Rabu, 23 Oktober 2019

Genmuda – Di antara Kawan Muda pasti familiar dengan manga lawas berjudul “City Hunter”? Yup, kisah detektif jenaka yang selalu dikelilingi oleh cewek cantik ini emang cukup populer di Indonesia.

Terbit sejak tahun 1985 manga karangan Tsukasa Hojo ini juga telah diangkat dalam serial anime sejak tahun 1987 sampai 1999. Hampir 20 tahun berlalu sekarang lo bakal disajikan lagi oleh aksi Ryo Seiba dan Kaori Makimura.

Penasaran? Langsung baca aja review lengkapnya berikut ini!

Cewek cantik dan perang teknologi

©EncoreFilm/2019

Identik sama cewek-cewek seksi dan cantik kali ini Ryo dan Kaori harus menangani kasus dari kliennya bernama Ai Shindo. Awal film diceritakan bahwa belakangan kehidupan Ai sebagai model mulai terganggu lantaran sering dikuntit oleh orang gak dikenal. Alih-alih pengen melindungi Ai, Ryo justru semangat membantu kliennya, apalagi ia punya kesempatan buat masuk ke ruang ganti model di studio foto, –yang pasti udah bisa lo tebak arahnya ke mana.

Di sisi lain perusahana foto tempat Ai bekerja adalah milik pengusaha tampan dan tajir melintir, Shinji Mikuini, yang nggak lain adalah teman kecil Kaori. Konflik kecil mulai terjadi antara Ryo dan Kaori. Sementara Ai mulai mengetahui penyebab dirinya dikejar-kejar oleh penjahat karena ada hubungannya dengan pekerjaan sang ayah yang merupakan seorang dokter.

Cerita makin rumit setelah Umibozu dan Miki mulai mengendus adanya peran serta tentara bayaran untuk memicu perang teknologi dengan target utama Ai. Belum lagi Saeko Nogami dari departemen kepolisian mengetahui bahwa kasus besar ini turut melibatkan mafia perang bernama, Vince Ingrado.

Formula sama dengan polesan modern

©EncoreFilm/2019

Kalo lo ngikutin film-film ‘City Hunter’ bisa dibilang kemasan ceritanya gak jauh berbeda. Plot klasik seperti kejar-kejaran dan tembak-tembakan di jalan raya menjadi hal yang gak luput pada intro film ini. Bedanya jelas pada peningkatan teknologi gambar buat mendukung aksinya biar lebih keren.

Ide serangan teror dengan teknologi yang disusun di awal cerita juga terasa hambar menjelang akhir. Penonton mungkin bisa dibuat kagum sama konflik yang ditawarkan di awal, tapi dalam ekskusinya si detektif playboy berhasil mengatasinya dengan logika yang sangat sederhana.

Biarpun kemasan gambarnya dibuat modern sayangnya itu gak berlaku dengan pengembangan karakter, jokes, dan kostum yang digambarkan pada semua tokohnya. Dapat dipahami sih kalo film garapan Kenji Kodama ini berusaha mempertahankan cerita aslinya, namun lucu aja dong saat latar dan isu yang diangkat lebih kekinian, tapi masa karakternya masih gitu-gitu doang?

Kesimpulan

©EncoreFilm/2019

Secara keseluruhan film ini sebenarnya punya cerita yang kurang kuat dan gampang ditebak. Terlepas jalan ceritanya juga gak jauh-jauh dari hubungan percintaan Ryo dan Kaori, untungnya lo gak bakal dibuat larut sama adegan yang ‘menye-menye’. Sebaliknya tokoh Ai lah yang justru bisa menjadi side-kick yang lebih paten ketimbang Kaori di film ini.

Old but Gold, film ini juga menyelipkan banyak soundtrack dari serial “City Hunter”. Sebagai film solo, keseluruhan ceritanya mungkin layak dijadikan momen nostalgia untuk mengingat semua karakter ikonik City Hunter yang gak pernah menua.

At least but not least, “Shinjuku Private Eyes” layak menjadi obat kangen buat lo akan aksi dan percintaan Ryo Seiba. Di Indonesia filmnya mulai tayang pada 2 Oktober 2019 di CGV. Berikut cuplikan trailernya!

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.