Jum'at, 20 September 2019

Genmuda – Chucky menjadi boneka paling menakutkan yang pernah diangkat dalam film layar lebar. Memulai debut dalam film “Child’s Play” di tahun 1988, kini sekuel tersebut kembali didaur ulang oleh sutradara Lars Kelvberg.

Meski secara garis besar ceritanya gak jauh beda dari versi karangan Don Mancini 31 tahun silam, namun Tyler Burton mengemas film reboot ini sesuai kemajuan zaman dan dapat diterima nalar. Kawan Muda penasaran? Nih, langsung aja simak review lengkapnya di bawah!

Boneka dengan program cacat

©Orion Pictures/2019
©Orion Pictures/2019

Bila di film Chucky sebelumnya gak jauh-jauh dari boneka voodoo yang dirasuki arwah pembunuh berantai, maka pada versi reboot-nya diceritakan kalo Chucky awalnya adalah boneka asisten rumah tangga bernama Buddi. Boneka ini dibekali oleh AI (Kecerdasan Buatan) untuk melakukan banyak perkerjaan rumah tangga dan tersinkronisasi oleh perintah suara lewat smartphone.

Namun dalam proses pembuatannya seorang pegawai pabrik sengaja menyabotase program salah satu boneka Buddi. Hasilnya boneka cacat inilah yang menyebar teror bagi banyak orang setelah diambil oleh Karen (Aubrey Plaza) sebagai kado ulang tahun bagi anaknya, Andy Barclay (Gabriel Bateman).

Andy lantas memberi nama Chucky (Mark Hamill) untuk bonekanya. Meski Karen dan Andy sempat ngerasa ada yang aneh tapi keduanya malah masa bodo dan tetap mengaktifkan boneka cacat tersebut.

Program Chucky mulai mempelajari hal-hal di sekitarnya. Mulai dari belajar mencintai Andy sebagai sahabatnya, hingga berubah di luar batas ketika ngelihat Andy dalam masalah. Chucky yang tadinya boneka rumah tangga sekarang malah berubah jadi boneka pencabut nyawa.

Kurang sadis dan berjalan lambat

©Orion Pictures/2019
©Orion Pictures/2019

Tanpa bermaksud spoiler, Kawan Muda pasti udah hapal betul jika film Chucky selalu identik menampilkan adegan sadis untuk usia 17 tahun ke atas. Pun halnya pada seri rebootnya kali ini. Bedanya cerita yang dikemas lebih kekinian ini justru terasa kurang sadis, bahkan alurnya cukup lambat.

Awalnya pembangunan cerita film “Child’s Play” cukup menarik buat diikutin lantaran ide boneka yang bisa terkoneksi dengan berbagai peralatan pintar sangat dekat dengan kehidupan kita sekarang. Sayang aja embel-embel teknologi kekinian itu jadi blunder oleh plot bodoh yang kurang masuk masuk akal.

Lucu aja dong, ada boneka setinggi nyaris satu meter tapi gak terlihat oleh mata telanjang. Belum lagi dalam satu adegan kematian dikemas konyol tanpa memandang latar atau kemajuan zaman. Let’s say kamu melihat tabrakan dalam parkiran di tengah kota, masa iya engga ada yang nolongin? Padahal kondisinya masih ramai, loh.

Terlepas dari formula film thriller konyol lawas, satu alasan kenapa film ini kurang greget adalah pengembangan cerita yang berjalan lambat dan penggambaran boneka Chucky yang sedikit kaku ketimbang seri-seri sebelumnya.

Kesimpulan

©Orion Pictures/2019
©Orion Pictures/2019

Secara keseluruhan Genmuda.com bisa kasih nilai 2,5/5 untuk film “Child’s Play”. Terlepas penilaian tersebut penulis ngerasa film ini masih cukup menghibur berkat peran Mark Hamill sebagai pengisi suara Chucky. Ia sukses menawarkan kesan sadis dan memancing emosi dari seorang anak kecil.

Catatan positif selanjutnya ada pada dukungan scoring khas lagu anak-anak yang ikut mendukung kengerian Chucky dalam menoror korbannya. Premisnya simpel, tapi sebagaimana film Chucky kamu gak terlalu nemuin banyak hal baru.

Di Amerika Serikat film ini udah tayang sejak bulan Juni lalu, namun di Indonesia filmnya baru mulai tayang pada minggu pertama Juli 2019. Kawan Muda masih penasaran? Nih, tonton dulu trailernya!

Comments

comments

Saliki Dwi Saputra
Penulis dan tukang gambar.