Rabu, 13 November 2019

Genmuda – “The Shining” menjadi salah satu karya novel Stephen King yang diterbitkan pada tahun 1977. Tiga tahun setelahnya novel tersebut diadaptasi dalam bentuk film oleh sutradara Stanley Kubrick. Kesuksesan novel dan filmnya kemudian bikin Stephen menelurkan novel lanjutannya yang berjudul “Doctor Sleep” pada tahun 2012.

Nah, sekarang cerita “Doctor Sleep” yang kembali diadaptasi dalam layar lebar. Sutradaranya, Mike Flanagan, ikut terjun sebagai penulis skenario guna mengembangkan ceritanya supaya lebih menarik. Kawan Muda penasaran? Simak dulu review tengah pekan berikut ini!

Kehidupan seorang indigo

©WarnerBors/2019

Setelah kejadian menyeramkan di Hotel Overlook, Danny kecil diketahui punya kekuatan sebagai seorang indigo yang disebut sebagai ‘the shining‘. Lewat the shining inilah ia selalu dapat melihat banyak hantu yang menjadi mimpi buruk baginya. Ia kemudian mampu melawan rasa takut dengan mengurung para hantu dalam pikirannya.

Seiring beranjak dewasa Danny (Evan McGregor) terus berusaha menyembunyikan the shining dalam dirinya. Namun bukannya berkurang, ia jutru semakin bisa mendengar suara para the shining lainnya, masuk ke dalam pikiran seseorang, hingga memprediksi banyak hal di luar akal manusia.

Di satu sisi kemampuan para The Shining ternyata menjadi buruan para The True Knot, sekelompok sekte yang berusaha mengambil kekuatan shining dengan membunuh korbannya sebagai syarat hidup abadi. Lewat pemimpinnya Rose The Hat (Rebecca Ferguson), mereka terus berusaha mencari keberadaan para shining yang mayoritas adalah anak-anak.

Aksi The True Knot ternyata diketahui oleh Abra Stone (Kyliegh Curran), seorang anak dengan kekuatan shining yang bisa menerawang keberadaan para shining dari jarak jauh. Jika Profesor Xavier “X-Men” bisa melacak para mutan dan masuk ke dalam pikirannya, Abra juga dapat melakukannya dengan para shining, termasuk Danny.

Menariknya perkenalan Abra dan Danny terjadi dalam ‘lintas telepati’ sesama cenayang. Alih-alih berteman, kekuatan mereka justru mengundang kehadiran anggota The True Knot yang berusaha memburu keduanya. Mampukah Abra dan Dannya selamat? Jawabannya bisa lo tonton sendiri nanti!

Meski berjalan lambat tapi tetep seru!

©WarnerBors/2019

Perjalanan cerita dari The True Knot, Danny, hingga ke Abra bisa dibilang berlangsung cukup lambat. Dengan durasi dua setengah jam, penonton seperti diajak masuk ke dalam wahana rumah hantu. Menariknya, meski tau gimmick-nya bakal kayak gimana, tapi tetep aja efek sound dan scoring filmnya bisa bikin jantung lo copot.

Biarpun agak susah menafsirkan apa yang dirasain sama anak indigo, tapi eksekusi “Doctor Sleep” cukup pas menggambarkan itu semua kepada orang awam sekalipun, dan pastinya gak ecek-ecek. Sejumlah tokoh ikonik dari film “The Shining” juga kembali muncul dalam ceritanya dengan sentuhan efek CGI.

Kesimpulan

©WarnerBors/2019

Secara keseluruhan film “Doctor Sleep” terbilang berhasil menggabungkan banyak elemen menarik. Mulai dari cerita yang gak monoton dan tetap seru buat dinikmati, serta perpaduan scoring film yang khas dari film “The Shining” yang berhasil memacu adrenalin lo selama menonton.

Tapi ada juga yang kurang dari film ini, gengs. Buat lo yang belum pernah menonton film “The Shining” mungkin agak sedikit bertanya-tanya dengan beberapa adegan dan tokoh di film “Doctor Sleep”. Oleh sebab itu biar jalan ceritanya lebih berasa, penulis menyarankan lo buat menonton atau minimal membaca review atau sinopsis ceritanya.

Terlepas dari itu semua, buat penulis “Doctor Sleep” mungkin masih satu tingkat lebih baik ketimbang “IT: Chapter 2”. Di Indonesia film ini tayang mulai hari ini, Rabu 6 November 2019. Berikut cuplikan trailernya!

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.