan dari MI6 dan CIA, ketiga berusaha mencari cara untuk mengeluarkan virus dari tubuh Hattie sekaligus cara mengalahkan Brixton.

Formula yang gak jauh beda

©Universal Pictures/2019
©Universal Pictures/2019

Selain menjadi aktor dan produser untuk film ini, duet Om The Rock dan Om Statham sebenernya masih menggunakan formula yang sama dari film-film ‘Fast and Furious’ dimana premisnya, “pertama-tama jagoannya kalah, terus bisa bangkit lagi”.

Umumnya film-film The Rock, gak sedikit pula adegan yang dibikin lebay dan susah diterima sama nalar penonton. Sedangkan porsi kejar-kejaran dengan kendaraan canggih khas film “Fast and Furious” bisa dibilang agak sedikit berkurang. Sisanya lebih didominasi oleh aksi adu jotos dan tembak-tembakan.

Walau begitu, jokes dan kemunculan beberapa aktor papan atas di film ini berhasil bikin filmnya terasa fresh dan santai, bahkan memungkinkan untuk melahirkan sekuel selanjutnya. Nilai-nilai persahabatan dan kekeluargaannya juga masih bisa lo rasain hingga akhir film. Dukungan soundtrack dan efek CGI untuk film ini juga layak diacungi jempol karena mampu membangun jalan cerita supaya lebih ngena buat penonton.

Kesimpulan

©Universal Pictures/2019
©Universal Pictures/2019

Pada akhirnya penulis cuma bisa bilang bahwa sekuel ini punya cerita dan konflik yang gak jauh beda sama film-film “Fast and Furious”. Bedanya “Hobbs dan Shaw” berhasil menyampaikan pesan secara lebih segar dan jenaka.

Catatan positif yang bisa lo dapetin dari film ini adalah, “Sejahat atau seberapa jauhnya lo dari keluarga, mereka akan tetap menjadi pihak yang paling bisa lo percaya.” Di Indonesia filmnya mulai tayang pada 31 Juli 2019. Penasaran? Tonton dulu aja trailernya di bawah ini!

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.